2 tahun lalu · 547 view · 3 menit baca · Politik nsg_commandos_republic_day_2015.jpg
sumber: en.wikipedia.org

Wahai Teroris, Belajarlah Menjadi Manusia

Bulan Ramadhan tahun ini telah berlalu selepas menyapa kita. Saatnya merayakan kemenangan di hari yang fitri setelah sebulan penuh berpuasa. Setiap muslim tentunya mengharapkan kedamaian dan ketenangan ketika menjalankan ibadah puasa maupun menjelang hari raya. Tetapi tampaknya harapan tersebut tidak bisa terpenuhi tahun ini.

Masih sangat segar dalam ingatan bahwa beberapa hari menjelang lebaran, tepatnya pada 4 Juli 2016, sebuah bom bunuh diri meledak di dekat masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Dan pada hari yang sama, terjadi ledakan di luar masjid Syiah di Kota Qatif. Keesokan harinya pada tanggal 5 Juli 2016, di tanah air, sebuah bom bunuh diri kembali meledak. Lokasinya tak tanggung-tanggung, yaitu di kota kelahiran Presiden Joko Widodo, Surakarta.

Pelakunya tewas seketika dan belakangan identitasnya terungkap. Dia adalah Nur Rohman yang diketahui masuk dalam jaringan Arif Hidayatullah yang ditangkap di Bekasi bulan Desember yang lalu. Dua peristiwa yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan (meskipun di tempat yang jauh) menunjukan adanya sebuah kejanggalan. Setiap orang boleh berasumsi bahwa ledakan itu dilakukan untuk tujuan tertentu dan oleh kelompok tertentu.

Apapun skenario yang dipikirkan oleh banyak orang, hanya satu kesimpulan yang bisa ditarik yaitu ekstremisme mengancam nyawa banyak orang. Maka sebagaimana seorang dokter yang mengobati seorang pasien dengan mencari penyebab penyakitnya, terorisme yang bersumber dari ekstrimisme juga mesti dicari akarnya.

Bukanlah sebuah kebetulan yang terjadi secara tiba-tiba jika seseorang terlibat dalam gerakan terorisme. Salah satu alasan yang paling kuat mengapa seseorang bisa dengan rela meledakkan dirinya adalah ketidakmampuannya memahami agama (yang sering dijadikan kedok terorisme), pendeknya nalar untuk menelaah ajaran yang ekstrem dan miskinnya kontemplasi yang mereka lakukan.

Mayoritas pelaku bom bunuh diri berpikir bahwa mereka telah melakukan jihad. Mereka adalah pahlawan yang menghabisi orang-orang kafir dan muslim yang membangkang perintah Allah. Mereka merasa bahwa dengan melakukan aksi pemboman, mereka turut andil dalam menciptakan tatanan dunia baru yang tunduk pada hukum Allah SWT yaitu Al Quran dan Hadits.

Dengan demikian, mereka berpikir sangat layak jika Tuhan mereka akan menghadiahkan surga dengan segala kenikmatannya berupa 72 bidadari. Maka nyawa mereka sudah tidak penting lagi. Dengan iming-iming yang tampak menjanjikan itu, melakukan aksi teror  bukanlah hal yang berat lagi bukan?

Para ekstrimis selama ini berkoar membela agama Tuhannya. Namun mereka tidak sadar bahwa mereka sendirilah yang telah melecehkan Tuhannya. Mereka menganggap bahwa Tuhannya akan memberikan kenikmatan surgawi pada manusia-manusia yang berbuat keonaran di muka bumi ini. Waraskan pemikiran seperti itu? Tidak.

Tuhan yang namanya selalu mereka bawa demi membunuh nyawa orang lain seakan-akan bukanlah Tuhan yang adil. Mana mungkin Tuhan yang Maha Adil memasukkan para pembunuh di surgaNya lengkap dengan 72 bidadari surga? Betapa ini amat mengerdilkan Sang Maha.

Bagi para teroris, belajar menjadi manusia itu lebih penting. Jangan terlampau tinggi memikirkan tatanan dunia baru atau kenikmatan di surga. Dunia akan lebih baik jika manusianya tidak melakukan aksi barbar serta saling mengasihi dan surga sepenuhnya adalah hak prerogatif Tuhan. Pahamkan itu!

Hidup adalah suatu perjalanan yang mesti dilewati masing-masing manusia. Maka gunakanlah hidup  untuk meresapi perjalanan dalam samudera diri. Hayati setiap perintah dariNya dengan menggunakan kemampuan nalar sebagai manusia. Lakukanlah perenungan sehinggga keinginanNya akan mewujud menjadi keinginanmu. Dengan begitu, tidak ada lagi tempat di hatimu untuk menghabisi jiwa-jiwa tak berdosa. Sebab menyakiti orang lain sama dengan menyakiti dirimu sendiri.

Tentu sebuah ironi tatkala ada aksi teror yang menewaskan beberapa orang saat bulan suci menyapa. Di saat orang lain sibuk mengekang hawa nafsunya, para teroris justru mengumbar ambisinya demi kekuasaan atau khayalan tentang surga. Apakah mereka itu berpuasa juga? Jika memang iya, apa yang mereka dapatkan dari puasanya itu?

Sang sufi termasyur dari Konya, Jalaluddin Rumi, mengatakan bahwa puasa dapat membakar hijab. Hijab antara hamba dengan RabbNya.

“Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu”

Mereka, para teroris itu, seharusnya belajar terlebih dahulu menjadi manusia melalui akal sehat dan ibadah-ibadah yang dilakukan. Mereka semestinya menjawab pertanyaan paling fundamental seperti “Bagaimana menjadi manusia seutuhnya?” semacam itulah. 

Artikel Terkait