Menghubungkan antara wabah penyakit dengan kemerdekaan memang tidak biasa. Tetapi menghubungkan antara STOVIA dengan kebangkitan nasional, semua pasti akan sepakat. Karena dari STOVIA lahir tokoh-tokoh yang nantinya menjadi penggerak bagi lahirnya pergerakan nasional, yang pada gilirannya nanti mewujud menjadi negara bangsa yang kita cintai ini.

Siapa yang tidak mengenal tokoh sekaliber Dr. Cipto Mangunkusumo atau Dr. Wahidin Sudiro Husodo? Namanya harum sebagai sosok yang menggulirkan ide nasionalisme, meski dalam ruang dan lingkup yang terbatas kala itu. Tetapi apa yang beliau-beliau lakukan di zamannya memberi inspirasi bagi banyak gerakan selanjutnya.

Keduanya merupakan alumni dari sebuah lembaga pendidikan yang bernama STOVIA ( School Tot Opleiding Van Indische Artsen ). Sekolah yang diperuntukkan untuk membentuk dokter pribumi, berkedudukan di Batavia, Hindia Belanda. Sejarah juga mencatat, STOVIA melahirkan banyak tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya.

Sejarah Lahirnya STOVIA

Latar belakang didirikannya STOVIA yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Dokter Djawa adalah ide Gubernur Jenderal Duymaer van Twist.  Belia menyarankan perlunya mendirikan sekolah khusus petugas vaksin guna menangani wabah cacar, yang kala itu melanda sepanjang pantai utara Pulau Jawa dan di wilayah Karesidenan Banyumas.

Akibat wabah ini, kematian di Pulau Jawa mencapai 1/3 penduduk. Pemerintah Hindia Belanda khawatir angka kematian penduduk yang tinggi, akan berdampak pada hasil panen perkebunannya. Sulitnya mendapatkan tenaga medis dan mahalnya biaya mendatangkan tenaga medis dari Belanda, membuat Dokter Willem Bosch mencetuskan gagasan mendidik pemuda bumiputera untuk menangani masalah kesehatan di wilayahnya.

Pendidikan kedokteran ini resmi didirikan pada 1 Januari 1851, dengan membuka Onderwijs van Inlandsche èléves voor de geneeskunde en vaccine atau Pendidikan Kedokteran dan Vaksin Anak-Anak Bumiputera di Rumah Sakit Militer Weltevreden (sekarang RSPAD).

Pelajaran vaksinasi menjadi pelajaran prioritas, karena siswa yang telah lulus akan menangani berbagai penyakit yang selalu muncul di masyarakat, seperti cacar, kolera dan disentri. Pendidikan ini bernama Dokter Djawa, karena hingga 1854, sekolah ini hanya menerima siswa dari pulau Jawa. Baru pada 1856, Sekolah Dokter Djawa menerima siswa diluar jawa, yakni 2 pemuda dari Pantai Barat Sumatera, dan 2 pemuda dari Minahasa.

Lahirnya Budi Utomo

Pada Tanggal 20 Mei 1908, di ruang Kelas Anatomi STOVIA, diselengarakan pertemuan dan menghasilkan terbentuknya organisasi Boedi Oetomo dengan Ketua R Soetoemo, Wakil Ketua M Soelaiman, Sekretaris I Soewarno, Sekretaris II M Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Bendahara R Angka.

Ide pembentukan Boedi Oetomo sejatinya telah berlangsung sekitar setahun sebelum organisasi tersebut terbentuk. Wahidin Soediro Hoesodo, seorang dokter lulusan STOVIA  memiliki peranan penting dalam proses berdirinya Boedi Oetomo.

Dr. Wahidin merasa prihatin melihat kondisi masyarakat yang tidak mampu dan kesulitan biaya sehingga tidak dapat merasakan pendidikan formal dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Setelah mendapat dana dari para bangsawan Jawa dan Belanda, dia membentuk Studiefonds ( pengelolaan bea siswa) dan mempropagandakannya dengan berkeliling Jawa lalu singgah di STOVIA.

Dr. Wahidin memberi  wejangan para pelajar STOVIA mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk membebaskan diri dari keterbelakangan. Dari sinilah Raden Soetomo dan Mas Soeraji menemui Dr. Wahidin Soedirohoesodo mengenai pentingnya organisasi untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dan pada akhirnya mereka sepakat mendirikan organisasi Budi Utomo.

Berdirinya Budi Utomo ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional, sebuah langkah awal bagi berdirinya organisasi modern yang mengusung ide kebangsaan Indonesia. Meski kala itu organisasi masih sangat terbatas bagi kalangan berpendidikan Jawa, tetapi gagasan kebangsaan yang diusung memberi inspirasi bagi kelahiran organisasi pergerakan lainnya.

Pandemi Covid 19 dan Peringatan ke 75 Kemerdekaan Indonesia

Di tengah pandemi yang kini melanda dunia dan peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-75, rasanya relevan mengingat kembali dari mana ide kebangsaan itu diawali. Sebuah Lembaga Pendidikan  kedokteran, yang dulu juga bergelut dengan wabah yang melanda negeri ini. Bencana, tetapi juga sekaligus melahirkan titik terang bagi lahirnya sebuah bangsa dan negara.

Perang selalu melahirkan pahlawan. Kesulitan, selalu melahirkan inovasi dan inspirasi. Setiap periode zaman, selalu lahir orang-orang yang dapat menginspirasi masyarakat keluar dari situasi yang menekan tersebut. Lantas bagaimana dengan saat ini ?

Pidato presiden yang menyatakan; "Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru, momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan," kiranya sangat tepat menurut saya. Terutama apabila kita bersedia untuk mempelajari sejarah sejenak. Sejarah tentang kelahiran sebuah Lembaga Pendidikan kedokteran Jawa yang pada gilirannya melahirkan generasi terdidik yang sadar akan keberadaan bangsanya.

Dirgahayu Republik Indonesia.