Dibuka oleh adegan Freddie Mercury (Rami Malek) bangun menuju stadion Wembley untuk konser Live Aid tahun 1985. Adegan pembuka ini sangat meyakinkan dalam memvisualisasikan imajinasi seorang bintang rok besar yang melangkah menuju konser akbar.

Pada tahun 1970, Farrokh Bulsara (Adam Rauf) hanyalah pelajar sekolah menengah yang tak punya masa depan. Sebagai minoritas keturunan Parsi di Inggris, ia kerap kali diejek saat bekerja sebagai pengangkut bagasi. Hingga pertemuan dengan Brian May (Gwilym Lee) dan Roger Taylor (Ben Hardy) setelah pertunjukan musik di sebuah klub lokal mengubah nasib mereka semua.

Ditambah basis John Deacon (Joseph Mazzello), Bulsara yang mengganti nama menjadi Freddie Mercury merintis kejayaan Queen dari bawah. Bersama itu Freddie mulai membina hubungan dengan Mary Austin (Lucy Boynten), perempuan suportif yang akan menginspirasi single Love of My Life.

Dekade pertengahan 1970an dilewati Queen dengan penuh kesuksesan. Tur dan album menjadi bagian rutinitas mereka. Hingga pada awal 1980an, Freddie mulai merasakan kejenuhan. Kehidupan personalnya pun mulai bermasalah. Masalah itu memisahkan Queen selama beberapa waktu. Hingga mereka disatukan oleh konser Live Aid yang diinisiasi Bob Geldorf.

Bohemian Rhapsody menampilkan rangkaian peristiwa hidup Freddie Mercury berikut Queen selama 15 tahun, dari 1970-1985. Sayangnya, dalam banyak hal, kehidupan Freddie tidak digali lebih dalam. Sekalipun latar lagu-lagu Queen sangat meyakinkan.

Proses kreatif penciptaan beberapa hits seperti Bohemian Rhapsody, We Will Rock You, dan Love of My Life juga sangat menarik. Terutama bagi para penonton yang lahir atau besar setelah Freddie Mercury meninggal dunia pada 1991.

Bagian penuntup Bohemian Rhapsody dikemas sempurna. Bagi penonton yang tidak sempat menjadi saksi mata era kejayaan Queen, adegan akhir film ini benar-benar mengesankan mereka saat berjalan keluar bioskop.

Pengambilan kamera dan tata suara Bohemian Rhapsody boleh dibilang sempurna menggambarkan Freddie Mercury sebagai bintang rok terbesar saat itu. Kekuatan vokal Freddie yang konon mencapai empat oktaf dan suara fans Queen benar-benar menggetarkan penonton film

Ada banyak aspek menarik hidup Freddie Mercury yang dibiarkan begitu saja. Ia berlatar etnis minoritas. Keluarganya berasal dari etnis Parsi penganut Zorroaster yang tinggal di India lalu pindah ke Inggris. Di Inggris, Freddie sering dipanggil “Paki”, sebuah kependekan dari “Pakistan.

Tentu saja panggilan itu berbau anyir diskriminasi ras. Freddie sendiri tidak nyaman dengan identitasnya sebagai Farrokh Bulsara. Namun perkelahian identitas dalam diri Freddie hanya ditampilkan dengan cukup mengambang.

Hanya kisah soal jumlah gigi Freddie saja yang ditampilkan meyakinkan. Freddie terlahir dengan empat gigi ekstra. Kondisi yang awalnya bisa menghambat karier bermusik, dengan meyakinkan diubah Freddie menjadi modal ekstra yang membesarkan dirinya.

Freddie juga punya orientasi seksual yang berbeda dari mayoritas hereoseksual. Sementara undang-undang yang menghapus pemidanaan bagi pasangan homoseksual yang berusia di atas 21 tahun, baru disahkan tahun 1967.

Tentu tidak mudah untuk seorang biseksual hidup di Inggris zaman itu. Sebagai seorang yang kerap merasa kesepian, tentu Freddie mengalami kompleksitas psikologis karena, sekali lagi, harus berbeda dari orang lain pada umumnya. 

Namun perjuangan personal Freddie terkait orientasi seksualnya tidak dieksplorasi lebih mendalam. Reaksi Freddie Mercury setelah dikhianati Paul Prenter (Allen Leech), manajer pribadinya, pun cukup datar. Tidak terasa kegelisahan, amarah, dan perasaan kecewa yang sangat mendalam.  

Kondisi psikologi Freddie ketika mengetahui dirinya mengidap AIDS pun hanya dikemas seperti informasi. Naskah cerita yang ditulis Anthony McCarteen (The Theory of Everything dan Darkest Hour) tidak cukup kuat membuat penonton berempati apalagi sampai menangis. Kesedihan dan kecemasan seorang bintang besar yang tahu sebentar lagi akan meninggal akibat penyakit serius tidak terasa pada film ini.

Untuk ukuran film yang secara umum sudah diketahui alurnya lewat laman wikipedia, dramatisasi Bohemian Rhapsody gagal menguatkan rangkaian peristiwa hidup yang dialami Freddie Mercury. First Man jelas lebih mampu mendramatisasi hidup Neil Armstrong yang tampaknya biasa-biasa saja sebelum penerbangan ke bulan yang historis.

A Star Is Born (2018) dengan gemilang berhasil menggambarkan usaha keras Jack Maine melawan adiksi alkohol, penurunan karier, dan gangguan pendengaran. Walaupun sudah ada empat versi A Star Is Born dengan alur cerita dengan garis besar yang sama sebelumnya.

Freddie Mercury sebenarnya punya pertarungan personal yang mirip dengan Jackson Maine. Keduanya musisi besar, yang pada titik tertentu, kariernya terancam akibat masalah pribadi. Namun sutradara Brian Singer gagal menggali lebih dalam konfilk pribadi Freddie Mercury. Visualisasi konflik personal Freddie Mercury dalam film ini tidak berhasil menguras emosi penonton.

Rami Malek bermain cukup aman memerankan Freddie Mercury. Aksi panggungnya relatif meyakinkan mempresentasikan kebesaran Mercury di panggung. Walaupun aktingnya dalam menampilkan sisi privat Mercury tidak terlalu istimewa, meskipun tidak buruk juga. Hal ini juga diakibatkan oleh keterbatasan kualitas skenario.

Lucy Boynten bermain mengesankan sebagai Mary Austin. Tidak mudah memerankan sosok perempuan yang mendukung karier Mercury sejak awal tapi harus merelakan hubungan karena sang bintang ternyata punya orientasi seksual yang berbeda. Transformasi Mary dari pasangan kemudian menjadi sahabat hidup Mercury benar-benar mengesankan.

Gwilym Lee, Ben Hardy, dan Joseph Mazzello bermain cukup aman sebagai Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon. Akting mereka tidak mengecewakan walaupun tidak terlalu mempesona. Naskah skenario tidak mampu meledakkan emosi mereka saat Queen sedang krisis dan Mercury membutuhkan dukungan.

Melihat jangka waktu produksi Bohemian Rhapsody dari pengumuman sampai diterbitkan, film ini cukup mengecewakan. Proses penggarapan yang diwarnai penggantian calon pemeran Freddie Mercury dan beberapa personel produksi selama sewindu, ternyata gagal menjamin kualitas dramatisasi Bohemian Rhapsody.

Secara keseluruhan, Bohemian Rhapsody hanya seperti bentuk visual kehidupan Freddie Mercury minus dramatisasi yang kuat. Namun sekitar 20 lagu Queen yang dinikmati dengan kemegahan tata suara bioskop benar-benar megah. Lagu-lagu Queen dalam film ini akan membawa penonton bernyanyi dan bernostalgia (B-)    

Bohemian Rhapsody Final Trailer