Semua pelajar di Indonesia bahkan mungkin dunia pasti tahu bagaimana rasanya serta kesulitannya untuk pertama kali belajar online.

Belajar online dengan bermodalkan sebuah media yaitu internet, di mana internet yang semulanya adalah sahabat yang tidak pernah disentuh dalam belajar, tiba-tiba berubah menjadi sahabat terpenting setiap saat setiap waktu. 

Tentu pandemi Covid-19 lah yang mengubah stereotip tersebut ke dalam diri setiap pelajar. Pandemi perusak kesehatan, ekonomi, bahkan pendidikan. Pandemi membuat semua pelajar bahkan semua orang bergantung dengan internet.

Internet mati? Pusing tujuh keliling. Makan, bekerja, belanja hingga belajar pun serba online.

Apakah aktivitas online berdampak baik? Tentu tidak. Aktivitas online karena pandemi beberapa tahun ini membuat semua orang menjadi manusia malas. 

Lihatlah para pelajar yang tidur di depan laptop dan handphone mereka! 

Apa yang mereka dapat? Apakah Ilmu? Mereka hanya menjadi bergantung dengan internet itu sendiri. Mereka menjadi santai tertidur pulas ketika kegiatan belajar berlangsung, karena pengajar mereka tidak bisa tahu apa yang mereka lakukan. 

Apa ada pelajar yang tidak menemukan teman atau bahkan dirinya yang tertidur ketika pelajaran online berlangsung? Atau bahkan sengaja tidur dan hanya melakukan absensi?

Anehnya, dulu mereka menganggap belajar online adalah hal yang sulit dilakukan. Saat ini bagaimana? Tentu semua pelajar terlalu dalam zona nyaman. Ya, zona dimana bisa tidur online, berbeda dengan dulu dimana mereka ketika di kelas mengantuk saja ditegur.

Ada juga para pelajar yang tidak masuk kegiatan belajar online, dimana mudah bagi mereka untuk mencari alasan. Bahkan alasan mereka sebanyak debu yang tak kasat mata. Selalu ada alasan mulai dari internet mati, listrik mati, laptop rusak, atau bahkan kuota habis.

Mereka mulai bergantung dengan media online dalam beberapa hal seperti saat adanya ujian, tidak memperhatikan pelajaran, bahkan tidak mengikuti pembelajaran dan hanya melakukan absen. 

Pandemi yang menyerang seluruh orang ini menimbulkan wabah baru yaitu mental online. Para pelajar bergantung akan hal itu untuk mencari nilai tanpa memperhatikan ilmu yang didapat.

Apakah belajar dengan media online (video call, aplikasi) ilmunya terserap ke dalam otak? Tentu tidak bisa dikatakan 100% terserap ilmunya, bahkan hanya mata pedih dan minus yang mereka dapat.

Apakah mereka memperhatikan dengan baik? Coba lihat Spotify dan YouTube di laptopnya yang menyala.

Apakah nilai mereka bagus ketika online? Bisa dibilang bagus, karena setiap pertanyaan dari pengajar dapat dijawab dengan kecepatan tangan di google mereka.

Bandingkan dengan keadaan sebelum pandemi, di mana membawa handphone bagi beberapa pelajar itu dilarang, tidur pun juga tidak bisa. Jika tidak memperhatikan ujian pun akan sulit. Berbanding terbalik dengan online di mana belajar bukanlah kewajiban.

Apa yang diinginkan orang? Apa yang menjadi faktor kelulusan? Nilai adalah kuncinya, ujian perantaranya serta online cara curangnya. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu benar dan sah jika dikatakan. Itulah mengapa ketika para pelajar sudah mendengar berita akan dimulainya belajar offline mereka pasti akan memiliki reaksi sedikit takut. Mungkin tidak semua, namun pasti ada yang begitu.

“Nilai bukanlah segalanya, namun nilai dapat merenggut segalanya.” Itulah sistem pendidikan Indonesia saat ini.

Ketakutan itulah yang kadang beberapa orang sebut mental online

Apakah itu salah? Tentu tidak, karena kebiasaan dalam beberapa tahun dapat mengubah diri mereka. Jika waktu dapat mengubah pikiran, tentu jika ingin mengubah kembali perlu waktu yang sama atau lebih.

Pandemi yang awalnya adalah penyakit perusak kesehatan berubah menjadi wabah di kegiatan belajar mengajar. Para pelajar yang mengejar masa depan dengan ilmu, berubah menjadi mengejar nilai dengan internet. 

Pendidikan bukanlah satu-satunya faktor penentu masa depan, tapi masa depan dapat ditentukan oleh pendidikan. 

Masa depan bukanlah sesuatu yang tertulis, namun masa depan dapat menjadi sejarah yang tertulis.

Apakah pelajar bermental online itu salah? Tentu saja tidak, karena pada dasarnya keadaan yang membuat mereka begitu. Mental online itu sendiri sudah mewabah. Sistem pendidikan yang mementingkan nilai juga mendukung wabah mental online itu sendiri. 

Wabah mental online ini adalah akibat dari pandemi Covid-19 yang menyerang para pelajar dari SD bahkan perguruan tinggi. 

Covid-19 perlu bertahun-tahun untuk lenyap, begitu pula dengan wabah yang diderita para pelajar. Obat wabah ini hanyalah sederhana yaitu waktu dan penyesuaian. 

Waktu memang tidak bisa mengubah diri mereka, namun mereka dapat mengubah waktu itu menjadi lebih berharga. Waktu yang digunakan untuk mengubah perilaku mereka seperti menggunakan waktu untuk belajar adalah hal yang dapat menghilangkan wabah mental online tersebut.

Rubah internet menjadi positif dalam belajar, bukan positif dalam kecurangan. 

Waktu akan berlalu begitu pula wabah mental online itu.