Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah sains populer itu? 

Sains populer adalah pengetahuan mengenai sains yang bisa dipahami oleh orang awam. Analoginya adalah seperti anak singa yang mencoba untuk menggigit daging pertamanya akan tetapi tetap bisa mencerna apa yang dia gigit. Apa-apa yang coba disajikan oleh kepustakaan sains populer adalah bertujuan untuk mencerahkan orang-orang yang notabene tidak menggeluti bidang keilmuan yang berhubungan dengan fisika, biologi, astrologi, cosmologi dan lain-lain. 

Para penulis buku-buku sains populer tersebut, menyajikan bidang-bidang keilmuan yang telah disebutkan dengan bahasa yang mudah untuk dipahami, dicerna, dan diinterpretasi oleh orang-orang yang tidak ahli dalam bidang keilmuan tadi.

Kini, orang-orang semakin akrab dengan karya-karya Yuval Noah Harari seperti Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lesson for the 21th Century. Begitupun dengan karya-karya Richard Dawkins seperti The Greatest Show on Earth, The Selfish Gene, The God Delution dan lain-lain. 

Tidak lupa pula ada The Divine Matrix karya Gregg Braden. Dan masih ada karya-karya lainnya dari penulis luar yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dari satu sisi kita bisa melihat wabah dari buku-buku sains populer itu mulai menjamur di Indoensia, akan tetapi di sisi lain adalah kebanyakan buku-buku tersebut merupakan karangan orang luar negeri. Padahal tentu saja kita juga memiliki saintis-saintis yang potensial di Indonesia. 

Bisa dibilang, walaupun semakin menjamurnya demam buku-buku sains populer di Indonesia, tetap saja perhatian akan buku-buku tersebut masih minim di beberapa institusi-institusi sekolah di Indonesia. Pemahaman akan apa yang coba ditawarkan oleh buku-buku sains populer tersebut masih dianggap minim peminat.

Mungkin di antara kita berfikir bahwa “saya kan mahasiswa sejarah, untuk apa saya mempelajari persoalan genetics?” atau “buku itu kan bukan jurusan atau bidang keilmuan yang saya dalami, untuk apa saya belajar sesuatu yang tidak ada dalam kurikulum pelajaran saya?” 

Mungkin pemikiran-pemikiran tersebut bisa dibilang normal mengingat dalam benak kita, kita masih beranggapan bahwa apa yang namanya sains itu identic dengan apa yang telah kita pelajari sewaktu SMP, SMA dan sebagainya. Kita melihat dan membayangkan kalau isi buku tersebut mirip dengan buku-buku pokok kita ketika sekolah dulu sebelum kuliah.

Padahal kalau kita ingin membacanya, kita akan menemukan sesuatu yang benar-benar berbeda dengan apa yang sebenarnya telah kita bayangkan. Contohnya adalah dalam buku Pertunjukan Paling Agung di Bumi. 

Buku karya Richard Dawkins tersebut menjelaskan teori evolusi dengan cara yang masuk akal. Dia menjelaskan bagaiamana analogi evolusi manusia dengan menggunakan perkembangan janin dari embrio sampai jadi bayi dan akhrinya melahirkan. 

Richard Dawkins juga menyinggung kaum kreationis dalam argumennya tentang kenapa manusia-kalau memang benar keterunun monyet padahal yang sebenarnya bukan dari satu keturunan-tidak melahirkan bayi monyet.

Di buku Richard Dawkins yang berjudul The Selfish Gene, kita bisa mengambil contoh terapan kehidupan nyata berdasarkan analisis gen yang cara penyampaiannya menggunakan teori gen egois yang merupakan replikator keturunan yang mewariskan. 

Dari buku tersebut kita akan mendapati hal yang cukup menarik. Misalnya adalah fenomena yang tampaknya dilakukan berdasarkan sifat Altruisme-lebih mementingkan sekitarnya daripada dirinya sendiri-yang sebenarnya adalah merupakan sifat keegoisan individu tersebut. 

Richard Dawkins memberikan contoh adalah gazelle yang melompat-lompat ketika dia memergoki singa yang telah mengintai kawanan mereka. Tentu lompatan-lompatan itu menandakan adanya musuh yang siap menerkam dalam kawanan Gazelle tersebut. 

Seolah-olah terlihat mencoba mengingatkan kawanannya yang lain, yang sebenarnya adalah gazelle itu bukan untuk memperingati kawanannya akan adanya musuh, akan tetapi mencoba untuk memberi tahukan kepada musuh bahwa dirinya masih sehat dan bugar sehingga bisa melompat-lompat dengan lincah dan tinggi. Tentu predator yang akan dipertajam oleh instingnya maka predator itu akan memilih mangsa yang terlihat sakit, malas dan tidak lincah.

Masih dalam buku yang sama dan juga pengarang yang sama adalah bagaiamana dijelaskan mengapa lebah-lebah itu rela menyengat para pengganggunya dengan menyengat mereka lalu akhrinya mereka tewas. 

Seperti pasukan harakiri Jepang yang rela membunuh dirinya demi kepentingan harga diri sendiri maupun oleh masyarakat mereka. Tapi bagaimana terdapat kasus yang mempunyai motivation force berbeda? Dawkins menjelaskan bahwa kemampuan bahasa yang membentuk budaya, mengalami proses evolusi yang melebihi kemampuan genetika manusia dalam berevolusi.

Lalu bagaimana dengan kasus yang coba ditawarkan oleh Yuval Noah Harari juga menarik. Dalam bukunya Sapiens, dia menuliskan informasi-informasi yang unik. Misalnya adalah kecenderungan manusia untuk bergosip atau ghibah-konteks dalam kata bahasa Arab-merupukan nilai khusus bahkan kelebihan yang dipunyai oleh manusia berspesies Sapiens. 

Kemampuan dalam membentuk konsepsi budaya berdasarkan kemampuan berbicara melalui bahasa, merupakan anugerah yang hanya dimiliki oleh Sapiens. 

Setiap hewan dan tumbuhan, bahkan manusia berspesies Neanthertal, Florensiesis, Soloensis ­dan lain-lain mempunyai bahasanya masing-masing, akan tetapi kemampuan bahasa yang dimiliki oleh Sapiens lebih beragam dan cenderung lebih cepat dalam membentuk mitos berdasarkan kesadaran kolektif antar-individu.

Dalam bukunya Homo Deus-pun juga seperti itu. kita akan mendapatkan teori yang menarik dalam pengaruh teknologi modern, seperti artificial intelligence dan mutasi genetik. Kalau dalam Sapiens kita digiring opini kita melalui bagaimana revolusi kognitif, revolusi pertanian dan revolusi industri membentuk masyarakat modern, dalam buku lanjutannya, kita mulai diberikan narasi yang berupa bagaimana jadinya masa depan setelah manusia sekarang sudah menjadi semakin modern.

Contoh yang saya ambil adalah ketika dulu, sebelum teknologi perobatan belum secanggih sekarang, hal yang menyangkut kematian merupakan hal yang bersifat supranatural dan penuh akan mistis yang menghantuinya. Bisa saja dulu itu digambarkan kematian adalah ketika malaikat kematian yang berjubah hitam, bersayap hitam, bermuka masam, dan membawa celurit yang panjangnya dua meter mendatangi kita dan akhrinya merenggut nyawa kita.

Dalam abad pertengahan, wabah hitam merupakan virus paling ganas yang menghantui muka bumi ketika itu. kalau kita sering melihat film-film mengenai wabah hitam di Barat, dalam film tersebut kebanyakan menceritakan dan mengvisualisasikan bahwa yang menyebar virus epidermi tersebut adalah wanita tua yang mempunyai kekuatan sihir hitam, sehingga wabah hitam tersebut sarat akan mistis dan mitos yang telah menjadi kesadaran kolektif masyarakat sehingga membentuk fakta yang objektif.

Lain halnya dengan manusia modern sekarang ini. Kecanggihan teknologi menyadarkan manusia bahwasannya kematian adalah faktor berhentinya jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Udah itu aja! 

Segala hal yang menyangkut kematian, kini oleh manusia modern hanya berdasarkan masalah teknis saja, dan apapun yang berkaitan dengan masalah teknis, pasti mempunyai solusi yang sifatnya hal teknis juga. Mitos-mitos abad pertengahan kini digantikan oleh fakta-fakta yang lebih modern.

Begitupun juga dengan buku yang ditulis oleh Gregg Braden dengan judul The Divine Matrix. Dia mencoba untuk mensinkornasikan antara kekauatan spiritualitas dan juga sains. Dalam bukunya tersebut, dia mencoba untuk membedah teori fisika quantum-nya Einstein dan mengfusikannya dalam kepercayaan adat orang-orang Jawa, China, pendeta Tibet dan adat-adat animisme dan juga dinamisme lainnya. 

Dia menjelaskan bahwasannya DNA antar orang itu memiliki keterikatan yang kasat mata sehingga diteliti melalui pecahan atom pun tidak nampak. Akan tetapi dia mengambil hasil eksperimen dari angakatan darat amerika yang telah membuat uji coba dengan salah seorang relawan yang sampel DNA-nya diambil. Si relawan itu dipertontonkan hal-hal yang bisa membangkitkan emosi dan pikirannya. 

Yang mengejutkan adalah ketika emosi relawan memberikan tanggapan terhadap video yang dipertontonkan, DNA yng telah diambil dari tubuh pemiliknya pun juga mempunyai gejolak yang identik dengan si relawan. Bahkan ketika DNA itu telah dijauhkan ratusan mil dari tubuh asalnya.

Hasil eksperimen di atas menunjukkan bahwasannya kita di dunia ini saling mengalami keterikatan yang sangat sulit untuk dilihat. Itu mejelaskan mengapa kalau kita sering joinan kopi, maka hubungan pertemanan kita semakin akrab. Itu juga mengapa kalau kita terkadang berebut makanan atau minuman bekas kiai kita agar mendapat barokah. 

Itu semua sebenarnya kita telah mencoba untuk membangun koneksi atau keterikatan dengan orang yang kita sayangi atau hormati dan segani. Kita juga terkadang pernah mengalami suatu kebetulan yang acak, seperti ketika kita akan bertemu seseorang dan akan pergi ke rumahnya lalu tiba-tiba kita bertemu sesaat setelah saya akan beranjak dari bangku dan berkata “eh, lu kok ke sini sih? Barusan gue mau ke rumah lu”. 

Hal-hal tersebut dianggap lumrah karena pada dasarnya kita itu saling terikat seperti ketika kita memasuki jarang laba-laba dan ketika kita bergerak, maka seluruh jarring-jaring laba-laba tersebut akan ikut bergetar.

Einstein pernah berkata bahwasannya apa yang kita ketahui di alam semesta ini barulah ibaratnya kita hanya mengetahui ujung ekor singa saja, belum mengetahui secara keseluruhan bagaimana singa tersebut. 

Hal yang penting bisa kita ambil dari diskursus sains populer adalah kita bisa menjelaskan fenomena-fenomena sehari-hari kita menggunakan pendekatan sains yang lebih mudah dicerna. Terlepas dari bacaan yang sesuai dengan jurusan yang kita alami, ada baiknya untuk menambah minat baca kita terhadap buku-buku sains populer agar menambah wacana keilmuan kita terhadap bidang lainnya. 

Maraknya penerjemahan karya-karya mengenai sains populer, mengindikasikan bahwa minat terhadap bidang tersebut masih tergolong minim sehingga ilmuan-ilmua kita kurang menghasilkan karya-karya yang tergolong sains populer.