Teks Alquran yang dijumpai saat ini sangatlah berbeda dengan teks Alquran 14 abad yang lalu. Fakta sejarah mengatakan bahwa tulisan pada mushaf-mushaf pertama Alquran hanya berbentuk huruf tanpa adanya tambahan apa pun.

Manuskrip-manusktip kuno yang ditemukan menjadi bukti konkret bahwa fenomena ketiadaan tanda titik dan tanda diakritikal (harakat) adalah faktual. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, penulisan mushaf tanpa disertai dengan tanda titik dan harakat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam membaca.

Faktor ini menjadi landasan filosofis terhadap pemberian tanda-tanda tambahan dalam penulisan Alquran di masa berikutnya. Abu al-Aswad ad-Duwali adalah orang yang diklaim sebagai pemrakarsa pemberian tanda-tanda tambahan ini atas arahan dari Ali bin Abi Thalib.

Adanya izin dibolehkannya membaca Alquran dengan tujuh huruf juga memiliki pengaruh yang cukup besar bagi proses penulisan Alquran. Perlu diketahui bahwa para sahabat yang tergolong ahli baca Alquran pada saat itu seperti Ibn Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, dan Ubay bin Ka’ab juga memiliki mushaf tertulis yang mereka pelajari dari Rasulullah.

Fenomena tersebut menyebabkan munculnya kekayaan naskah Alquran. Meskipun pada akhirnya Usman bin Affan berusaha untuk mengakomodir fenomena di atas dengan menjadikan mushaf Usmani sebagai pedoman dan meminta untuk membakar semua mushaf yang ada selain Mushaf Usmani.

Salah satu ranah kajian yang menjadi pintu gerbang serangan orientalis adalah tentang naskah Alquran. Mereka berusaha untuk melakukan penyuntingan dan membuat edisi kritis Alquran dengan segala macam metode dan pendekatan yang mereka miliki.

Theodor Noldeke menjadi sarjana Barat pertama yang mengawali kerja penyuntingan Alquran, yaitu dengan penataan ulang Alquran dengan bentuk kronologis terhadap surat-surat dalam Alquran.

Kerja tersebut dilanjutkan oleh Richard Bell yang melakukan penyuntingan secara lebih progresif yaitu dengan menyusun paragraf-paragraf menjadi lebih puitis yang pada akhirnya menjadi sebuah prosa. Karya Noldeke diklaim sebagai studi atas Quran pertama yang bernilai ilmiah.

Gustav Fluegel dalam suntingannya Corani Textus Arabicus berusaha untuk melakukan penyuntingan dengan cara menyeleksi berbagai macam bacaan qira’ah tujuh. Tujuannya adalah untuk memperoleh suatu teks Alquran yang lebih mudah dan lancar.

Dalam kerjanya, ia juga mempertimbangan kesatuan gagasan dan akhiran rima. Akan tetapi, dengan pertimbangan tersebut, teks edisi Fluegel terdapat beberapa perbedaan dengan tradisi penulisan teks dalam dunia Islam.

Karya ini sempat memiliki pengaruh yang cukup besar di kalangan sarjana Barat selama beberapa dekade. Namun, dominasi tersebut menurun setelah kalah pamor dengan Alquran edisi standar Mesir.

Gebrakan yang lebih besar dan ambisius untuk menggarap edisi kritis Alquran dipersiapkan oleh Gotthelf Bergstraesser, Arthur Jeffery dan Otto Pretzl. Bergstraesser dan Jeffery sudah mepersiapkan arsip bahan-bahan yang akan digunakan untuk menuliskan kembali sejarah perkembangan teks Alquran.

Visi tersebut diaplikasikan dengan cara mengumpulkan berbagai variasi teks-teks yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir, bahasa, qira’ah, dan sumber-sumber yang lainnya. Namun, wacana besar itu tidak terpah tercapai setelah kewafatan Bergstraesser.

Pretzl sebagai penerus kerja tersebut juga tidak bisa mewujudukan proyek besar itu. Sebenarnya bahan-bahan yang telah dikumpulkan ketiga orang di atas sudah mulai diterbikan. Tetapi, semuanya luluh lantak akibat terjadinya perang dunia ke-2. Pada akhirnya, wacana penerbitan edisi kritis Alquran ini tidak pernah tercapai hingga mereka bertiga meninggal dunia.

Wacana tentang penyuntingan teks Alquran oleh para orientalis tersebut tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan. Jika diperhatikan, kerja orientalis tersebut merupakan dampak dari berkembangnya ilmu filologi.

Secara umum ilmu tersebut merupakan ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa yang tertuang dalam bahan-bahan tertulis. Ilmu tersebut pada mulanya digunakan untuk melakukan kajian terhadap kitab suci yang mereka miliki.

Seiring dengan perkembangan waktu, ilmu tersebut masuk dalam kajan kitab suci umat Islam, yaitu al-Qur’an. Mereka membangun argumen bahwa al-Qur’an juga dapat dikaji menggunakan ilmu ini karena al-Qur’an adalah merupakan sebuah teks.

Wacana di atas menyebabkan munculnya beragam reaksi yang keras dari umat Islam. Hal demikian sangatlah wajar karena memang ada anggapan bahwa teks Alquran merupakan suatu hal yang bersifat sakral. Mushaf Alquran sudah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam.

Ia menjadi sebuah aset berharga yang akan selalu dijaga hingga kapanpun. Maka dari itu, segala macam pikiran -- yang direalisasikan dalam bentuk lisan maupun tulisan -- terhadap Alquran akan menyebabkan kemarahan bagi umat Islam.

Reaksi yang cukup menarik dari kalangan sarjana Muslim diwakili oleh MM ‘Azami. Ia berusaha mengkritisi secara akademik terhadap kerja yang dilakukan oleh orientalis. Ia menunjukkan kesalahan logika dan pendekatan yang mereka gunakan.

Hal tersebut tertuang dalam karyanya yang berjudul The History of Qur’anic Teks. Dalam buku tersebut terdapat banyak sekali kritik yang ia lontarkan kepada para orintalis. Termasuk wacana orientalis tentang penyuntingan teks Alquran.