Jika anda yang membaca tulisan ini adalah seorang  anime lovers ( jika tidak ingin disebut sebagai wibu), tentu sudah tidak asing lagi dengan anime yang berjudul Violet Evergarden, anime yang bagi sebagian orang dianggap banyak menguras emosi dengan jalan ceritanya yang sering menyuguhkan adegan-adegan penuh kesedihan.

Sesuai judulnya, Violet Evergarden, tokoh utama anime ini bernama Violet, seorang wanita yang berprofesi sebagai "penulis hantu",  atau jika menggunakan istilah familiar dalam anime tersebut adalah "boneka memoar otomatis", sebuah profesi yang menyediakan jasa tulis menulis surat bagi orang-orang yang ingin menyampaikan pesan kepada teman, kekasih, atau keluarga.  Selain karena jalan ceritanya yang menarik dan seru, pengambilan dunia literasi sebagai latar belakang cerita juga menjadi nilai plus yang menjadikan anime ini semakin menarik.

Tulisan ini tidak bertujuan membahas lebih jauh terkait jalan ceritanya. Saya hanya akan membedah beberapa kutipan menarik yang saya pungut dari anime Violet Evergarden.

Kutipan yang pertama merupakan perkataan yang diucapkan oleh Cattleya Baudelaire (salah salah tokoh di anime Violet Evergarden)  kepada Violet, di salah satu scene pada episode 2. Kutipan tersebut tertulis sebagai berikut,

"Kata kata bisa memiliki tafsiran berbeda-beda. Apa yang dikatakan seseorang bukanlah kebenaran seluruhnya. Itulah kelemahan manusia. Kita cenderung menguji orang lain untuk memastikan arti (tulisan) kita baginya."

Dari sudut pandang saya pribadi, kutipan di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya tulisan hanyalah kumpulan kata-kata tak bermakna. Salah satu faktor penting yang menentukan makna tulisan adalah pembaca. Tulisan akan bermakna ketika telah dibaca. Dan setiap tulisan yang dibaca akan menghasilkan pemahaman yang beragam karena setiap pembaca memiliki sudut pandang masing-masing. Adakalanya apa yang difahami pembaca berbeda dengan yang dimaksudkan oleh sang penulis. Di satu sisi, ini merupakan kelemahan dari tulisan. Namun di sisi lain, ini bisa menjadi kelebihan karena memperkaya pemahaman.

Tidak jauh berbeda dengan kutipan di atas, Dr. Fahruddin Faiz  pernah mengatakan dalam sebuah webinar bahwa tulisan yang dibaca akan melahirkan beragam imajinasi. Pembaca bebas berimajinasi menentukan makna dan pemahaman dari tulisan yang dibaca. Berbeda dengan gagasan yang disampaikan secara visual (langsung), yang mana lawan bicara akan dituntut untuk benar benar memahami apa yang disampaikan oleh pembicara. 

Dr. Fahruddin Faiz menyimpulkan bahwa bisa jadi itulah salah satu faktor yang melatarbelakangi timbulnya beragam penafsiran Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an yang dibaca oleh umat Islam disajikan dalam bentuk tertulis . Ayat Al-Qur'an yang dibaca kemudian melahirkan beragam pemahaman dan interpretasi dari masing masing pembaca. Yang dalam proses selanjutnya, pembaca memuat hasil pemahamannya tersebut dalam sebuah karya tafsir.

Ada banyak faktor penyebab mengapa terdapat keragaman pemahaman dari masing-masing pembaca. Diantaranya adalah perbedaan tingkat pengetahuan dan penggunaan bahasa antara pembaca dan penulis. 

Terkait penggunaan bahasa, dalam kajian ilmu semantik, dikenal istilah homonim dan  homograf. Homonim adalah hubungan kata-kata yang mempunyai persamaan ejaan dan pelafalan, namun mempunyai perbedaan makna, seperti kata "bisa" yang bermakna mampu dan kata "bisa" yang bermakna racun ular. Sedangkan homograf adalah hubungan antara kata-kata yang berbeda makna dan pelafalan tetapi mempunyai persamaan penulisan. Contohnya kata "apel" yang berarti upacara dan kata "apel" yang berarti nama buah.

Homonim dan homograf merupakan dua hal diantara sekian banyak faktor perbedaan penggunaan bahasa yang menyebabkan beragamnya pemahaman pembaca terhadap suatu tulisan. 

Kembali ke kutipan di awal, pada bagian sampul depan atau belakang buku, sering dijumpai komentar tokoh-tokoh tertentu tentang buku tersebut. Hal ini kiranya relevan dengan kutipan ini, "Kita cenderung menguji orang lain untuk memastikan arti (tulisan) kita baginya." Penulis buku perlu meminta komentar orang lain terhadap tulisannya dalam rangka menguji apakah gagasan yang ia tulis benar-benar sampai kepada pembaca -terlepas apakah pembaca setuju atau tidak dengan gagasan tersebut.

Di lain episode, saya juga mengutip perkataan seorang tokoh wanita yang mengajarkan Violet menjadi doll (penulis surat) profesional

"Doll (penulis surat) terbaik seharusnya faham kata-kata yang diucapkan oleh klien dan menuliskan perasaan yang paling ingin mereka ungkapkan."

Dalam pemaknaan non-harfiah, kutipan di atas secara implisit memberitahukan bahwa penulis yang baik adalah mereka yang mampu menuangkan dengan baik gagasan dalam pikirannya, dan dapat membuat pembaca memahami gagasannya tersebut.

Alhasil, dunia literasi dengan segala seluk beluk kekurangan dan kelebihannya serta kerumitannya telah mewarnai keseharian kita. Baik penulis maupun pembaca hendaknya menyadari bahwa dunia literasi merupakan khazanah yang luas dan tidak bisa dipersempit menjadi satu perspektif. 

Penulis hendaknya berusaha menuangkan gagasannya sebaik mungkin agar apa yang dipikirkan dapat tersampaikan dengan baik. Sedangkan pembaca hendaknya tidak mengklaim apa yang dia fahami adalah satu-satunya kebenaran mutlak. 

Semoga bermanfaat.


Sumber referensi dan inspirasi:

* Anime Violet Evergarden

* Materi yang disampaikan oleh Dr. Fahruddin Faiz pada webinar diskusi buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba yang diselenggarakan pada Kamis, 10 Desember 2020, dengan sedikit pengeditan di beberapa tempat