Mahasiswa
4 bulan lalu · 115 view · 3 menit baca · Seni 19254_73947.jpg
medium.com

Wabi Sabi, Melihat Keindahan dalam Ketidaksempurnaan

Ekspektasi pada sesuatu yang indah kebanyakan dipandang dari sisi kesempurnaannya. Namun jika tidak sempurna atau terdapat kecacatan, maka akan berkurang sifat indah yang dikandungnya. Yang ada hanya ‘tidak seindah sebelumnya’. Sesuatu akan dikata indah jika memiliki sifat sempurna yang benar-benar paripurna.

Sesuatu yang mengalami kondisi dekadensi tersebut lantas tak lagi dipandang sebagaimana sebelumnya. Hal ini menyebabkan berkurangnya apresiasi hingga menganggap sesuatu tersebut tidak mempunyai nilai lagi dan (ironisnya) layak dibuang.

Hal ini pastinya sering kita (khususnya penulis) alami ketika menjumpai kerusakan atau kecacatan (walau kecil). Misalnya ketika smartphone yang kita miliki lama-kelamaan semakin lag. Sadar atau tidak sadar kecacatan tersebut akan mengurangi tingkat apresiasi kita terhadap smartphone yang sudah tidak sempurna lagi. Lalu (ironisnya) lantas membuangnya dan menggantinya dengan smartphone yang baru.

Di balik ketidaksempurnaan, terdapat keindahan

Salah satu konsep estetika yang dikenal di Jepang adalah Wabi Sabi. Wabi-sabi ( 侘 寂) dalam estetika tradisional jepang diartikan sebagai pandangan dunia yang berpusat pada penerimaaan terhadap kefanaan dan ketidaksempurnaan.

Menurut Leonard Koren, wabi-sabi dapat didefinisikan sebagai fitur karakteristik yang paling mencolok dari kecantikan tradisional Jepang dan menempati posisi yang hampir sama di kaidah-kaidah estetika Jepang, seperti halnya ungkapan filsuf Yunani tentang keindahan dan kesempurnaan. 

Sedangkan Andrew Juniper mencatat bahwa jika suatu objek atau ekspresi dapat menghasilkan, di dalam diri kita, rasa kemurungan yang tenang dan kerinduan spiritual, maka objek itu dapat dikatakan sebagai wabi-sabi. Bagi Richard Powell, wabi-sabi memelihara semua yang otentik dengan mengakui tiga realitas sederhana: Nothing lasts, nothing is finished, dan nothing is perfect.

Karakteristik estetika wabi-sabi meliputi asimetri , ketidakrataan, kesederhanaan, ekonomis, penghematan, kesederhanaan, keintiman , dan penghargaan terhadap integritas yang alami dari suatu objek atau proses.

Wabi merupakan sikap penerimaan atas keadaan yang kurang. Dengan wabi, kita dapat melihat keindahan meski dalam wujud yang kurang sekalipun. Sabi berarti keindahan yang kaya diakibatkan berubahnya sesuatu karena dimakan waktu seperti retak, lapuk, atau cacat.

Jadi, wabi adalah penerimaan dari hati dan keteguhan untuk menikmati kekurangan (kondisi sabi) atau kecacatan. Atau mungkin wabi adalah penerimaan atas ‘keindahan’ yang terdapat dalam sabi.

Contoh dari perwujudan konsep wabi-sabi dapat dilihat dalam gaya tembikar Jepang. Dalam upacara minum teh, barang-barang tembikar yang digunakan seringkali terlihat sederhana, dengan bentuk yang tidak terlalu simetris, dan warna atau tekstur yang nampak menekankan gaya yang alami atau sederhana.

Konsep wabi-sabi inilah yang menjadikan masyarakat jepang melihat sesuatu dengan sangat intim sehingga mereka lebih menghargai sesuatu, tanpa memandang sisi-sisi kecacatannya. 


Mereka melihat keindahan dalam sesuatu secara utuh, bukan sebagian-sebagian. Di Jepang saat ini, makna wabi-sabi sering diringkas menjadi "kebijaksanaan dalam kesederhanaan alami". Atau dalam buku-buku seni didefinisikan sebagai "keindahan cacat".

Relevansi wabi-sabi dalam kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung mengejar kesempurnaan tanpa henti-henti. Ekspektasi ‘sempurna’ atas suatu yang dituju kerap kali mengikis nalar logis dan mendorong penilaian yang tergesa-gesa. 

Lantas akan menjadi masalah yang serius jika harapan dan ekspektasi tidak sama dengan realita yang terjadi. Lalu dengan begitu saja menganggapnya tidak ‘indah’ lagi. Pada kondisi semacam ini konsep wabi-sabi dapat memiliki peranan penting dalam menstabilkan kondisi psikologis.

Dilansir dari salah satu jurnal psychologytoday yang ditulis oleh Marianna Pogosyan, wabi-sabi memiliki tempat tersendiri dalam psikologi kita. Wabi-sabi dapat mengundang jeda, membuka ruang dalam jiwa, untuk penerimaan dan kerelaan atas ketidaksempurnaan lalu menjadikannya sebagai suatu keindahan, termasuk diri kita sendiri dan sesama manusia.


Seperti halnya yang Richard Powell katakan, wabi-sabi akan mengajarkan kita tentang keniscayaan. Tidak ada yang kekal, tidak ada yang benar-benar paripurna, dan tidak ada yang sempurna. Hal ini yang nantinya akan menumbuhkan apresiasi yang tidak akan berkurang pada segala sesuatu. Menganggapnya memiliki nilai yang tetap dan bertambah.

Pada akhirnya wabi-sabi akan menyadarkan akan arti cinta yang lebih intim. Cinta yang bukan hanya dilihat hanya dari satu sisi. Cinta yang benar-banar paripurna. Cinta yang bersamanya pula penerimaan pada keindahan - terlepas dari kecacatan, kekurangan, dan ketidaksempurnaan – cinta itu.

Usman arrumy, seorang sastrawan pesantren, pun mengungkapkan cinta sebagai ‘keindahan’ yang benar-benar total dari sesuatu yang dicintanya.

Mencintai permpuan itu artinya juga mesti mencintai gudignya, batuknya, bau apeknya, ilernya, boroknya, dan setiap kekurangannya. Jika mencintai hanya pada bagian yang secara kasat mata nampak indah, itu cintanya perlu direkonstruksi ulang.

Sama halnya mencintai Indonesia. Itu artinya juga mesti mencintai semua penghuninya, termasuk mereka yang koruptor, begenggek, bajingan, jahat dan siapapun yang sebenarnya patut dibenci.


Dengan kata lain, cinta bisa dinamakan cinta jika itu berlangsung dalam skala yang total.”

Maka dari itu, proses penerimaan terhadap kekurangan, kecacatan, dan ketidaksempurnaan juga merupakan suatu bentuk keindahan. The beauty of imperfection.

Artikel Terkait