Egalitarian
2 bulan lalu · 695 view · 4 menit baca · Perempuan 14656_97466.jpg

Wahai Lelaki, Pernikahan Bukan Untuk Melegitimasi Kebiadabanmu!

Seorang teman membagikan kiriman di grup WhatsApp mengenai seorang pria bernama Romi Sepriawan di Bengkulu membunuh istrinya yang sedang hamil. Lalu membelah perutnya. Romi Sepriawan tega melakukan itu hanya karena istrinya tidak ingin memberikan handphone-nya.

Membaca pembunuhan sadis itu menggidikkan bulu roma. Lidah terasa kelu. Pikiran hanya ingin mengutuk tindakan pria itu. Dia sungguh laki-laki yang tidak memiliki perasaan. Padahal istrinya sedang hamil tua. Sedang mengandung buah cinta mereka. Bangsat banget, kan?

Akan tetapi, meskipun tindakan Romi sebengis itu, masih saja ada golongan yang memakluminya, bahkan justru memojokkan istrinya. Mereka menyalahkan istrinya yang tidak ingin memberikan handphone. Menurut mereka, pasti ada sesuatu yang disembunyikan sehingga membuat suaminya begitu cemburu.

Romi menduga istrinya selingkuh, maka dia terbakar api cemburu. Bahkan, meski dugaan itu benar, Romi tidak berhak untuk membunuh istrinya. Menikahi perempuan tidak serta-merta melegitimasi laki-laki bisa berbuat semaunya. Apalagi sampai membunuh dengan cara yang mengerikan.

Pernikahan tidak menjadikan perempuan sebagai barang kepemilikan laki-laki. Barang yang bisa diperlakukan secara semena-mena. Suami dan istri tetap memiliki relasi yang setara. Relasi yang menjadi medium untuk mencapai komitmen pernikahan – untuk saling menghidupi dalam ikrar yang suci.

Namun, tafsiran tentang pernikahan di masyarakat patriarkis, sepertinya, tidak lebih dari sekadar transaksi jual-beli. Maka dari itu, ketika perempuan telah dinikahi oleh laki-laki, tampaknya dianggap telah dibeli dari keluarganya. Sehingga laki-laki merasa berhak melakukan apa saja kepada istrinya, seperti ketika memperlakukan benda mati.

Hal itu lazim kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kekerasan dalam rumah tangga marak terjadi di mana-mana. Kekerasan seperti itu mendapat pemakluman dari kebanyakan masyarakat. Dinilai sebagai sesuatu yang tidak boleh dicampuri karena dianggap sebagai ranah privat – urusan rumah tangga masing-masing, tidak boleh dibawa ke ranah publik.

Di Indonesia, banyak masyarakat yang memiliki watak semenyedihkan itu. Alih-alih bersimpati pada korban, mereka malah cenderung menghakimi. Termasuk pembunuhan keji yang dilakukan Romi pada istrinya. Seolah tindakan apa pun yang dilakukan suami kepada istri adalah tindakan yang wajar. Seakan-akan, sudah semestinya berlangsung demikian.

Menjumpai komentar-komentar warganet terkait kebiadaban Romi tersebut, tidak hanya membuat kita geram, tetapi juga sangat sedih. Mereka menyudutkan korban hanya karena menyembunyikan password handphone. Melabelinya sebagai istri pembangkang dan mewajarkan perbuatan kejam Romi.

Ada juga yang berkomentar seolah sangat bijak, bahwa sudah seharusnya suami-istri saling terbuka. Tidak ada yang mesti ditutup-tutupi. Idealnya sih, begitu. Namun, itu hanya memungkinkan dilakukan jika pasangan open minded. Tidak temperamen. Jika sebaliknya, hanya akan memperkeruh suasana.

Seperti yang terjadi. Telah menunjukkan bahwa Romi bukan suami yang open minded. Dia mudah kalap. Akhirnya, dengan beringas memarangi leher istrinya dan membelah perutnya.

Membaca komentar-komentar warganet yang mewajarkan tindakan Romi, sungguh menohok perasaan. Betapa orang-orang di negeri ini begitu bangga memamerkan kemiskinan nurani. Barangkali mereka baru bisa berempati ketika itu menimpa orang terdekatnya. Namun, apakah harus seperti itu – agar kita bisa memiliki kepedulian?


Dalam kondisi masyarakat yang sangat lihai menghakimi ini, kita harus pandai membaca keadaan. Kita mesti memahami kapan harus berkata jujur dan kapan harus menyimpan kebenaran. Adakalanya, sesuatu lebih baik disembunyikan, ketimbang dibeberkan. Ketika kita tahu, kejujuran tersebut hanya akan memicu masalah yang tak berkesudahan.

Barangkali, di antara kita, banyak yang memiliki rahasia dari orang-orang terdekat. Dari orang tua, misalnya. Kita tidak terbuka, bukan karena tidak jujur. Hanya saja, kita paham bahwa ketika buka mulut – hanya akan menimbulkan percekcokan. Apalagi dengan keluarga yang begitu konservatif. Diam adalah pilihan yang sangat bijak.

Berkaitan dengan hal tersebut, membangun atau memiliki keluarga demokratis adalah sesuatu yang amat penting. Membiasakan komunikasi secara sehat dan penuh pengertian. Jika kita ingin anak-anak atau pasangan tidak menyembunyikan sesuatu, maka kita hanya perlu memupuk karakter demikian dalam keseharian. Bagi saya, sikap orang lain kepada kita adalah cerminan sikap yang selama ini kita bangun kepada mereka.

Kemudian, bagi mereka yang merasa ngeri dengan kebengisan Romi. Berarti mesti hati-hati dalam memilih pasangan. Tidak terburu-buru dalam melangsungkan pernikahan. Harus mengenal dengan baik kepribadian pasangan yang akan dinikahi. Sebab, di dunia ini, ada banyak manusia seperti Romi. Dia tidak sendiri.


Maka menjadi sangat penting untuk tidak terpengaruh dengan propaganda nikah dini – apalagi tanpa kesiapan mental. Menikah bukan hanya perihal melegalkan seks. Atau bujukan tidak perlu khawatir persoalan materi. Menikah bukan tentang kelamin dan materi saja.

Kesiapan mental dan mengenali dengan baik calon pasangan adalah modal paling utama untuk menikah. Kita harus memiliki kedewasaan berpikir untuk saling memahami dan memiliki bekal untuk mendidik anak. Kita harus memastikan bahwa kita cukup mengenal calon pasangan agar bisa melakukan hal itu – dalam rumah tangga yang akan kita hidupi bersama.

Maka sesuatu yang amat prinsipiel, bagi kita untuk menjadi pasangan yang meneduhkan dan menenangkan. Terutama bagi laki-laki. Jangan hanya gemar menuntut perempuan menjadi demikian, kemudian kita berperilaku sebaliknya. Jangan menjadi misoginis. Tidak menjadikan pernikahan sebagai legitimasi untuk memperbudak perempuan. Melainkan, memperlakukannya seperti yang diperintahkan Allah dalam Surah An-Nisa:19.

Dalam hemat saya, pernikahan mesti menjadi medium bagi laki-laki maupun perempuan untuk saling memperlakukan diri dengan baik. Masing-masing menjadi rumah yang menyenangkan bagi yang memilihnya. Bekerja sama dalam menghapus masyarakat patriarkis dan bentuk otoritarianisme lainnya. Kemudian, mencipta tatanan kehidupan yang penuh makna dalam naungan cinta tak berbatas.

Bukankah hidup tanpa makna dan tanpa cinta adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani? Sedangkan kebencian hanya akan mendatangkan petaka silih berganti. Kalian ingin yang mana?


Lalu, bagaimana dengan mereka yang telanjur terjebak dalam pernikahan yang tidak sehat? Ah, kalian pasti tahu jawabannya. Kalian paham sikap tegas yang perlu diambil. Tidak perlu ada korban dan Romi baru lagi. Iya kan?

Kemudian, terkait sanksi untuk kebiadaban Romi dan tindakan jahanam yang serupa, saya sepakat dengan tindakan yang dipilih Noelle dalam film M.F.A. besutan Natalie Leite – membalas perbuatan biadab laki-laki dengan hal setimpal. Tentunya, dengan lebih hati-hati dan pelan-pelan. Atau memakai hukuman kisas dalam Islam. Supaya Adil dalam ber-Islam, tidak hanya memakai dalil yang menguntungkan pihak laki-laki.

Menurut saya, dengan melakukan itu – tidak hanya membuat jera, tetapi juga mencegah terjadinya perbuatan serupa. Orang-orang jahanam akan berpikir sejuta kali sebelum melakukan tindakan biadabnya. Tidak percaya? Mari kita buktikan!

Artikel Terkait