Akhir-akhir ini, publik diramaikan dengan berita-berita seputar wabah Corona yang melanda Wuhan, China. Keprihatinan-keprihatinan hingga kekhawatiran penyebaran virus Corona pun menggemparkan jagat media sosial.

Dan yang paling patut disesalkan, yakni munculnya anggapan-anggapan di tengah masyarakat kita bahwa virus Corona yang saat ini menjangkiti China sebagai bagian dari azab Tuhan ataupun hukuman Tuhan, bahkan dikaitkan dengan jawaban Tuhan atas keangkuhan pemerintah China.

Melihat realitas yang demikian, mengingatkan saya pada sebuah karya sastra yang ditulis oleh seorang filsuf kelahiran Aljazair, yakni Albert Camus yang berjudul La Peste yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Sampar”. Sebuah karya sastra yang turut mengantarkannya sebagai peraih Nobel sastra pada tahun 1957, dan karyanya tersebut menjadi salah satu karya sastra bestseller Prancis yang turut banyak diperbincangkan.

Karya Albert Camus tersebut relevan dijadikan sebagai bahan reflektif sekaligus kritik terhadap sebagian masyarakat Indonesia yang melihat bencana sebagai hukuman Tuhan, dan relevan juga dijadikan sebagai landasan etis pergulatan manusia dalam menghadapi sebuah bencana. Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, baiknya kita berkenalan dulu dengan Albert Camus.

Sepintas tentang Albert Camus

Albert Camus dilahirkan pada 7 November 1913 di Mondovi (Aljazair). Ia lahir di tengah kemiskinan. Setahun setelah kelahirannya, ayahnya meninggal dalam pertempuran Marne. Camus sendiri masuk ke dalam dunia jurnalistik dan menapak dunia sastra dengan menerbitkan L’Envers ‘1 ‘Endroit (1937) yang berisi 5 cerita tentang kepahitan hidup.

Camus meninggalkan Aljazair dan melawat ke Eropa pada tahun 1938. Pada saat perang dunia kedua meletus, Camus menjadi kepala redaksi Combat dan menunjukkan sikap patriotiknya dengan serangkaian pembelaannya terhadap Prancis.

Esai Le Mythe de Sisyphe (1942) muncul mewakili absurditas, L’Etranger (1942), La Peste (1947), dan La Chute (1956) merupakan tiga novel yang berurutan dan menunjukkan perkembangan gagasan Albert Camus. Pada tahun 1957, Camus mendapat hadiah nobel (Camus, 2015).

Menurut Setyo Wibowo dalam sebuah esai yang ditulisnya, yakni “Terlibat di Sisi Korban Menghadapi Kebatilan Absurd, Etika Politik Albert Camus” (2011). Pemikiran Albert Camus yang dikenal dengan istilah absurditas, dipengaruhi oleh penyakit yang diderita oleh Camus, yakni TBC. 

Penyakit tersebut membuat Camus merasakan ketegangan dan membawanya ditarik di antara dua hal, yakni hasratnya untuk hidup dan ancaman kematian yang tak pernah pergi darinya.

Pemikiran Camus sebagai Landasan Etis dalam Menghadapi Bencana

Dalam karya sastra La Peste (Sampar) yang ditulis oleh Albert Camus, dikisahkan sebuah wabah sampar (yang dalam teks-teks kuno dianggap sebagai penyakit terkutuk) tengah melanda wilayah Oran.

Dalam karyanya tersebut, dapat dikatakan Albert Camus melakukan identifikasi mengenai pandangan ataupun sikap orang-orang ketika menghadapi bencana melalui tokoh-tokoh yang dibuatnya. Seorang tokoh yang bernama Romo Paneloux (seorang pastor) barangkali relevan untuk menggambarkan sebagian pandangan masyarakat Indonesia yang menganggap bencana adalah sebuah hukuman Tuhan.

Mengapa demikian? Karena dalam karya sastra “Sampar” tersebut, Romo Paneloux, dengan mendasarkan atas pemahamannya terhadap kitab suci, melakukan pidato yang menyatakan bahwa wabah penyakit Sampar merupakan sesuatu yang pantas untuk dterima, karena sebagai bentuk hukuman dari Tuhan.

Meminjam pendapat Setyo Wibowo (2011), artinya, di depan bencana tersebut, Romo Paneloux langsung mencari sebuah pandangan guna menerangkan secara metafisiko religius apa makna bencana sampar yang tengah melanda kota Oran itu. Sikap atau pandangan seperti ini juga yang digunakan sebagai pijakan masyarakat Indonesia ketika terjadi bencana, termasuk wabah virus Corona di China. 

Kita bisa melihat di jagat dunia maya, bagaimana pandangan-pandangan yang menyebut virus Corona sebagai jawaban Tuhan atas keangkuhan pemerintah China, hingga bentuk hukuman Tuhan pun ramai berkeliaran. Sebuah pandangan yang menurut saya patut untuk disesalkan dan justru merupakan sebuah bentuk tafsiran yang keliru.

Mengapa demikian? Karena ketika kita memahami bencana sebagai hukuman Tuhan. Artinya, bencana tersebut sebagai hasil dari proses peradilan yang dilakukan Tuhan, berarti sama saja kita memahami keadilan Tuhan layaknya orang yang sedang bermain dadu.

Kita tahu, sebuah bencana bisa menerpa siapa saja; korban yang berjatuhan bisa dari kalangan mana saja, baik pendosa, anak-anak kecil yang tidak berdosa, orang-orang yang taat beragama, dan sebagainya. Artinya, bencana bisa menghantam siapa saja secara acak yang berada di dalam jangkauannya.

Dalam karya “Sampar” yang ditulis oleh Albert Camus sendiri, tampak terjadi pergeseran pandangan dalam pidato kedua yang dibuat oleh Romo Paneloux. Meski Romo Paneloux tetap mengajak orang-orang untuk selalu mencintai Tuhan, namun ia berbicara lebih berhati-hati dengan tidak serta-merta menyebut bencana sebagai hukuman Tuhan ataupun azab dari Tuhan.

Perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Romo Paneloux tidak bisa dilepaskan dari pengalamannya saat tergabung dengan tim relewan. Gagasan yang sebelumnya “sangat abstrak” bahwa sampar adalah hukuman Tuhan harus dihadapkan dengan wajah konkret manakala Romo Paneloux menyaksikan sendiri penderitaan dan kesengsaraan seorang anak kecil yang tidak berdosa dan terjangkiti Sampar.

Kejadian ini teramat menyayat nurani Paneloux saat ia meilhat bagaimana anak kecil itu merasakan kesakitan yang luar biasa karena perutnya digerogoti dari dalam, dan tubuhnya selalu berontak menahan kesakitan dan selalu menjerit, hingga akhirnya anak kecil ini meninggal.

Jika Romo Paneloux mengalami pergeseran yang menjungkirbalikkan nuraninya manakala ia dihadapkan dengan sebuah pengalaman konkret, saya rasa perlu untuk menjadi renungan yang barangkali bisa menggugah nurani kita bersama, terutama untuk orang-orang yang menganggap bencana adalah hukuman Tuhan.

Bisakah kita menerima penjelasan metafisis-religius yang menyebut bencana sebagai hukuman Tuhan tersebut manakala yang menjadi korban adalah sanak saudara atau keluarga kita sendiri?

Melalui tokoh lainnya, yakni dr. Rieux yang menjadi tokoh utama dalam karya sastra Sampar tersebut, dan menurut Setyo Wibowo, Rieux adalah figur yang mencerminkan sikap Albert Camus sendiri. Kita diajarkan untuk selalu meilihat “di sisi korban”. Bagi Rieux yang tidak mempercayai Tuhan ataupun janji keselamatan eskatologis ini, ia mempercayai bahwa “dalam diri manusia ada lebih banyak hal untuk dikagumi dibandingkan untuk dicela”.

Pendapat Setyo Wibowo memang tepat, karena Rieux mencerminkan absurditas yang menjadi ciri utama dalam pemikiran Albert Camus. Ketika Rieux menjadi relawan, apa yang dilakukannya tidak didasarkan alasan-alasan metafisis teologis ataupun nilai-nilai yang bersifat transenden ilahiah. Yang ia tahu, ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai bentuk kesetiaannya terhadap “dunia sini”.

Sementara, “dunia sini” yang sedang dhadapi adalah wabah penyakit yang teramat mematikan dan memakan begitu banyak korban jiwa setiap harinya. 

Meskipun Rieux tidak percaya hari esok (kehidupan setelah mati), tetapi ajarannya tentang kesetiaan pada “dunia sini” menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap hidup, dan bahwa hidup harus selalu diterima apa adanya serta kehidupan mesti selalu diperjuangkan. Bahkan, meskipun hidup itu sendiri selalu ataupun dibayangi kematian.

Itu tampak jelas dari sikap yang ditunjukkan oleh Rieux, meskipun ia menyadari bahwa ia tidak bisa menghentikan wabah sampar, dan yang selalu ia hadapi adalah kematian para pasiennya, tetapi ia tetap berusaha menyembuhkannya, karena itu menjadi tugasnya, melakukan pemberontakan terhadap ancaman kematian. Fondasinya hanyalah kemanusiaan. Bagi Camus, sebuah bencana haruslah dihadapi dengan moral keterlibatan.

Mengutip Setyo Wibowo, Camus berpendapat bahwa sejak manusia tidak percaya lagi pada Tuhan, juga tidak percaya pada hidup kekal, ia bertanggung jawab atas apa saja yang menderita akibat rasa sakit karena kehidupan ini.

Di akhir tulisan ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa seorang Ateisme sudah pasti lebih baik dari mereka yang beragama, karena ke-atheis-an Albert Camus sendiri tidak lantas membuatnya membenci orang-orang beragama ataupun menbuat konfrontasi yang tajam. Malahan, Camus pernah membuat pernyataan “sering, mereka (orang beragama) jauh lebih baik dari yang kita duga” (Wibowo, 2011).

Hanya saja, pelajaran yang perlu kita petik dan menjadi bahan refleksi kita bersama, jika seorang Ateis dapat berpandangan mengenai pentingnya solidaritas dalam menghadapi bencana dan berdiri ataupun melihat di sisi korban, lalu mengapa sebagian dari kita yang beragama justru berpandangan kerdil dengan tidak menunjukkan adanya empati terhadap korban bencana?

Daftar Pustaka

  • Camus, Albert. 2015. Pemberontak. Yogyakarta: Narasi
  • Camus, Albert. 1985. Sampar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  • Wibowo, Setyo, dkk. 2011. Empat Esai Etika Politik. Jakarta: www.srimulyaninet dan Komunitas Salihara