Saat itu aku berumur tujuh belas tahun, anak ragil dari dua bersaudara, Kakakku waktu itu berumur dua puluh tahun dan melanjutkan pendidikan menempuh gelar sarjana.

Kami adalah kakak-beradik yang beruntung, apapun kebutuhan kami selalu terpenuhi. Kami jarang membantu membersihkan rumah soalnya ada Mbak Retno sebagai asisten rumah tangga. Kecuali ruang privasi yang menjadi tanggung jawab masing-masing dari kami.

Kedua orangtua kami sering sibuk menyuplai dagangan kepada klien, mereka menjadi salah satu dari beberapa, mungkin hanya lima yang menjadi distributor tembakau dari Jawa Timur ke pasar-pasar Jawa Tengah.

Mereka sendiri yang menghandel pekerjaan, Ibu bertugas mengatur transaksi sedangkan Bapak yang menjadi sopirnya. Tidak hanya menjadi sopir Bapak juga menjadi teman diskusi Ibu dalam mengatur transaksi.

Bahkan kadang mereka menjadi kuli bagi dagangan mereka sendiri. Meski begitu ketika kebetulan terdapat tenaga tambahan untuk membantu mengangkut barang ke kendaraan, mereka menerimanya dengan senang hati juga tidak lupa memberi upah. Orangtua kami sangatlah gigih.

Tetapi saat itu aku heran dengan keputusan kedua orangtuaku ketika meminta bantuan Paman untuk mencarikan calon suami bagi Kakak. Kata Bapak memang seharusnya Kakak segera menikah agar dapat menemani terutama menjaganya di perantauan dari pergaulan bebas. Lagipula tidak ada larangan menikah bagi mahasiswa.

Lebih mengherankan lagi adalah reaksi Kakak yang menurut, tidak protes, Mbakyuku niki jan mendel mawon. Walau telah melihat reaksinya, tidak serta merta aku mengabaikannya. Aku berinisiatif untuk lebih memerhatikannya karena takut kalau diamnya seperti di novel-novel yang kubaca, yaitu diamnya seorang gadis tanpa kuasa dalam lingkungan patriarki.

Setelah itu kudapati Kakak tetap santai seperti biasa. “Tidak, aku tidak boleh lalai karena bisa jadi luar dan dalamnya berbeda, jangan sampai perasaan Kakak berubah mati rasa,” kataku menyemangati diri sendiri.

Oleh sebab itu kuputuskan untuk terus melakukan pengamatan, harus lebih bersabar lagi. Ngomong-ngomong aku bisa terus mengamati Kakak karena ia sedang menikmati liburan semesternya.

Kami punya banyak hobi dan mungkin hanya satu yang sama, membaca. Selain itu Kakak juga hobi memasak, berkebun, menonton film terutama drakor. Sedangkan hobiku selain membaca adalah berenang, nongkrong bersama teman, dan menonton film. Iya, aku salah karena mengatakan hanya satu hobi kami yang sama.

Berhubung aku sedang melaksanakan agenda penyelidikan maka kedua hobiku berenang dan nongkrong untuk sementara kuliburkan, kecuali kalau ada teman yang tiba-tiba nongkrong di rumahku.

Kakak terlihat sedikit penyendiri karena hobinya ya? Tetapi sebenarnya  ia lebih sering menerima tamu daripada aku. Walaupun tamunya hanya itu-itu saja, tamu itu adalah sahabatnya.

Pernah terpikir untuk menguping pembicaraan mereka, aku punya firasat kalau Kakak pasti curhat dengan sahabatnya mengenai perjodohan yang ia alami. Tetapi tidak ada topik mengenai perjodohan.

Mungkinkah Kakak baru curhat ketika merasa benar-benar nyaman? Ketika ia dan sahabatnya berada di dalam kamar? Kakakku sangat waspada, aku bangga dengannya juga sebal.

Hingga tiba waktu pertemuan kedua calon mempelai, saat itu pula aku mengerti jika Kakak mempunyai kendali penuh terhadap dirinya sendiri. Kakak menolak pinangan calon mempelai laki-laki. Penolakan Kakak disampaikannya kepada Bapak ketika berdua di kamar.

Aku sempat kaget, bahkan sedikit cemas ketika Bapak memohon maaf kepada calon mempelai laki-laki. Raut wajah Paman juga begitu tenang penuh dengan pemakluman, begitu juga raut wajah calon mempelai laki-laki, namanya Mas Hasan. Apa maksud dari semua ini?

Setelah mas Hasan pamit undur diri, aku memberanikan diri bertanya kepada Kakak, “Mengapa Kakak bisa menolak pinangan Mas Hasan, lalu kenapa Bapak menerimanya dengan mudah, bahkan Paman dan Mas Hasan juga?”

“Jadi sebenarnya Bapak mengizinkan Kakak untuk menerima atau menolak pinangan dari laki-laki yang dipilihkan Paman dan Bapak.”

“Kok bisa begitu?” tanyaku, dan Kakak menjawab, “Entahlah.”

“Kok aneh?”

“Kakak juga sempat bertanya kepada Ibu, tidakkah menimbulkan masalah jika menolak pinangan? tetapi Ibu memberi tahu bahwa calon lelaki telah diberi syarat oleh Bapak dan Paman agar diperbolehkan meminang Kakak.”

“Hah syarat? Oh mungkinkah syaratnya adalah menerima dengan ikhlas apapun keputusan Kakak?”

“Benar, itulah syaratnya.”

“Tapi Kak, kalau begitu mengapa Bapak tidak membiarkan Kakak mencari sendiri? Dengan cara berpacaran mungkin?”

“Ngapain repot-repot? Kakak dengan hanya melihat saja sudah tahu apakah akan cocok dengan dia.”

“Hah?” Jawabku linglung.

“Lagipula Kakak tidak punya keinginan untuk berpacaran. Bapak percaya sama Kakak, hanya saja Bapak sampai mau repot mencarikan calon karena takut Kakak menjadi perawan tua, Ibu yang memberi tahu.”

“Woalah begitu to Kak.”

Setelah percakapan tersebut aku kembali dalam rutinitasku secara penuh. Selama satu bulan setelah percakapanku dengan Kakak, ia telah menolak pinangan tiga laki-laki. Jujur, sampai saat ini aku belum percaya dengan kemampuannya menilai seseorang sekali pandang.

Tidak mungkin manusia dapat menjadi seperti itu, pasti Kakak telah menerima rincian informasi mengenai lelaki yang akan meminangnya entah dari Bapak atau Paman. Jadi kuputuskan mengambil jatah sebagian rutinitasku untuk menyelidiki dugaan tersebut.