MOBILE Legends merupakan salah satu game andalan dari MOBA yang sudah tidak asing lagi di dengar dalam kalangan muda, sebelum game ini muncul, juga sempat muncul game yang tak kalah populernya yakni Clash of Clans (COC) dan Pokemon Go, namun keduanya saat ini tergantikan oleh game ML ini.

Setidaknya terdapat beberapa alasan kenapa kalangan muda keranjingan dengan game ini, salah satunya menurut mereka bermain game merupakan cara terbaik untuk menghilangkan kejenuhan. Namun, hal ini sering kali di salah gunakan, mereka bermain di saat waktunya belajar, bahkan mereka mengesampingkan tugasnya hanya untuk bermain ranked (salah satu medan perang di ML) dengan temannya.

Akankah hal yang seperti ini jika terus menerus dilakukan berdampak untuk pendidikan? Sebelum menjawabnya perlu kita sadari bahwa sesuatu yang telah merasuk dalam alam bawah sadar sangat sulit untuk dihilangkan, begitu juga dengan sebuah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga kita mendapatkan kenikmatan di dalamnya, maka secara bertahap yang demikian itu akan memasuki alam bawah sadar kita.

Padahal jika kita melihat lebih luas lagi yang seharusnya kalangan muda saat ini dianggap sebagai generasi emas, dengan harapan mampu membawa perubahan untuk negeri. Saat ini anggapan yang demikian itu seakan mustahil untuk bisa tercapai jika kalangan muda masih asyik dengan kesibukan yang sifatnya hanya musfra (sia-sia).

Pendidikan sejatinya mampu untuk mengatasi itu semua, sehingga harapan awal dimana kalangan muda yang di gadang-gadangkan mampu membawa perubahan untuk negeri bisa tercapai. Namun, faktanya saat ini semua itu bertolak belakang dengan fenomena di lapangan, banyak sekali kita jumpai para pelajar dalam mengerjakan tugas-tugasnya lebih suka yang instan, dengan asumsi hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban.

Padahal jantung dari adanya sebuah pendidikan adalah proses di dalamnya. Seseorang bisa mengerti akan suatu pengetahuan karena dia telah berproses di dalamnya, baik berproses dalam memahami pengetahuan itu, mencari sumber-sumber dari pengetahuan itu dan masih banyak lagi. Sehingga, pendidikan itu bukanlah sesuatu yang instan, namun ada proses yang cukup panjang sampai dimana titik kepahaman tentang suatu pengetahuan di dapat oleh si pencari pengetahuan.

Jika kita telaah fenomena yang terjadi saat ini dimana kebanyakan kalangan muda sudah mulai keranjingan dengan adanya game. Hal ini menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pendidikan dan harus sesegera mungkin untuk di selesaikan, jika tidak maka imbasnya keberhasilan dari tujuan utama pendidikan mustahil untuk dapat terwujud.

Awal Maret bulan lalu di Pekan Baru telah terjadi penjambretan yang dilakukan oleh dua remaja, setelah mereka tertangkap oleh pihak berwajib, ternyata motif mereka untuk menjambret hanya gara-gara untuk melampiaskan hobinya bermain game online (Tribunnews.com)

Juga pada kasus sama bulan oktober lalu juga terjadi perampokan di sebuah rumah di daerah Sleman, Jogja dengan kerugian mencapai Rp 5 juta, setelah pihak berwajib berhasil mengamankan pelaku, ternyata penyebabnya lagi-lagi game online (TribunJogja.com). dan mungkin masih banyak lagi kasus-kasus serupa.

Hal yang demikian itu bisa terjadi karena mereka di butakan oleh kenikmatan bermain game, sehingga mereka rela melakukan apa saja untuk melampiaskan hobinya. Bagi mereka pendidikan merupakan hal yang sudah tidak menarik lagi, karena yang menarik bagi mereka adalah game, game dan game.

Apakah cukup pendidikan yang harus merubah itu semua? Pendidikan merupakan salah satu sarana saja untuk merubahnya, tanpa adanya kerja sama antara kedua belah pihak antara pendidikan dengan si pecandu, maka hal semacam itu tak akan pernah dapat terselesaikan bahkan besar kemungkinan kecanduan yang berujung pada kejahatan itu semakin menjadi-jadi.

Kerja sama antara kedua belah pihak yang di maksud, dimana si pacandu jika ingin merubah kecaduan harus mempunyai komitmen yang kuat untuk merubahnya dengan cara mengalihkan kebiasaan buruknya pada sesuatu yang lebih bermanfaat semisal baca buku, berolahraga, dll.

Butuh kesadaran dari masing-masing individu untuk dapat memilah dan memilih mana yang baik untuk dirinya dan mana yang tidak baik untuk dirinya. Hal ini dapat dilakukan semua orang, sehingga dengan demikian sangat kecil kemungkinan untuk bisa kecanduan dalam sesuatu yang sifat sia-sia seperti game.

Pada dasarnya bermain game tidak salah dalam pandangan hukum, namun semua itu bisa jadi masalah jika game tersebut membawa pada sesuatu yang melanggar hukum seperti kejahatan (penjambretan, pencurian, pertikaian). Maka tiap-tiap individu diharapkan mampu mengontrol dirinya untuk menghindari bermain game yang secara berlebihan sampai melupakan kegiatan yang lainnya.

Salah satu pentingnya pendidikan bagi keberlangsungan hidup manusia adalah untuk dijadikan pedoman dalam melakukan kegiatannya sehari-hari, baik itu dalam berinteraksi dengan seksama atau untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Sehingga dengan pedoman itu mereka tau mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari.