Di era yang semakin berkembang ini semua serba online, terlebih masih dalam suasana pandemi. Sebagian besar masyarakat menghabiskan waktunya di depan laptop maupun gadget terutama para mahasiswa. Kegiatan pembelajaran yang serba online ini membuat para mahasiswa menjadi bosan bahkan tertekan karena tugas yang diberikan.

Setiap mahasiswa juga tidak bisa berkenalan secara langsung dengan teman sekelasnya. Namun, mereka masih bisa menggunakan media online, seperti WhatsApp, Instagram, Telegram, dan lain-lain untuk berkomunikasi satu sama lain. Alhasil mereka masih bisa terhubung meskipun secara virtual.

Kebetulan saya juga salah satu mahasiswa yang merasakan sistem perkuliahan online. Sejak Maret 2020 diumumkan bahwa pandemi Covid-19 sudah masuk ke Indonesia, saya menerapkan sistem pembelajaran online. Padahal saat itu SMA saya baru pulang studytour dari Bali sehingga diliburkan sampai dua minggu, tetapi justru diliburkan sampai hari kelulusan.

Bulan Juli yang lalu, diadakan PKKMB untuk mengenalkan lingkungan kampus kepada para mahasiswa baru dan sekaligus melatih kerja sama antar mahasiswa. Ada tiga macam PKKMB yang harus dilewati, yaitu PKKMB universitas, PKKMB fakultas, dan PKKMB prodi.

Untuk PKKMB universitas, saya masuk kelompok Sekartaji 16 yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai prodi yang berbeda dan dibimbing oleh tiga kakak asuh untuk setiap kelompok. Di kelompok Sekartaji 16 ini ada 25 mahasiswa dan tiga kakak asuh. Jelas saja kami berkomunikasi melalui media online karena belum diperbolehkan untuk ke kampus.

Ada satu cowok yang menarik perhatian saya sejak pertama kali bergabung di kelompok Sekartaji 16, sebut saja namanya Nugraha. Dia baik, tetapi cuek. Kebetulannya lagi saya sekelompok dengannya di PKKMB fakultas. Alhasil saya sering chattingan dengannya untuk sekadar membahas penugasan PKKMB yang diberikan oleh panitia, meskipun balasan chatnya singkat dan terkesan cuek.

Ada satu kejadian menjelang penutupan PKKMB universitas, di mana kelompok saya mengadakan rapat melalui Google Meet dan sekaligus bermain Thruth or Dare untuk sekadar seru-seruan setelah kurang lebih sebulan melaksanakan PKKMB universitasKetika permainan berlangsung menggunakan spin untuk memilih siapa orang yang akan bermain, ternyata Nugraha yang mendapat giliran untuk bermain. 

Dia memilih angka nomor dua belas yang isinya thruth; siapa orang yang menurutmu paling cantik di kelompok ini. Otomatis kelompok saya langsung heboh mendengar pertanyaan itu dan penasaran dengan jawaban Nugraha.

Saya juga penasaran sih, wajar karena Nugraha termasuk orang yang cuek dan anti dengan hal-hal yang berbau romantis. Saya berinisiatif merekam momen ini karena langka, alasan yang aneh memang. 

Siapa sangka dia menyebut nama saya dan seperti remaja pada umumnya yang dinotice cowok yang sudah diperhatikannya sejak lama, saya kaget sekaligus senang dan kehebohan kelompok ini semakin menjadi-jadi sehingga membuat saya malu.

Setelah selesai, saya mencoba chat Nugraha menanyakan kenapa dia bisa memilih saya yang notabene biasa saja jika dibandingkan dengan teman-teman cewek sekelompok saya yang lain. Katanya, “Gapapa, pengen aja”. Menyebalkan memang, tetapi saya tidak mau terlalu terbawa perasaan.

Sejak kejadian itu, kami menjadi sering chattingan dari hal yang penting sampai tidak penting sekalipun kami bahas. Tiga bulan saya mengenalnya lewat media online membuat kami menjadi akrab dan jujur saya mulai nyaman dengannya, meskipun secara virtual.

Tak terasa di universitas saya minggu depan melaksanakan UTS. Saya dan dua teman SMP saya, sebut saja namanya Isti dan Febri berencana setelah UTS akan jalan-jalan ke Yogyakarta. 

Saya iseng chat Nugraha apa dia ingin ikut saya ke Yogyakarta dan dia mengiyakan. Saya segera memberitahu Isti dan Febri bahwa Nugraha ikut ke Yogyakarta dan mereka mengizinkan.

UTS pun berlalu dan tanggal 16 Oktober kemarin kami pergi ke Yogyakarta. Jam 08.17 WIB saya, Isti, dan Febri berangkat menggunakan KRL dari Stasiun Solo Balapan dan Nugraha menunggu di Stasiun Delanggu sebab rumahnya di daerah Delanggu. Karena kami berbeda gerbong, saya chat Nugraha, "Nugraha, nanti kalau sudah sampai di Stasiun Tugu, tunggu saya".

Satu jam berlalu, kami tiba di Stasiun Tugu sebagai tempat pemberhentian terakhir. Untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Nugraha. Perasaan saya jelas senang dan lumayan canggung, tetapi dibawa enjoy saja. Kami berempat berjalan menikmati jalanan Malioboro pagi itu.

Isti dan Febri berencana mencari sarapan dan kami berdua disuruh jalan-jalan dulu sembari menunggu mereka. Entah saya harus berterima kasih atau justru memarahi mereka yang mempunyai ide seperti itu. Alhasil saya dan Nugraha menyusuri jalanan Malioboro sampai Keraton Yogyakarta, tempat di mana nanti kita berkumpul.

Selama perjalanan itu saya menyempatkan untuk mencari gelang yang saya inginkan, tetapi tidak juga ketemu. Nugraha sabar sekali menemani saya mencari gelang dan saat saya hampir menyerah, dia menemukan gelang yang saya inginkan, gelang tali warna hitam yang di tengahnya ada hurufnya. 

Bapak penjualnya memberikan harga 10 ribu rupiah untuk tiga gelang. Mau tidak mau saya tetap membeli tiga gelang itu, padahal sebenarnya saya hanya ingin membeli satu gelang dengan inisial nama saya.

Jujur saya bingung memilih dua inisial apalagi. Alhasil saya menawarkan Nugraha apa dia ingin sekalian membeli gelang dan dia mengiyakan. Untuk inisial gelang yang satu lagi saya memilih acak. 

Siapa sangka Nugraha justru membayar gelang tersebut dan saya otomatis mengucapkan terima kasih kepadanya. Saya membantunya memakai gelang itu di tangan kanannya sebab ternyata dia sebelumnya tidak pernah memakai gelang.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan Malioboro yang cukup panas siang itu. Sembari berbincang-bincang, kami tiba di café dekat Keraton Yogyakarta. Cafénya tutup, jadi kami beristirahat di situ sembari menunggu Isti dan Febri.

Kami membahas hal-hal penting seperti tugas-tugas kuliah yang selalu bertambah setiap hari, alasan mengapa bisa memilih prodi masing-masing sampai hal-hal tidak penting seperti mengapa di Yogyakarta suasananya lebih damai, mengapa museum di seberang jalan itu tidak terlihat seperti museum, jalanan Malioboro yang selalu ramai meskipun malam hari, dan lain-lain.

Satu jam berlalu bertepatan dengan kedatangan Isti dan Febri. Kami segera melanjutkan perjalanan mengelilingi Yogyakarta sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 15.30 WIB yang mengharuskan kami untuk pulang. 

Jam 16.00 WIB kami pulang ke Solo dengan KRL dari Stasiun Tugu sembari diiringi senja yang perlahan kembali ke peraduannya. Begitu pula dengan kami yang pulang ke rumah masing-masing, melanjutkan kesibukan yang sempat tertunda.

Kadang yang nyaman belum tentu tergenggam. Cukup jadi teman, urusan jodoh atau bukan itu tak perlu dipikirkan. Mari memperbaiki diri terlebih dahulu dan mewujudkan mimpi-mimpi yang masih menjadi angan belaka. Sampai jumpa di titik terbaik menurut takdir, manusia baik.