1 tahun lalu · 12545 view · 5 menit baca · Pendidikan 42011_24763.jpg
https://delikindonesia.com

Wabah Paradoks dalam HMI

Penulis tidak ingin mengobrak-abrik ketenangan hidup kader. Melalui tulisan ini, penulis berbagi cerita tentang kondisi himpunan hari ini.

Meski diragukan banyak orang, penulis masih meyakini kritik adalah anak kandung perubahan. Tanpa kritik, peradaban hanyalah dedaunan kering yang menunggu membusuk tanpa disusul semai kuncup baru. Bagi penulis, selama tujuan HMI belum terwujud, maka selama itu pula sikap diam hanyalah penghianatan atas komitmen para pendiri.

Penulis sadar tidak mudah mengakui diri ada kesalahan. Kebanyakan orang lebih memilih musuh yang jauh dan berada di luar dirinya ketimbang secara jujur mengakui ternyata dirinyalah musuh nyata selama ini.

Penulis tidak ingin menjadi bagian dari kebudayaan bisu yang selama ini sudah ratusan tahun membekukan masyarakat nusantara. Penulis ingin menjadi manusia pelawan jika diinjak, menggugat bila dikhianati, berteriak bila dibungkam, dan menerjang bila dihadang.

Entah berapa ribu kali kemuakan yang penulis rasakan. Seandainya unek-unek dan beban pikiran ini tidak tertuang, mungkin akan membusuk bersama kepengecutan melihat ketidakjujuran yang menggejala di sana-sini.

Di himpunan, banyak ketidakkonsistenan sehingga sudah tidak mungkin lagi dibiarkan. Kebohongan sudah menjadi alat politik, ketidakjujuran menjadi cara mencari penghidupan, dan hoaks digunakan sebagai bedak pemerindah citra diri.

Penulis tidak peduli mesti bertambah berapa ribu orang musuh yang tersinggung dengan isi tulisan ini. Yang jelas, kritik adalah bagian dari darah daging kader HMI dan sudah menjadi ciri manusia insan cita.

Artinya, bila ada kader HMI yang terganggu dengan kritik, maka ada yang salah dalam dirinya. Kader HMI meyakini, semua manusia relatif, perkataan dan programnya pasti tidak sempurna. Oleh karenanya, diperlukan kritik untuk menutupi celah kekurangan tersebut.

Jika tidak ada seorang pun yang memulai gerakan kritis, maka himpunan pelan-pelan tenggelam digembosi kecongkakan elitenya. Bila kalian membuka mata lebar-lebar, betapa makin hari HMI makin tidak relevan dibandingkan organisasi dan community lain yang tiap waktu makin kreatif, sedangkan kita asyik dalam konservatisme dan cara-cara lama dalam me-manage organisasi.

Seandainya jalan kita ada tembok besar dalam gelap, yang di baliknya ada anjing-anjing galak, tanpa senjata apa pun, penulis akan mendobrak dinding tersebut. Dalam dunia yang serba cepat dan menggilas tanpa ampun, tidak ada cara lain kecuali terus melaju dan membuang jauh-jauh ketakutan pada perubahan. Jika perubahan tidak dapat diharapkan dari ‘’atas’’, maka yang ‘’bawah’’ harus siap bila sewaktu-waktu terpanggil untuk menjebol ketradisionalan cara pandang golongan tua.

Dalam perkaderan HMI, sayangnya masih banyak cara-cara lama dan bar-bar digunakan. Kita tahu, sasaran perkaderan hari ini ialah mereka yang lahir pada milenium baru. Mereka generasi mapan, anak kandung demokrasi, dan tidak mungkin diperlakukan layaknya pelatihan ketentaraan.

Artinya, metode training dengan menampar atau kekerasan fisik kepada kader di ‘’Latihan Kader 1’’ sudah tidak zamannya lagi. Banyak hal yang penulis tidak setujui mengenai cara-cara lama dalam metode pelatihan.

Watak kader HMI hari ini dipenuhi fakta-fakta aneh. Ada kader jarang salat, tapi perilakunya lebih jujur ketimbang yang rajin salat. Ada kader sepintas pakaiannya islami banget, tapi gaya pacarannya ‘’gila-gilaan’’.

Ada senior yang kalau bicara filsafat jagonya minta ampun, tapi nomor satu kalau disuruh ‘’minum’’ dan madon. Ada pengurus yang selalu bicara pentingnya hidup jujur, tapi tidak pernah secara terbuka menyampaikan sisa anggaran padahal kegiatan sudah selesai dilaksanakan.

Dalam wilayah pergerakan, ketika mengkritik pemerintah dan menuntut perubahan, mereka getol sekali. Tapi saat sudah lulus menjadi sarjana, mereka menjadi yang paling sampah dalam dunia kerja.

Alasannya, mereka tidak terbiasa diatur dan bekerja dalam tekanan. Bekerja adalah berkarya, artinya karyawan menjadi sekrup manfaat dalam laju gerak pembangunan nasional. Mereka yang bertahun-tahun berteriak menuntut kemajuan, menjadi bagian dari omong kosong bila tidak mau bekerja.

Jangankan dicemooh, penulis siap pasang leher agar himpunan ini mengakui ada yang salah dalam pengelolaan organisasi. Demi perbaikan dan kemajuan HMI, penulis rela tidak populer bahkan di hadapan kader-kader HMI sendiri.

Penulis pernah 4 tahun belajar jati diri di ’’Persaudaraan Setia Hati Terate’’. Itu sudah cukup untuk merasakan pahitnya perjuangan mengakui kelemahan diri. Penulis yakin, kritik paling menohok harus dilakukan dari dalam, karena jika orang luar yang mengkritik, dianggap menyerang.

Sepanjang tahun 2017 saja, ada banyak sekali kasus gelap dan berakhir tanpa kejelasan yang memuaskan. Tengok saja kasus isu uang dalam perpindahan sekretariat PB HMI di Jalan Diponegoro, statement pimpinan KPK Saut Situmorang yang tendensius pada HMI, Mulyadi P Tamsir yang memakai baju dukungan untuk Anies-Sandi, plagiarisme artikel di tubuh PB HMI, kasus pemukulan dan kekerasan di markas Jalan Sultan Agung, serta sederet persoalan lain yang berakhir ‘’gelap’’.

Penulis meyakini bohong besar bila dikatakan HMI sedang baik-baik saja. Apakah HMI masih dikatakan independen bila kenyataannya Ketua Umum PB HMI secara terang-terangan terlibat politik praktis? Apakah keislaman ala HMI masih terjaga bila NDP tidak lagi menjadi ciri islamnya para kader? Apakah HMI masih relevan dikatakan organisasi pencetak intelektualis bila kadernya menjauhi buku dan asyik menjadi budak game online?

Anda mau berdalih secanggih apa pun, kalau kenyataan seperti itu, Anda mau apa? Sejuta alasan terlontar sekalipun, sedikit pun tidak dapat menutupi fakta yang terjadi di lapangan.

HMI sudah 70 tahun eksis, dan barangkali ini memasuki dekade terakhir keberadaannya. Kalau kita tidak saling menampar supaya sadar kita sudah tertinggal, maka akan sangat fatal akhirnya. Orang lain sudah berorientasi mengejar beasiswa ke Eropa, kader HMI sibuk pukul-pukulan demi jabatan Ketua Cabang.

Penulis tidak tahu ketololan dari mana kader HMI bisa begini hari ini. Dulu HMI yang memelopori halaqoh dan tutoring mengaji di masjid-masjid kampus. Kini kader HMI justru menjadi mahasiswa kebarat-baratan dan tidak ingat kapan terakhir kali tadarusan di masjid. Kenyataan ini membingungkan, justru HMI didirikan untuk memerangi gaya hidup barat di kampus-kampus, sekarang malah menjadi konsumen setia gaya hidup hedonis.

Penulis miris melihat gaya hidup mayoritas elite HMI di Jakarta. Mereka yang seharusnya menjadi teladan organisasi pergerakan, akhirnya banyak yang tenggelam dalam kubangan pencari kesempatan.

Entah karena tuntutan hidup atau terpaksa mengikuti gengsi pergaulan masyarakat, mereka menggadaikan barang termahal yang selama ini menjadi pusaka kader HMI, yaitu idealisme. Hidup yang ideal bukanlah menjadi hedonis-egois, tapi pendamba perubahan untuk semua manusia.

Maka akhirnya menjadi wajar kader-kader di komisariat mencontoh senior mereka di atas. Sosok yang mereka harapkan menjadi teladan nyatanya kalah oleh rasa malas berjuang dan naluri mudah bosan berkonfrontasi melawan kekuatan anti-perubahan.

Pada suatu titik perjalanan kehidupan akhirnya membuat mereka berpikir: "Untuk apa berjuang memeras keringat. Toh akhirnya kaum rakus negeri ini tetap bakal menang. Kenapa saya tidak menjadi bagian yang mengambil keuntungan saja kalau begitu?"

Sungguh kenyataan ini aneh dan edan. Segala yang terjadi terasa bertolak belakang dengan apa yang tercantum dalam dokumen-dokumen organisasi. Apa yang tercantum dalam pedoman perkaderan dan diceramahkan dalam forum training tidak nampak di alam kenyataan. Segalanya hanya berupa pertentangan, ketidakkonsistenan, munafik, dan penuh rekayasa.

Ketika struktur politik membusuk, penulis berharap dunia pendidikan masih bisa diselamatkan. Belum semuanya memang, tapi tesis awal menunjukkan bahwa harapan itu sia-sia.

Perpolitikan PB HMI dan cabang yang terlanjur kotor pun juga berimbas ke arena perkaderan. Pembusukan prosesi pelatihan, saling titip-pesanan-amankan kader, jegal-menjegal pengelolaan training, hingga main potong pemateri menjadi tidak terhindarkan. Pemimpin kotor mengotori semua yang ada dalam kekuasaannya.

Pelan-pelan, tanpa terbantah, semua mengalami kekacauan. Apakah penulis mesti diam saja menyaksikan fakta memuakkan demikian? Penulis pikir hidup ini terlalu berharga untuk dijalani secara diam sedangkan kemunafikan tiap hari berkampanye mengajak orang menjadi busuk semua. Tidak!

Penulis tidak bisa hidup dalam ketenangan yang menipu. Kalaupun terpaksa mesti dimusuhi semua orang, penulis bersedia karena itu risiko biasa yang terjadi bagi setiap orang yang mendamba kemajuan.