Sufisme atau Tasawuf atau gerakan Gnostisisme sedikit banyak telah memberikan sumbangsih pemikiran bagi peradaban dunia. Meskipun para sufi sangat erat hubungannya dengan masalah Ilahiyah dan Ubudiyah, akan tetapi ketika Ibn Arabi telah berhasil mengkonstruk sebuah corak sufistik yang menggabungkan antara Sufisme dan Filsafat, sufisme tak lagi hanya membicarakan mengenai gagasan Ilahiyah, sufisme juga berdampak pada ranah masyarakat atau sosial.

Dalam hal ini, konstruk pemikiran Ibn Arabi telah berhasil di artikulasikan dengan sebaik baiknya oleh Abdul Karim al-Jilli. Konsepsi Wahdat al-Wujud Ibn Arabi telah melahrikan konsepsi mengenai Kesatuan agama-agama, atau yang lebih di kenal dengan Wahdat al-Adyan.

Sebelum mengenal Wahdat al-Adyan al-Jilli, perlulah kita mengenal terlebih dahulu konsepsi Wahdat al-Wujud Ibn Arabi. Dalam konsepsi Wahdat al-Wujud (kesatuan Eksistensi) kita akan memahami maknanya ialah yang ada atau Eksisten hanyalah Allah SWT yang lainnya merupakan manifestasi atau Tajali Tuhan itu sendiri.

Konsep ini memang dekat sekali dengan pandangan Panenteisme. Bahwa tuhan berada di mana-mana, dalam setiap eksistensi terdapat esensi ketuhanan, karena setiap eksistensi adalah manifestasi dari Nilai nilai Ilahiyah itu sendiri.

Ilustrasi sederhananya ialah, ketika seseorang bercermin, apakah bayangan cermin tersebut adalah Orang tersebut? Bukan, yang ada dalam cermin tersebut adalah Bayangan dari orang yang sedang tercermin. Kira kira seperti demikian.

Konsep dari wahdat al wujud tersebut di artikulasikan oleh al-Jilli dengan konsep Wahdatul adyan, menurut al Jilli sama seperti Ibn Arabi semua agama itu dalam tataran esoterik nya tetap satu. Perbedaan hanya terdapat pada ranah eksoterik.

Dalam hal esoteriknya semua agama pada hakikatnya tetap menyembah pada Tuhan yang satu, yaitu Allah swt. Mengapa karena semua ini alam raya ini merupakan tempat ber Tajalinya tuhan, Tempat Allah bermanifestasi.

Oleh karenanya menurut al-Jilli orang orang yang tidak mengenal ketauhidan atau konsepsi ketuhanan yang di tawarkan oleh umat islam, Pada dasarnya mereka menyembah Tuhan yang sama dengan umat Islam.

Akan tetapi umat lain menyembah melalui perantara, sedang umat islam langsung menuju tuhanya. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari wahdatul Wujud (kesatuan eksistensi).

Belum lagi, Maulana Jalaluddin Rumi bersyair indah dalam matsnawinya

"Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah."