3 minggu lalu · 110 view · 4 min baca · Politik 62158_53604.jpg
tribunnews

Wahai Politisi, Belajarlah dari si Doel

Anak Betawi, ketinggalan jaman, katenye…

Masih ingat dengan kutipan lagu ini? Penulis yakin, kebanyakan kita masih mengingatnya. Ia berasal dari OST. Si Doel Anak Sekolahan (SDAS). Sebuah sinetron legendaris yang tetap dikenang sampai sekarang.

Status legenda ini dibuktikan dari kenangan publik yang masih melekat. Kalau tidak, bagaimana mungkin kisah ini terus dilanjutkan? Dari Si Doel Anak Pinggiran sampai Si Doel The Movie 2, kisah yang diangkat bisa dilacak sampai ke SDAS. Bahkan, penulis berpendapat bahwa seluruh lanjutan serial Si Doel adalah upaya revival SDAS.

Siapa yang bisa lupa ketika Babe Sabeni berteriak kegirangan waktu Doel lulus jadi “tukang insinyur”? Ketika Atun kejepit tanjidor? Atau ketika Mandra berceloteh jenaka tentang hidupnya yang apes? Momen-momen tersebut membentuk kenangan publik akan SDAS sebagai sebuah tontonan.

Lantas, mengapa SDAS menjadi legendaris? Ia menjadi legendaris karena sarat akan pelajaran kehidupan. Mulai dari pelajaran soal percintaan sampai keberanian untuk bermimpi. Semuanya ada. 

Hebatnya, semua itu dikemas secara unik, lucu, namun eksploratif. Penonton pun tidak merasa digurui dan mampu mengambil pelajaran kehidupan sesuai perspektif masing-masing.

Tetapi, ada pelajaran yang jarang dilihat oleh penonton SDAS. Bahkan oleh die-hard fans seperti penulis. Apa pelajaran tersebut? Pelajaran soal politik. Semestinya para politisi kita belajar dari SDAS, khususnya dari tiga karakter penting dalam sinetron ini.

Karakter pertama adalah Doel. Sosok yang diperankan Rano Karno ini adalah pusat seluruh cerita yang terjadi. Mulai dari perjuangan menjadi sarjana, mencari pekerjaan, sampai memilih di antara dua wanita. 


Perjalanan hidupnya menjadi tema sentral SDAS. Kelebihan terbesar tokoh ini adalah karakter penting yang (harusnya) dimiliki oleh politisi kita. Apa kelebihan tersebut?

Kalo bisa Abang sama kayak gua, Bang. Punya prinsip,” tandas Doel kepada Mandra yang galau akan Munaroh. 

Sebagai pribadi, Doel memiliki prinsip-prinsip tertentu dalam menjalani kehidupan dan konsisten menjalankannya. Meskipun konsistensi itu sering membawa kesulitan, Doel tak gentar. Ia terus berjalan selurus-lurusnya.

Seharusnya para politisi kita juga begitu. Memiliki prinsip yang memandu mereka sebagai aktor demokrasi. Having a star to steer by

Prinsip itu harus dinyatakan secara jelas serta mendasari tindakan-tindakan politik. Dampaknya, publik bisa memiliki pilihan yang jelas dalam berdemokrasi. Ketika pilihan yang jelas sudah diberikan, dunia politik tidak lagi dipandang sebagai land of opportunists.

Hanya dunia politik yang dipenuhi oleh conviction politicians yang bisa memajukan negaranya. Kalau tidak, negara ini hanya jalan di tempat terus, tertinggal dari negara-negara lain.

Karakter kedua adalah Babe Sabeni. Diperankan oleh Alm. Benyamin Suaeb, karakter ini adalah tipikal babe-babe Betawi. Tegas, meledak-ledak, namun sangat menyayangi keluarganya. 

Rasa sayang itu diwujudkan dalam berbagai tindakan riil. Mulai dari menjual tanah demi membiayai kuliah Doel sampai memberikan nasihat-nasihat bagi keluarganya di meja makan.

Salah satu nasihat tersebut sungguh menyentil penulis. “Kan gua udah pesen ama elu pade, supaya idup jujur, jujur, jujur, jujur! Supaya idup kite kagak ancur!” Pesan ini adalah sebuah timeless and universal value of life. Kejujuran diajarkan oleh semua agama dan semua budaya. Ketidakjujuran sama saja mengkhianati kepercayaan orang lain kepada kita.

Apalagi bagi para politisi. Mereka diberikan kepercayaan oleh konstituen mereka untuk mewakili aspirasi masyarakat. Kepercayaan itu harusnya dijaga dengan kejujuran. Baik secara politik maupun personal. 

Be transparent dalam semua tindakan sebagai aktor demokrasi. Kalau bisa seperti Pak Ahok dulu. Seluruh catatan perjalanan dinas dan penggunaan uang dibuka dalam website pribadi Beliau.


Sayang, politisi yang jujur masih terlalu sedikit di negeri kita. Kebanyakan politisi kita masih suka bersilat lidah dan menutupi kebohongan politik dengan kebohongan politik lain. 

Tetapi, masyarakat sudah cerdas. Bau bangkai kebohongan politik biasanya langsung tercium. It’s time for politicians to reform their tact. Jadilah jujur dan apa adanya terhadap masyarakat.

Karakter terakhir adalah Mandra. Diperankan oleh diri sendiri. Karakter ini adalah inti komedi dari SDAS. 

Hampir seluruh momen-momen lucu dalam sinetron ini pasti diciptakan olehnya. Bahkan ketika marah, karakter ini tetap mengocok perut. Terutama dengan punchline Betawi ora yang sungguh menggelitik. Seperti “diem bae kayak ayam tetelo” sampai “ngacanya di sumur, kalo kaget nyemplung luh!

Tetapi, Mandra memiliki dua kelemahan yang sangat besar. Ia malas dan suka mengeluh. Kemalasan inilah yang membuat hidupnya tidak pernah beres. Selain itu, tendensinya untuk mengeluh membuat karakter ini sangat irritating. Bahkan, Babe Sabeni sering ribut dengan Mandra kalau sedang nyapnyap.

Masalahnya, masih banyak politisi kita yang malas dan suka mengeluh. Padahal, profesi ini adalah pengabdian publik yang menuntut ketidaan pamrih. 

Prinsip pengabdian publik menuntut politisi untuk bekerja sekeras mungkin. Harus rela pergi pagi, pulang pagi demi kepentingan konstituen. Kerja keras tersebut juga tidak menghasilkan material gain yang banyak.

Dalam hal ini, para politisi harus memperbaiki diri. Mereka harus kembali melaksanakan intisari profesi mereka yang sesungguhnya. 

Citra dunia politik sebagai rich potato-couch world harus diubah sesegera mungkin. Kerja, inovasi, dan dobrakan kebijakan harus diperbanyak. Bukan keluhan tanpa isi yang sering keluar di media sosial.

Punya prinsip. Menegakkan kejujuran. Kurangi kemalasan dan mengeluh. Itulah tiga pelajaran politik yang bisa dipetik dari SDAS. 

Semoga para politisi kita segera menyadarinya. Supaya mereka menjadi “tukang bikin kebijakan” yang bertindak layaknya lulusan sekolahan.

Artikel Terkait