Beberapa bulan ini, media sosial kita dibuat ramai oleh kehadiran Tante Erni, perempuan dengan usia matang yang tampak bugar dan awet muda. Kehadirannya menjadi perbincangan hangat sampai saat ini. Netizen menjulukinya secara berlebihan dengan sebutan “Tante Pemersatu Bangsa”.

Perempuan ideal oleh sebagian masyarakat kita bisa jadi dipersepsikan seperti Tante Erni. Cantik, putih, awet muda, berisi, dan label-label sejenis lainnya. Hal tersebut juga terbukti dari riuhnya pembahasan tentangnya di media sosial, yang kebanyakan dilakukan oleh laki-laki.

Lantas apa hubungannya dengan “lookism”?

Lookism atau tampilanisme dalam Chancer dikutip dalam Saraswati (2019) dalam buku yang berjudul Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional dijelaskan sebagai tindak diskriminasi terhadap perempuan yang bersumber dari ekspektasi kecantikan. 

Diskriminasi tersebut kerap kali terjadi pada perempuan yang merasa dirinya insecure dan anxious jika dia tidak bisa tampil cantik layaknya konstruksi dominan. Kemunculan Tante Erni dengan ingar bingar pemberitaannya sangat mungkin menciptakan gambaran ideal bagi masyarakat tentang perempuan masa kini.

Tetap tampil cantik dan energik di usia matang, berkulit putih nan kencang, dan bertubuh langsing. Sebuah kondisi yang sangat mungkin diinginkan banyak perempuan. Implikasi dari hal tersebut dapat mendiskriminasi perempuan dengan kelas sosial atau usia yang sama dengan tante Erni untuk berpenampilan sepertinya.

Kita dapat menjumpai realitas tersebut dari masyarakat urban. Di mana mereka berusaha untuk menjaga kulit dan tubuh mereka agar tetap awet muda. Hal tersebut tentunya bukan hal yang mudah untuk dilakukan. 

Perempuan harus berjuang menjaga pola makan, olahraga, dan mengonsumsi krim anti-aging (anti penuaan). Sebuah usaha yang diakui ataupun tidak sebagai sesuatu hal yang menyiksa. Usaha-usaha untuk mempertahankan tampilan tersebut kerap kali mendiskriminasi perempuan.

Lantas apa bahayanya lookism atau praktik diskriminasi melalui tampilan? Apa benar lebih bahaya dari rasisme dan seksisme?

Menunda Penuaan 

Proses penuaan merupakan proses yang berhubungan dengan usia seseorang. Semua manusia pasti mengalami perubahan tersebut. Penuaan yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda. 

Dengan mengonsumi obat, menggunakan krim anti-aging, dan tindakan-tindakan lain, terbukti bisa menunda penuaan. Hal tersebut menandakan bagaimana ilmu pengetahuan mampu memengaruhi cara berpikir dan membawa dampak yang signifikan pada kehidupan.

Wolf (2002) dalam bukunya Mitos Kecantikan menilai bahwa ada usaha dari industri kecantikan (kosmetik dan fashion) untuk mengontrol kebebasan perempuan. Alih-alih menindas mereka secara tidak langsung, industri kecantikan menyerang perempuan dengan mitos kecantikan.

Perempuan sering kali merasa tidak puas dengan kondisinya yang mulai berubah seiring usia. Dari kacamata Wolf, usaha keras untuk menjadi tetap awet muda adalah alat penyiksaan.

Gambaran di atas menemukan relevansinya bahwa lookism atau tampilanisme mempunyai implikasi yang berbahaya. Hal tersebut menjadi relevan seperti dalam Saraswati mengutip Etcoff (1999) bahwa lookism lebih berbahaya dari rasisme dan seksisme.

Rasisme dan seksisme sudah banyak disadari oleh banyak orang, sementara implikasi dari lookism banyak membuat orang terlena dan tidak sadar bahwa sedang terjadi diskriminasi berlandaskan tampang.

Orang akan terobsesi dengan tampilan yang menawan yang dikonstruksi media. Walhasil, usaha-usaha yang terkadang menyiksa harus ditempuh. Tidak jarang kita temui kegagalan yang berujung pada rusaknya wajah atau bagian tubuh lain, dan hal tersebut bisa menjadi penyesalan seumur hidup.

Lantas apa yang membuat orang tidak sadar atas praktik diskriminasi melalui tampang? 

Menjadi tua bagi sebagian kita memang ancaman. Sehingga sebagian kita harus berusaha mati-matian untuk tetap dalam kondisi muda. Ada yang terbukti berhasil, ada yang gagal. Hal tersebut cukup berisiko, apalagi bagi orang dengan ekonomi pas-pasan.

Secara sederhana saya membagi dua motif berdasarkan kelas, apa yang mendorong orang begitu terobsesi awet muda dan tetap tampak cantik.

Bagi kelas sosial menengah-atas, hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk mendapat pengakuan kelompok sosialnya. Selera selalu merupakan representasi khas dari suatu kelompok kelas.

Representasi dari hasrat membedakan diri dengan kelompok sosial yang lain, terutama yang lebih bawah. Pengelompokan tersebut tergambar dari kebiasaan mereka dalam mempertahankan diri bersama kelompok sosialnya. Seperti kebiasaannya ke klinik kecantikan atau institusi medis lainnya.

Terus bagaimana orang dengan ekonomi pas-pasan?

Gaya hidup cenderung mengeksklusi orang dengan kelas sosial tertentu. Gaya hidup modern cenderung menciptakan pengucilan atau peminggiran bagi mereka yang tidak mempunyai modal finansial yang cukup.

Banyak orang dengan ekonomi pas-pasan dipaksa untuk mengikuti gaya hidup dan perilaku kelas tertentu. Mereka secara tidak sadar terkondisikan mengikuti gaya hidup yang mereka susah untuk menjangkaunya.

Jadi, lookism bisa menjadi sebuah virus yang berbahaya bagi mereka tidak mempunyai kesadaran kritis dalam praktik konsumsi. Implikasi dari itu semua akan mendiskriminasi secara tidak sadar. Hal tersebut yang saya maksud bahwa lookism tidak kalah berbahaya dari rasisme dan seksisme.

Apakah hal tersebut juga bisa terjadi pada laki-laki? 

Sangat bisa. Citra ideal aktor yang muncul di media bisa membuat laki-laki terdiskriminasi melalui tampang. Jadi apa pun gendernya, virus lookism ini bisa menyerang siapa saja. Waspadalah!