Banyak dari antara kita yang merasa sedih, marah, bahkan ketakutan saat mendengar berita tentang berbagai tragedi yang terjadi akhir-akhir ini: pelecehan seksual dan/atau pembunuhan anak-anak, pemerkosaan massal dan pembunuhan remaja, pelecehan seksual pada perempuan, dan sebagainya. Ya, saya sengaja menuliskan “banyak dari antara kita” alih-alih “kita semua”.

Sebagian dari kita masih berpikir bahwa semua kejadian buruk itu adalah sekadar shit happens. Di dunia ini, pasti ada yang namanya kejahatan dan kemalangan. Yang penting, yang dijahati bukan kita, atau keluarga kita, atau orang-orang yang kita sayangi. Terkadang, beberapa dari kita akan ikut heboh meneriakkan soal hukuman mati, atau kebiri, atau narkoba, atau pornografi, atau alkohol, atau moralitas perempuan – lalu, sudah. Selesai sampai di situ.

Banyak dari kita yang masih berpikir bahwa yang penting adalah jangan membuat diri ini mudah dijadikan korban. Jangan menjadi rusa untuk seekor hyena. Dalam kasus Yuyun, gadis yang diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh: jangan berjalan sendirian di dekat segerombolan remaja lelaki yang sedang mabuk tak terkendali.

Tidak ada yang pernah berpikir seperti ini: Bagaimana jika, seandainya, suatu hari anak kita yang menjahati orang lain? Bagaimana jika suatu hari anak kita yang membiarkan kejahatan terjadi? Bagaimana jika suatu hari anak kita yang mengabaikan para korban yang dijahati? Lebih buruk lagi: bagaimana jika suatu hari anak kita menjadi salah satu yang menganggap kejahatan itu “wajar” terjadi?

Shit happens, sure. Tapi bagi saya, shit happens terutama jika kita tidak melakukan apa pun untuk mencegahnya terjadi. Dan dalam masyarakat kita yang patriarkis ini, terlalu banyak hal buruk yang dibiarkan terjadi. Kita membiarkan remaja-remaja lelaki berpikir bahwa oke-oke saja mengganggu remaja-remaja perempuan atau remaja LGBTIQ bahkan sampai taraf melecehkan.

Kita membiarkan remaja perempuan dan remaja LGBTIQ berpikir bahwa menjadi diri mereka sendiri adalah sebab kenapa mereka sampai diganggu atau dilecehkan. Kita membiarkan remaja perempuan, wanita, dan kaum LGBTIQ berpikir bahwa tubuh mereka “kotor” dan/atau menguarkan stimulasi-stimulasi erotis yang begitu buruk sehingga wajar saja orang lain menjadikan mereka obyek seksual. Kita membiarkan remaja lelaki dan para pria berpikir bahwa penis dan testosteron mereka yang mahakuasa boleh saja mengalahkan otak mereka.

Saya berpikir, dan berpikir. Saya belum menikah, dan juga belum mempunyai anak. Meski demikian, terasa penting bagi saya – dan saya mengajak kita semua – untuk memikirkan jawaban bagi pertanyaan ini: Bagaimana caranya agar anak-anak kita kelak tidak tenggelam dalam pusaran kejahatan, baik sebagai korban maupun sebagai si setan?

Dan inilah daftar jawaban yang terpikirkan oleh saya, entah anak saya nanti perempuan, lelaki, atau apa saja:

Ketika anak saya masih balita atau anak-anak, saya akan mengajarkan kepadanya bahwa:

1. Tidak peduli berapa pun usia anak saya, penting baginya untuk selalu ingat: tubuhnya adalah miliknya seorang. Tidak ada orang yang boleh menyentuhnya, melihatnya, menggunakannya, membelainya, membuat lelucon tentangnya, pada dasarnya melakukan apa pun terhadap tubuhnya – apalagi menyakitinya – tanpa izin darinya.

Terutama apabila menyangkut bagian-bagian pribadi dari tubuh: mulut, area dada, bokong, selangkangan, lubang anus. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau melihatnya, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu, misalnya: saat orangtuanya sendiri membantunya mandi atau berganti pakaian atau membersihkan diri sehabis dari toilet. Atau saat seorang dokter atau perawat sedang memeriksanya, di bawah pengawasan orangtuanya.

Jika ada seseorang yang melakukan sesuatu yang buruk pada tubuhnya, anak saya harus langsung mengatakan TIDAK, atau lari dan pergi melapor pada orang dewasa yang bisa dipercayainya, atau langsung saja berteriak sekencang-kencangnya.

Saya bahkan terpikir untuk membiasakan diri meminta izin anak saya kelak jika saya akan memandikan atau membersihkan tubuhnya. Hal itu akan menjadi contoh nyata baginya, bahwa izin atau consent itu sangat penting.

2. Tubuh orang lain adalah juga hak milik dan privasi orang tersebut. Ya, hal itu memang berarti anak saya tidak boleh melakukan apa pun terhadap tubuh orang lain tanpa seizin sang pemilik. Namun itu juga berarti orang lain tidak boleh seenaknya memperlihatkan bagian-bagian tubuh pribadi mereka pada anak saya, atau menyuruhnya melakukan apa pun pada bagian-bagian tubuh pribadi mereka.

3. Privasi sangat penting. Tidak boleh telanjang di depan umum untuk alasan apa pun. Tidak boleh mengambil foto atau video telanjang.

Ketika anak saya tumbuh remaja, saya akan mengajarkan kepadanya bahwa:

1. Semua aturan lain di atas masih berlaku.

2. Hormon adalah sesuatu yang sangat kuat efeknya, saya tahu itu. Anak saya boleh saja mengeksplorasi perubahan-perubahan pada tubuhnya. Tapi itu tidak berarti hormon boleh menggantikan otak. Kekuatan hormon tidak boleh mengalahkan pikiran logis, dan tidak boleh menyebabkan anak saya menyakiti dirinya sendiri dan/atau orang lain.

3. Tidak ada apa pun yang salah atau jahat tentang tubuh anak saya. Jika ada orang lain yang menyalahkan tubuh anak saya atas suatu kejahatan yang dilakukan oleh orang lain itu, orang itulah si penjahat sesungguhnya.

4. Tubuh orang lain sama berharganya dan sama berhaknya untuk dijaga seperti tubuh anak saya, apa pun gendernya, berapa pun usianya. Anak saya harus menghormati dan memperlakukan orang lain seperti ia sendiri ingin dihormati dan diperlakukan. Tidak peduli apa kata hormon, apa kata teman-temannya, atau apa kata alkohol yang diminumnya.

Ketika anak saya memasuki usia dewasa, saya akan mengajarkan kepadanya bahwa:

1. Semua aturan lain di atas masih berlaku.

2. Menikah atau tidak, punya anak atau tidak, menggunakan kontrasepsi atau tidak, itu semua menjadi hak anak saya untuk memutuskan. Tapi ia harus selalu memikirkan segala sesuatunya dengan logis dan tuntas sebelum mengambil keputusan.

3. Jika anak saya berusaha untuk selalu mengikuti aturan-aturan main di atas, saya berharap ia tidak perlu mengalami hal-hal tertentu, seperti aborsi. Atau kehamilan yang tak diinginkan. Atau terkena penyakit. Atau dilecehkan. Namun, jikalau hal-hal itu tetap saja terjadi….

4. Pada akhirnya, kita semua diciptakan sederajat. Dan saya akan tetap mencintainya, apa pun yang terjadi.

Apakah semua hal itu seperti mimpi di siang bolong? Entahlah. Memang tidak mudah. Tapi hidup di tengah masyarakat patriarkis seperti ini selalu membuat saya merasa terus-menerus harus melawan; untuk sesuatu yang berharga, yang benar, yang adil dan penting. Untuk mempertahankan kewarasan saya. Untuk memastikan bahwa manusia selalu dimanusiakan oleh manusia lainnya, seperti kata Sam Ratulangi.

Apakah memang demikian rasanya jika seseorang mulai menemukan kesadarannya? Mungkin. Tapi mungkin masalahnya adalah, jika kamu merasa dirimu mulai dapat menyadari hal-hal tertentu di sekitarmu, bukan berarti orang-orang lain juga ikut menyadarinya. Dan rasanya pasti seperti hidup, hari demi hari, di tengah sekawanan hyena.

Hyena-hyena itu tidak berbentuk darah dan daging. Mereka hidup dalam pikiran kita, dalam pikiran masyarakat kita. Permasalahannya adalah: apakah kita akan mengurung diri kita sendiri dalam kandang, ataukah hyena-hyena itu yang akan kita buru?