Researcher
3 bulan lalu · 123 view · 5 min baca menit baca · Perempuan 32944_67328.jpg
The Conversation

Wajah Baru Perempuan Madura Kini

Sebelum tahun 2000, adalah langka seorang anak perempuan Madura bisa mengakses pendidikan hingga ke bangku kuliah. Saya tidak mengatakan itu mayoritas perempuan Madura, tetapi pengalaman saya hidup di kampung ujung timur pulau Madura berbicara demikian.

Saya tidak men-judge tradisi pernikahan di Madura sebagai sesuatu hal yang ”menakutkan”, tetapi tulisan ini hanya sebagian kecil pengalaman hidup perempuan Madura, terutama penulis sendiri.  

Masih lekat di ingatan, hampir saya tidak menemukan anak perempuan yang berpendidikan tinggi hingga gelar sarjana. Kalaupun ada, itu adalah anak-anak perempuan dari kelas ekonomi menengah ke atas, dan itu mungkin hanya seribu banding satu.

Adalah tradisi turun-temurun dari nenek moyang orang Madura, anak perempuan Madura dipertunangkan ketika masih anak belia, masih sekolah di bangku sekolah dasar atau Madrasah Tsanawiyah (SMP), ketika mereka belum paham apa arti cinta dan keluarga. Bahkan ada beberapa kasus yang dijodohkan ketika sama-sama masih dalam kandungan.

Biasanya calon mempelai laki-laki adalah keluarga sendiri, baik dekat maupun jauh, seperti sepupu, dua sepupu, atau paman sepupu. Juga ada yang rumahnya saling berhadapan, berjarak beberapa rumah ke kanan atau kekiri, atau pernikahan anak antarkampung. Intinya, calon mempelai laki-laki dan perempuan masih memiliki pertalian darah atau sekufu.

Argumentasi budaya dan ketakutan akan harta warisan selalu menjadi alasan orang tua. Pernah saya bertanya, "Mengapa menikahnya harus dengan keluarga?" Jawabannya adalah agar anak perempuannya tidak hilang diambil orang, atau agar harta warisan yang jatuh tidak diambil anak orang lain, atau agar jelas garis keturunan anak-anak, atau agar keluarga makin dekat, dan lain sebagainya.  

Lucu memang! Tetapi begitulah tradisi leluhur kami.

Setelah bertunangan beberapa tahun, pernikahan akan dilaksanakan setelah anak tamat sekolah dasar, atau paling tidak tamat Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs/SLTP). Itu artinya, usia anak perempuan sekitar 15-16 tahun. Masih dikatakan usia anak, bukan?


Satu hal yang unik, orang tua anak perempuan Madura biasanya lebih percaya kepada pendidikan anak perempuanya kepada pendidikan agama di Pondok Pesantren Salaf yang berkutat pada kitab kuning, misal Sullam Safinah (yang berisi tentang tuntunan hidup dan fiqh sehari-hari madhab Imam Syafi’ie).

Dulu, jarang sekali ditemukan anak perempuan yang bisa mengenyam pendidikan hingga Madrasah Aliyah (SMA/MA/SLTA). Kalaupun ada, itu hanya sedikit dibandingkan dengan mereka yang menikah sebelum sekolah SMA.

Di samping itu, adalah ketabuan tradisi jika ada anak perempuan Madura yang berumur hingga 15 tahun belum dipersunting oleh lelaki, apalagi belum menikah. Jika itu terjadi, maka keluarga akan menanggung ”aib” karena anak perempuannya akan dicap (legitimasi sosial) oleh masyarakat sebagai perempuan yang ”tidak laku”.

Di pulau kami di Madura, menikah adalah elemen fundamental terpenting setelah agama. Agar label jelek (streotip dan labeling) itu tidak disandang oleh keluarga perempuan, maka tak heran jika kita mendengar cerita perempuan-perempuan Madura era dulu banyak yang menikah karena motif paksaan atau kehendak dari orang tua. Mereka menikah bukan karena cinta kepada calon suaminya.

Ironisnya, ada orang tua yang beranggapan bahwa "Untuk apa anak perempuan sekolah tinggi? Toh nanti larinya ke dapur juga." Atau ada juga yang beranggapan, "Perempuan itu cukup paham terhadap isi kitab sullam safinah sebagai bekal hidup perempuan." Ironi sekali, bukan?

Anggapan orang tua yang demikian masih mengakar kuat hingga saya dewasa. Banyak perempuan yang sebaya, ketika lulus Sekolah Dasar, langsung menikah. Kalaupun ada yang beruntung hingga tamat Madrasah Tsanawiyah (MTs/SMP) tetapi setelah itu langsung menikah. Setelah mereka menikah, pekerjaannya adalah menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anak dan melayani suami. Bisa dibayangkan, bukan?

Tetapi seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, tradisi perkawinan di Madura lambat laun mulai memudar. Transisi perubahan budaya tersebut, menurut penulis, bisa dilihat pasca Suramadu diresmikan pada tahun 2009 oleh Presiden SBY dengan tujuan untuk pembangunan Madura dari segala sektor, khususnya sektor ekonomi, budaya, dan pendidikan.

Faktor kecanggihan teknologi komunikasi dan media massa, baik melalui koran, majalah, TV, maupun internet, memberikan dampak kepada banyak perempuan Madura mengalami mobilisasi besar-besaran untuk tidak dikatakan semuanya. Perubahan wajah perempuan Madura bisa dilihat dari pendidikan dan sosial ekonomi.

Pendidikan

Era sekarang, adalah pemandangan yang biasa yang bisa kita lihat di pinggir jalan, jika jam-jam berangkat pulang sekolah, anak-anak perempuan yang ikut sekolah seperti layaknya anak laki-laki. Bahkan lebih dari itu, pendidikan mereka tidak hanya berhenti di bangku SMA/MA/SMK, tetapi hingga ke bangku kuliah, S1/S2. 


Penyetaraan pendidikan tersebut tidak hanya dirasakan oleh anak orang kaya saja, tetapi anak dari keluarga miskin pun bisa juga mengenyam pendidikan hingga jenjang magister.

Lambat laun, pola pikir dan stigma orang tua terhadap anak perempuan Madura sekarang mulai berubah ke arah kemajuan (progresif). Sehingga orang tua tidak lagi "memaksakan" kehendaknya untuk menikahkan anaknya seperti yang diinginkan, melainkan memberikan kesempatan kepada anak untuk menempuh sekolah seusia dengan kadar kemampuan orang tua, baik hingga sekolah SMA atau hingga ke jenjang sarjana.

Pondok pesantren juga tidak kalah ikut mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan zaman. Jika era sebelum tahun 2000, sedikit pondok pesantren yang membuka pendidikan formal untuk para santrinya, tetapi sekarang hampir pondok pesantren yang tidak membuka sekolah formal tidak "laku" di pasaran. 

Bak jamur di musim penghujan, para kiai Madura berlomba-lomba membuka lembaga pendidikan formal di bawah yayasan pondok pesantren dengan bermacam tipe sekolah, mulai dari sekolah SMA swasta, Madrasah Aliyah Keagamaan, hingga sekolah kejuruan seperti SMK.

Perubahan minat pendidikan yang drastis kemudian berimbas kepada pola paradigma masyarakat Madura tentang urgensi pendidikan untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Bahwa pendidikan adalah kunci agar hidup tidak tergilas oleh zaman. Meski kita masih melihat kasus pernikahan anak di Madura, tetapi kondisi tersebut sudah lebih "baik" ketimbang era dulu. 

Sosial dan Ekonomi  

Dampak dari meratanya pendidikan bagi anak Madura, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pelosok desa, juga berdampak terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Madura, khususnya perempuan.

Seperti yang penulis lihat, tidak sedikit perempuan Madura yang memiliki profesi beragam, seperti menjadi guru dari semua jenjang sekolah, menjadi bidan dan perawat, dan berbagai lini profesi lainnya sesuai dengan ijazah sarjana yang dimiliki.

Begitupun dengan organisasi-organisasi, baik di tingkat desa, kecamatan, maupun Kabupaten, seperti Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Muslimatan Nahdlatul Ulama’ (NU), Fatayat NU, IPPNU (Ikatan Pemuda Putri Nahdlatul Ulama’), dan organisasi pemberdayaan perempuan lainnya, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) khusus perempuan.

Di samping itu, sebagian orang tua juga tidak memaksakan kehendak menikah kepada anak perempuannya dengan laki-laki yang masih ada ikatan keluarga dekat maupun jauh. Dengan kata lain, orang tua mulai memberikan "kebebasan" memilih menikah dengan laki-laki pilihan anak perempuannya sendiri.


Seperti yang penulis lihat, tidak sedikit perempuan Madura yang menemukan jodohnya di bangku sekolah atau kuliah atau di tempat kerja yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali, bahkan berbeda suku, bahasa, dan budaya.  

Melihat kondisi perempuan dahulu era 90-an dibandingkan dengan kondisi perempuan tahun 2013 sekarang, jauh sangat maju. Dari sini dapat saya simpulkan bahwa perempuan Madura berbeda dengan perempuan Madura dahulu. Perempuan Madura kini mengalami kemajuan pola pikir dan sadar akan arti pentingnya pendidikan sebagai bekal hidup yang hakiki.

Semoga anak perempuan Madura ke depan lebih progresif.

Artikel Terkait