Senin, 2 Maret 2020, Presiden Jokowi didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Mensesneg Pratikno, dan Seskab Pramono Anung menggelar jumpa pers di Istana untuk mengumumkan dan mengonfirmasi bahwa 2 warga negara Indonesia telah positif terpapar virus corona. 

Terpaparnya kedua warga negara Indonesia yang merupakan ibu dan anak itu  diduga setelah melakukan kontak fisik dengan warga Jepang posistif corona yang berkunjung ke kediamannya.

Bagi saya, konfirmasi ini tentu saja bagai pisau bermata dua: satu sisi, kita patut menaruh rasa simpati terhadap terpapar dan positif terkena virus corona-nya kedua warga negara Indonesia tersebut. 

Tetapi, sisi lainnya, konfirmasi ini juga “baik” karena telah turut menggugurkan kecurigaan serta kekhawatiran banyak orang perihal ketidakmampuan pemerintah Indonesia mendeteksi terkait sudah masuknya paparan virus corona di Indonesia—menimbang negara-negara tetangga, seperti Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina sebelumnya sudah mengumumkan ditemukannya  kasus corona di negaranya.

Pengumuman dan konfirmasi ini juga tentu saja menjadi isu hangat dan menjadi perbincangan publik. Ada rasa waswas, keresahan, dan kepanikan masyarakat Indonesia terhadap persebaran daerah yang lebih luas dari virus corona yang di mana secara global, sebagaimana dirilis BBC Indonesia dari data World Health Organization (WHO) (per-03/03/2020), telah menyebabkan 3.111 kematian.

Memang, acap kali, ketika pemerintah mengumumkan sesuatu isu yang berdampak publik, respons masyarakat, terlebih di daerah, akan memunculkan rasa cemas, heboh, dan kepanikan yang bahkan mengarah ke paranoia. Hal ini tidak terlepas dari cara pemerintah sendiri yang menyampaikannya ke publik. 

Sering kali, cara komunikasi pemerintah yang tegang dan rigid dalam mengumumkan isu tertentu justru yang paling berkontribusi memproduksi ketakutan semacam di masyarakat.

Tetapi, bagi saya pribadi, pengumuman kali ini pengecualian. Terlebih ketika melihat Menteri Kesehatan, dr. Terawan sendiri yang menyampaikannya. Gesture dan cara komunikasinya yang santai, enjoy, penuh senyum, dan ramah dalam menginformasikan perkembangan, meladeni serta menjawab segala pertanyaan-pertanyaan wartawan terkait virus corona ini menarik perhatian saya yang menonton jumpa pers tersebut melalui siaran televisi. 

Sejenak, cara komunikasi dr. Terawan tersebut turut mampu meredam kekhawatiran saya dalam menyikapi paparan virus corona yang telah menyebar ke Indonesia dan telah menginfeksi warga negara Indonesia tersebut.

Kita dan (tentu saja) dr. Terawan sendiri, sudah barang tentu tahu akan bahaya dari virus corona yang di mana sampai detik ini masih belum ditemukan vaksinasinya. Kita juga tahu bahwa virus corona telah menjadi permasalahan utama masyarakat global kini.

Maka, tentu saja, cara dan sikap santai beliau yang tak biasa dalam tradisi konferensi pers pemerintah kita—yang senantiasa rigid dan tegang, terlebih menyikapi dan menyampaikan isu virus corona yang telah mengglobal ini memunculkan pertanyaan dan mengajak berpikir di benak:

Mengapa ya dr. Terawan sendiri selaku Menteri Kesehatan cukup santai menyikapinya? dan; Mengapa setelah mendengar dan melihat gestur serta komunikasi santai beliau di jumpa pers tersebut turut juga mampu meredam rasa khawatir dan memberi rasa aman pada saya secara psikologis?

Pertanyaan semacam yang kemudian mengingatkan saya pada istilah dalam dunia medis dan psikologi: “placebo effect” atau “efek plasebo” yang merupakan fenomena alam yang membingungkan dunia medis hingga kini.

Menukil Wikipedia, “Plasebo adalah sebuah pengobatan yang tidak berdampak atau penanganan palsu yang bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan. Istilah plasebo diambil dari bahasa latin yang berarti "I shall please" (saya akan senang) yang mengacu pada fakta bahwa keyakinan akan efektivitas dari suatu penanganan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka menggerakkan diri mereka untuk menyelesaikan masalah tanpa mengetahui zat yang mereka terima adalah aktif secara kimiawi atau tidak aktif.”

Dalam hal ini, gelagat santai dan enjoy dr. Terawan menyikapi virus corona adalah penerapan “efek plasebo” sebagai upaya agar masyarakat optimis dan menaruh asa terhadap pemerintah mampu mengendalikan dan “memerangi” virus corona serta menghindari timbulnya kepanikan, keresahan, paranoia berlebih masyarakat yang justru malah semakin merentankan persebaran virus corona tersebut kepada masyarakat lebih luas.

Sebagaimana diungkapkan dr. Terawan, cara paling ampuh untuk menangkal virus corona adalah dengan imunitas tubuh yang kuat. Hal ini dilandasinya atas bukti, bahwa 243 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di lokasi penyebaran virus corona kota Wuhan, China, sampai kini belum ada yang terjangkit virus itu.

Maka, dengan menunjukkan sikap dan gesture santai yang dilakukannya dalam menyampaikan informasi virus corona tersebut kepada publik pada konferensi pers adalah upaya menghindari persepsi salah, waswas berlebih, paranoia berlebihan dari pikiran masyarakat yang mendengar virus corona;

Bilamana hati dan pikiran masyarakat dicokoki informasi simpang siur dan salah, justru akan membuat imunitas menurun dan malah merentankan terinfeksi virus corona. dr. Terawan ingin menunjukkan bahwa tidak perlu takut berlebih dan membebani pikiran menghadapi virus ini. Sebab, kekuatan pikiran memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap kondisi dan juga gangguan dalam tubuh manusia.

Bagi saya pribadi, ekspresi dan gesture enjoy beliau dalam menyikapi paparan virus ini amat membantu meredam segala paranoia yang muncul terhadap virus corona ini. Dan, saya kira, cara komunikasi ala “efek plasebo” dari dr. Terawan dalam hal pemerintah menyampaikan informasi yang berdampak publik dan konfirmasi kepada publik ada baiknya menjadi preseden baru protokeler konferensi pers pemerintah yang selama ini rigid dan tegang. 

Niscaya, produksi ketakutan semacam dan paranoia berlebih masyarakat menyikapi isu yang disampaikan pemerintah dapat tereliminir dan tidak menimbulkan kegaduhan publik tak penting.

Pun demikian, kita tentu saja tetap was-was, namun tidak paranoia dan mengikuti prosedur pencegahan yang disarankan terhadap virus corona ini. Terlebih ini sudah menjadi permasalahan global. Kita percaya, sebuah masalah pastilah memiliki solusi. Mengadopsi ucapan klise Negawaran Inggris, Harold Macmillan, “Sebuah masalah adalah sesuatu yang memiliki solusi. Kalau ada sesuatu yang tidak memiliki solusi, itu bukanlah masalah.”