Pada saat ini kita telah memasuki era serba digital, segala sesuatu bisa didapat dengan barang canggih bernama telepon genggam atau gawai, alat komunikasi sekaligus alat elektronik yang sudah tidak asing lagi bagi manusia.

Di dalam gawai, tidak hanya terdapat informasi, tetapi juga banyak sekali hiburan. Hiburan tersebut dapat diperoleh melalui berbagai aplikasi seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan lain-lain. Siapa sih yang tidak mengenal aplikasi tersebut? Bahkan, balita saja sudah kenal dengan aplikasi tersebut. 

Sekarang ini, banyak kita temui anak kecil yang setiap harinya memegang gawai. Ketika anak-anak menangis, marah, dan rewel, kebanyakan orang tua akan menenangkan anaknya menggunakan gawai. Memang telepon pintar, bahkan mengalahkan kepintaran manusia.

Sebenarnya ada nggak sih hal positif yang diperoleh dari gawai? Pertanyaan yang sering muncul di pikiran banyak orang. Jika berbicara tentang manfaat, tentu saja ada. Apabila seseorang dapat menggunakan gawai dengan baik, akan banyak manfaat bagi orang tersebut bahkan bagi orang lain.

Kita ambil contoh satu aplikasi yang pasti semua orang sudah tidak asing lagi yaitu “TikTok”. Aplikasi ini menyediakan berbagai video menarik. Banyak sekali konten-konten yang ditawarkan, mulai dari edukasi, berita, tutorial membuat sesuatu, dan segala macam hal yang viral. 

Indonesia merupakan negara pengguna TikTok terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Dilansir dari celebrities.id, pengguna TikTok di Indonesia mencapai 99,1 juta orang dengan rata-rata menghabiskan waktu di TikTok sebanyak 23,1 jam per bulan.

TikTok awalnya sangat booming di kala Covid-19 mengganas. Pada saat itu, masyarakat dituntut untuk tidak keluar rumah dan menghabis waktu di rumah saja. Dari sini, banyak orang yang mengeluhkan keterbatasan fasilitas yang ada.  

Ternyata keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para konten kreator untuk tetap menghibur masyarakat. Banyak informasi, video hiburan dan konten-konten lain yang dapat menghibur masyarakat kala itu. Akhirnya hal itu pun terjadi hingga sekarang.

Jika diamati, konten-konten viral di TikTok banyak yang ditiru hingga ke dunia nyata. Apa saja yang viral pasti terbawa hingga kehidupan nyata, konten parodi film dan prank contohnya. 

Salah satu video yang saat ini sedang viral adalah parodi pemeran Dilan dalam film “Dilan 1990”. Akting Iqbal Ramadhan yang berperan sebagai pria dengan jaket khasnya itu, diparodikan oleh seseorang dengan tampilan rambut nyentrik dan gaya bicara yang kocak. 

Kalimat khas dari parodi Dilan KW ini adalah “kamu nanya?”. Kalimat ini sudah akrab di telinga anak muda karena sering muncul di beranda TikTok, Instagram, ataupun aplikasi lainnya. Bahkan diantara mereka banyak yang menirukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari kisah pemuda yang memparodikan sosok Dilan tadi, bisa menjadi contoh bahwa TikTok mampu menjadi jalan bagi ketenaran seseorang di media sosial. Bahkan Dilan Cepmek, sapaan akrab Dilan KW, pernah diundang di acara televisi nasional.  

Potongan rambut yang dinamai “cepmek” itu menjadi viral dan kerap kali diikuti oleh masyarakat Indonesia. Gaya bicara “kamu nanya?” menjadi populer sekarang. Gaya bicara yang terkesan kocak itu menjadi bahan lelucon anak muda. 

Media sosial, terutama TikTok tidak memiliki segmentasi terhadap para penggunanya.  Hal ini menjadikan semua orang bebas mengakses TikTok. Selain itu, konten TikTok juga tidak terbatas. Sehingga memungkinkan hal-hal yang seharusnya tidak dipertontonkan bagi khalayak umum dapat dengan bebas diakses.

Selain itu, berita yang tidak benar kerap kali menjadi viral dan menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat. Karena tidak adanya segmentasi dan pembatasan pengguna, masyarakat bisa dengan mudah membuat dan melihat apa saja.

Di balik tenarnya TikTok, ternyata dilansir dari kompas.com, di tahun 2020 TikTok mendapatkan stigma negatif dari beberapa negara. Bahkan pada September 2020, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melarang warganya mengoperasikan aplikasi TikTok. 

Dua tahun sebelumnya, di Indonesia, TikTok sempat diblokir karena banyaknya konten yang melanggar aturan dan tidak mendidik. 

Dilansir dari cnnindonesia.com, menurut pengamat sosial budaya, masalah TikTok yang sering dialami remaja dan anak-anak adalah bentuk kurangnya pengawasan dari orang tua. 

Pada dasarnya perkembangan teknologi sangat dibutuhkan bagi anak muda untuk menggali potensi dan mencari jati diri. Namun, hal itu tidak menjadikan anak muda bebas dari pengawasan, mereka tetap butuh bimbingan dan pengawasan. 

Karena sifat alamiah anak muda yang suka mencoba, akan sangat memungkinkan mereka mencoba hal yang seharusnya tidak dilakukan. Kata Devie, pengamat sosial budaya sekaligus akademisi UI, orang tua adalah pihak yang patut disalahkan dalam penyelewengan dan pelanggaran sosial media pada anak. 

Namun, dibalik segala sisi negatif tadi, media sosial terutama TikTok berhasil memberikan banyak dampak positif. Dengan kebebasan pers di media sosial, masyarakat bisa mengungkapkan narasi dan persepektifnya tentang segala hal. 

TikTok yang menawarkan fitur video, juga menjadi ajang untuk aksi-aksi sosial masyarakat. Namun, jangan jadikan hal ini sebagai ajang untuk tenar belaka. Nyatanya, manusia ialah makhluk sosial yang sudah seharusnya hidup tolong-menolong.

Tak lupa konten-konten edukatif juga ada dalam TikTok. Para penggiat pendidikan menyalurkan ilmu-ilmu yang mereka miliki melalui TikTok dengan bumbu-bumbu kreativitas yang pastinya menarik perhatian para pengguna TikTok. 

Dari serangkaian uraian di atas, berlaku bijak adalah jawaban dari kegelisahan kita tentang baik dan buruknya TikTok. Perlu untuk membentengi diri dari segala hal negatif di luar sana. Gaul bukan berarti selalu mengikuti tren, tetapi gaul adalah mampu beradaptasi terhadap perubahan dengan baik.