Ketika dunia pertama kali digemparkan dengan keberadaan virus Covid-19 dan meningkat statusnya menjadi pandemi yang berskala nasional dan internasional, berbagai reaksi reaksi beragam muncul ke permukaan untuk merespon sesuatu yang belum teridentifikasi dengan jelas. Jika dipetakan akan terbagi menjadi beberapa kelompok sbb:

Pertama, mereka yang menyangkal keberadaan virus Covid-19. Bagi mereka yang berdiri dalam posisi penolakan ini tidak mempercayai bahwa dibalik terjadinya sebuah peristiwa global terjadi secara alamiah begitu saja. Mereka meyakini bahwa ada sebuah grand design dan intervensi the invisible hand dibalik berita menghebohkan terkait pandemi Covid-19.

Kelompok penolak ini biasanya mengembangkan sejumlah teori konspirasi yang menuduh keterlibatan sejumlah tokoh publik baik dari kalangan pemerintahan maupun swasta dan kebijakan yang dihasilkan dibalik penanganan Covid-19. Argumen yang dibangun sangat meyakinkan dan dipenuhi dengan berbagai data-data yang terlihat signifikan serta dijahit rapih menjadi sebuah tayangan yang dikonsumsi publik. Dan tidak lupa tayangan-tayangan ini mengajak para penontonnya untuk memberikan tanda like dan subscribe.

Dari para influencer yang terkadang anonim inilah sejumlah pengikut terbentuk. Para pengikut inilah yang akan menyebarluaskan gagasan penolakan baik melalui berbagi di jaringan media sosial maupun percakapan mulut ke mulut dan secara perlahan membentuk kesadaran publik

Kedua, mereka yang menerima keberadaan virus Covid-19. Bagi mereka yang berdiri dalam posisi penerimaan ini menganggap bahwa kejadian luar biasa ini dapat terjadi oleh banyak faktor dan yang terutama diupayakan adalah bagaimana menghadapi dan beradaptasi dengan situasi pandemik yang terjadi.

Berangkat dari situasi pandemik muncullah sejumlah riset dan penelitian dengan tujuan untuk menghadapi dan beradaptasi sehingga jumlah korban dapat ditekan. Pemerintah dan para pemangku kebijakan tentu berada di pihak kedua ini.

Ternyata model yang sama terjadi ketika berbagai upaya “perlombaan” penelitian di antara sejumlah bangsa telah melahirkan berbagai penemuan formula vaksin dan sejumlah kebijakan pemerintah dipersiapkan untuk pelaksanaan vaksinasi.

Berbagai reaksi penolakan dan histeria kembali muncul di bawah panji-panji teori konspirasi. Kita dapat membaca berbagai histeria untuk menolak dan melawan vaksinasi yang dilakukan pemerintah melalui pencarian dengan mesin google. Salah satunya adalah ditanamnya microchip dalam serum vaksin. Keberadaan microchip ini selalu dilekatkan pada pendiri Microsoft, Bill Gates. Orang-orang percaya bahwa alasan yayasan besarnya, Bill And Melinda Gates Foundation, mendanai penelitian untuk vaksin Covid-19 adalah karena mereka ingin menguasai dunia.

Mengapa seseorang atau kelompok menggulirkan teori konspirasi dibalik keberadaan virus Covid-19 dan vaksinasi? Tentu ada banyak jawaban dari berbagai hasil riset baik dari perspektif sosiologis maupun psikologis (Teguh Hindarto, Menalar Covid dan Conspiracyhttps://www.qureta.com/next/post/menalar-covid-dan-konspirasi). Bagi saya sendiri, situasi krisis baik dalam bentuk krisis ekonomi maupun krisis politik serta krisis kesehatan menimbulkan situasi ketidakpastian.

Situasi ketidakpastian membutuhkan sejumlah penjelasan. Teori konspirasi yang dilahirkan dan dianut mereka yang percaya ibarat panacea alias mujarobat yang mampu menenangkan situasi. Nama panacea merujuk pada nama dewi penyembuhan Yunani, sekaligus nama ramuan/obat yang diharapkan mampu mengobati segala jenis penyakit dan membuat panjang umur.

Apa dampak dari penyebarluasan teori konspirasi yang berkelindan di masa pandemi terkait keberadaan virus Covid-19  dan tindakan vaksinasi oleh pemerintah? Tentu saja sikap ketidakpercayaan, histeria dan penolakan yang berlebihan terhadap proses dan program vaksinasi khususnya yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Yang mengherankan, mereka yang melahirkan sejumlah praduga dalam teori konspirasi berkaitan dengan keberadaan virus dan vaksinasi justru bukan dari seseorang atau lembaga  yang memiliki otoritas di bidangnya. Kenyataan ini semakin diperparah ketika mereka yang memiliki otoritas keagamaan atau adat mempercayai teori konspirasi yang terkadang mengatasnamakan riset keilmiahan dan mulai menjadikan keterangan di dalamnya sebagai referensi.

Pemahaman terhadap sejarah setidaknya dapat memperbaiki sejumlah kesalahan berfikir yang menghubungkan pandemi Covid 19 dan program vaksinasi dengan sejumlah rekayasa yang telah dipersiapkan oleh sejumlah kelompok kepentingan tertentu.

Melalui perspektif sejarah, kita akan mendapatkan informasi bahwa keberadaan pandemi dan vaksinasi telah tercatat dalam kronologi waktu yang berbeda di berbagai wilayah di seluruh dunia. Fenomena pandemi bukan barang baru meskipun nama dan gejalanya berlainan.

Tahun 1347-1351, Eropa mengalami pagebluk yang dikenal dengan Black Death (Wabah Hitam) yang menghabisi 30% sampai 60% penduduk Eropa. Secara umum, wabah tersebut telah mengurangi sekitar 475 juta penduduk menjadi 350-375 juta penduduk pada Abad ke-14 Ms.

Pada tahun 1918-1919 sebuah virus menyebar ke penjuru dunia yang dikenal dengan Pandemi Flu Spanyol. Kasus pertama tercatat pada musim semi 1918 yang terjadi di antara tentara Amerika Serikat selama Perang Dunia I. Penyebabnya adalah virus Influenza H1N1 atau flu burung yang berasal dari unggas. Meskipun jumlah total korban virus ini tidak diketahui pasti, banyak yang menyebutkan diperkirakan lebih dari  50 juta orang dan beberapa mencapai 100 juta korban tewas.

Pada tahun 2002-2003 muncul pandemi bernama Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) yang disebabkan oleh SARS-CoV. Kasus pertama terjadi pada tahun 2002 di selatan China, tepatnya di  Provinsi Guangdong. SARS-CoV setidaknya menyebar ke 26 negara dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang.

Masih banyak lagi daftar pandemi yang tercatat dalam kronologi waktu selain yang dikutipkan di atas. Pertanyaannya, apakah semua peristiwa pandemik di atas adalah hasil sebuah rekayasa sekelompok orang tertentu untuk menguasai dunia dan mengontrol populasi tertentu?

Pertanyaan lainnya adalah, apakah hasil formula yang ditemukan dan diperjualbelikan sebagai media kesembuhan merupakan hasil rekayasan sekelompok ilmuwan yang bekerjasama dengan para pemodal besar untuk menciptakan virus dan vaksin penangkalnya?

Jika semua pertanyaan dijawab “ya”, konsekwensi logisnya semua peristiwa pandemik global dalam kronologi waktu tersebut adalah hasil rekayasa sekelompok orang yang memiliki kekuatan terhadap ekonomi dan politik. Betapa malasnya manusia berfikir jika hanya menyederhanakan sebuah krisis global menjadi tanggung jawab kelompok tunggal yang biasa kita hafalkan namanya di luar kepala mulai dari illuminaty, freemasonry, yahudi, elit global, the invisible hand dan nama-nama figur publik yang kontroversial.

Kajian-kajian ilmu sosial nampaknya harus menjadikan penyebarluasan virus teori konspirasi yang berkelindan di masa pandemi ini menjadi sebuah variabel yang harus diperhitungkan menjadi unit analisis tersendiri.

Bagaimanapun sejumlah kebijakan nasional dan lokal yang telah didesain dan akan diterapkan di dalam masyarakat terkait penanggulangan virus Covid 19, kerap terhambat bukan semata-mata faktor kultural namun faktor penyebarluasan berita-berita disinformasi yang berasal dari teori konspirasi.

Masyarakat bukan hanya harus diedukasi dan mengedukasi dirinya mengenai apa dan bagaimana Covid 19 dan pentingnya vaksinasi serta gaya hidup di era new normal. 

Kesadaran kritis terhadap berita-berita yang cenderung menimbulkan histeria dan diisinformasi yang diproduksi penganut teori konspirasi harus menjadi bagian dari proses literasi di masa pandemi. Karena literasi di masa pandemi menjadi semacam proses vaksinasi kesadaran bagi mereka yang terjangkiti virus teori konspirasi.