Penulis
2 tahun lalu · 656 view · 2 menit baca · Politik 47504.jpg

Wahabisasi Jakarta

Semenjak mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan merangkul ormas takfiri dan radikal demi mencapai kekuasaan politiknya. Pilihan politik Anies ini tidak saja merusak tenun kebangsaan, tapi juga ditengarai dapat menyebarkan paham-paham Wahabi yang radikal di Jakarta.

Bahaya Wahabi

Ajaran Wahabi sangat berbahaya bagi kedamaian umat Islam dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nama Wahabi sendiri dinisbatkan kepada Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1115 H-1206 H) yang ajaran keagamaannya kerap menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang amalannya ‘tidak sesuai’ dengan paham yang mereka anut.

Akibat ajaran radikalnya kelompok takfiri yang berpegang teguh pada ajaran Wahabi di negeri ini acapkali menciptakan keonaran, keresahan masyarakat, tindakan kriminal, memprovokasi fitnah dan isu SARA, melecehkan pancasila, merendahkan bendera merah putih, menghina Soekarno, menolak demokrasi, menista agama dan masih banyak lagi tindakan-tindakan kekerasannya.  

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ekstrim ini secara langsung telah mencoreng nama Islam. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat kekerasan. Sebagaimana dalam al-Qur’an “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).

Kelompok ekstrim telah mengingkari firman Allah tersebut dengan selalu melakukan tindakan dengan cara kekerasan baik secara fisik maupun ajarannya. Kalangan radikalis-fundamentalis yang dirangkul Anies juga menanamkan kebencian dan memecah belah umat dan antar masyarakat.

Faktor yang mendasari tindakan ekstrim mereka adalah kaku dalam memahami teks-teks agama (tekstual) sehingga cenderung mudah menyalahkan dan mengkafirkan umat Islam lain. Mereka memaksakan kehendak atas penafsiran mereka sendiri seperti penafsiran atas al-Maidah 51 sebagai perintah memilih pemimpin muslim. Padahal ayat tersebut bukan dalam konteks Pilkada.

Kalangan radikalis menganggap muslim lain yang tidak mengikuti penafsiran mereka sebagai orang munafik dan tidak akan masuk surga. Bahkan kalangan radikalis tidak mau mensholatkan jenazah yang ditengarai mendukung non-Muslim sebagai pejabat publik.  

Dampak negatif dari ajaran seperti ini sangat membahayakan bagi keselamatan aqidah dan keutuhan negara. Bahkan dampak ajaran radikalnya telah dirasakan oleh masyarakat luas di hampir setiap wilayah di Indonesia

Mereka tidak hanya berdakwah dengan ajaran yang menyimpang, namun juga kerap melakukan aksi-aksi kekerasan mengatasnamakan agama. Aksi-aksi mereka tidak hanya menciderai hukum di Indonesia, tetapi juga mencoreng nama Islam itu sendiri.

Di antara yang mendorong timbulnya kekerasan atas nama agama di negeri ini adalah buah dari doktrin-doktrin dan ajaran radikal kelompok Wahabi. Anies sebenarnya sadar akan hal ini, namun hanya karena untuk kepentingan sesaat, ia rela menggadaikan idealismenya dengan merangkul kelompok radikal ini.

Anies semestinya jangan bermain-main dengan kalangan Wahabi. Ia seharusnya tidak melakukan segala cara untuk memenangkan kontestasi Pilkada. Karena itu sama halnya memberi ruang pada pemahaman yang dapat mengarah pada tindakan terorisme dan eksklusifisme, yang pada akhirnya dapat mengancam umat dan NKRI.

Belajar dari Timur-Tengah

Apa yang telah mereka lakukan adalah memorak-porandakan sebuah negara dan kemanusiaan. Sebagaimana terjadi di negara-negara Timur Tengah (middle east) yang saat ini sedang dilanda konflik sektarianisme yang sangat dahsyat.

Konflik tersebut dibungkus sedemikian rupa menjadi konflik agama, seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), al-Qaeda, dan sebagainya. Sektarianisme agama dan propaganda politik sangat mudah terjadi di banyak negara Timur Tengah karena pengaruh paham-paham Wahhabi.

Umat Islam Indonesia harus belajar dari situasi yang terjadi di Timur Tengah ini. Jangan sampai kondisi damai yang ada di negeri ini justru rusak karena hadirnya paham-paham Wahabi, terutama di Ibu Kota. Kita harus menjaga negeri yang penuh keteduhan ini, dan jangan membiarkan aliran ektsrim menguasai Jakarta.

Artikel Terkait