Athelstan mengalami pergulatan iman. Ia mempercayai Tuhan Yesus, di waktu yang sama merasakan kehadiran Dewa-Dewa bangsa Viking pada fenomena alam.

Mulanya, ia menyaksikan kawan-kawannya sesama biarawan Kristen dibantai pasukan Viking di bawah komando Ragnar Lothbrok, saat menjarah biaranya. Pengalaman persentuhan pertama dengan Viking yang menyakitkan untuknya.

Athelstan dibawa ke tanah Viking sebagai tawanan perang. Bukannya dijual sebagai budak, Ragnar membawanya ke rumahnya. Ragnar tidak memperlakukannya sebagai budak, tapi sumber pengetahuan. Singkatnya, ia kemudian bersahabat dengan Ragnar.

Dari Athelstan, Ragnar belajar bahasa dan kebudayaan Inggris dan Kristen. Dari Ragnar, Athelstan tahu lebih dalam tentang kebudayaan dan kepercayaan Viking dan juga mendapat jaminan keselamatan dari orang-orang Viking yang ingin melukainya, karena ia seorang Kristen.

Bertahun kemudian, Athelstan berada di medan perang di sisi Ragnar dan pasukan Viking, melawan bangsanya sendiri: Inggris, tepatnya Wessex. Ia bertarung sebagaimana bangsa Viking, haus darah. Ia tertangkap oleh pasukan Wessex dan dihukum salib karena murtad. Tapi sang penguasa Wessex Raja Ecbert mengampuninya, kala dua telapak tangannya sudah mengucur darah karena paku salib.

Dari Athelstan, Raja Ecbert belajar tentang bahasa dan kebudayaan Viking dan mendapat akses naskah-naskah kuno peninggalan bangsa Romawi Pagan. Naskah-naskah pengetahuan yang dilarang diakses oleh penguasa Wessex pendahulunya. Dari Ecbert, Athelstan mendapat perlindungan keamanan dari orang-orang Wessex yang membencinya karena kemurtadan dan pengkhianatannya.

Sebagaimana Earl (lalu Raja) Ragnar, Raja Ecbert mencintai Athelstan karena karakternya yang jujur, bersahabat dan pandai. Ecbert tidak peduli lagi jika Athlestan memiliki ikatan emosional terhadap bangsa Viking, dan soal imannya yang dipertanyakan. Hingga, ia begitu sakit hati ketika Athelstan memutuskan kembali ke Kattegat bersama Ragnar. Tapi Ecbert tak bisa mencegahnya.

Tapi tindakannya itu tidak menjadikan Athelstan mantap mengimani Viking dan meninggalkan Kristen. Ia ragu.

"Jadi, kamu sudah kembali mengimani keyakinanmu, menyangkal keyakinan kami?" suatu hari Ragnar bertanya.

"Aku berharap semudah itu. Namun, dalam rinai hujan aku merasakan Tuhan Allah di Surga, kemudian ketika petir menggelegar aku masih merasakan kehadiran Dewa Thor. Kegalauanku ini menghadirkan penderitaan yang mendalam," jawab Athelstan.

"Semoga suatu hari nanti tuhan/dewa kita saling berteman," timpal Ragnar.

Athelstan mati. Ia dibunuh Floki, sahabat Ragnar. Floki yang seorang fundamentalis Viking, merasa mendapat bisikan gaib untuk membunuh Athelstan. Atau, mungkin, Floki punya alasan lain. Ia begitu membenci Athelstan. Ia merasa, Athelstan mengambil alih persahabatan dan kepercayaan Ragnar darinya.

Ragnar terpukul atas kematian Athelstan dan hidupnya berubah. Ia seperti kehilangan iman, sekaligus arah hidup. Athelstan mati saat ia sepenuhnya mengimani Kristen, dan berpaling dari Odin dan Thor. Mungkin itu yang membuat Ragnar begitu kehilangan.

Di kehidupan kedua, Ragnar tidak mungkin bertemu dengan Athelstan. Ragnar seolah tidak lagi peduli untuk apa ia mati. Sebelum bertemu Athelstan, sebagaimana pejuang-pejuang Viking lainnya, ia memiliki impian mati di medan tempur, agar dapat bertemu dengan dewa Odin bersama kawan-kawan seperjuangannya di Valhalla. 

Namun, di Valhalla tak ada sahabatnya, Athelstan. Tapi di saat yang sama, Ragnar bahagia. Athlestan tidak lagi disiksa dengan pergulatan iman, Athlestan mantap mengimani keyakinananya semula: Kristen.

Belasan tahun kemudian, Ragnar bertemu Ecbert, sebagai tawanan Ecbert. Ragnar bercerita pada Ecbert bagaimana Athelstan mati: sebagai orang Kristen. King Ecbert begitu bahagia mendengarnya. Bukan soal iman ia bahagia, tapi Athelstan mati dalam kondisi pada sisi di pihaknya, sebagai orang Kristen. Tidak mati di pihak Ragnar, mengimani Viking. 

Namun di saat yang sama, ia prihatin dengan musuh sekaligus sahabatnya, Ragnar. Ia menua dan kehilangan arah. Ragnar meragukan kepercayaan Viking, tapi juga ia lebih meragukan keyakinan Kristen.

"Bagaimana jika Tuhan/Dewa tidak ada?" tanya Ragnar pada Ecbert.

"Temanku, ngomong apa kamu?" Ecbert memastikan.

"Tuhanmu, dewa-dewaku, seandainya tidak ada?"

"Well, jika tuhan atau dewa-dewa tidak ada, maka tidak ada yang berarti di atas Bumi."

"Atau segalanya berarti. Kenapa kamu membutuhkan tuhanmu?"

"Well, jika tidak ada tuhan, maka siapa pun bertindak sesukanya, dan tidak ada yang berarti."

"Kamu yang percaya tuhan, juga bisa kok melakukan sesukamu seolah tidak ada yang nyata dan seolah segalanya tidak berarti dan berharga."

"So, meski seolah-olah tuhan-tuhan/dewa-dewa tidak ada, adalah keniscayaan mereka harus ada."

"Jika mereka tidak ada, ya maka mereka tidak ada. Kita bisa hidup seperti itu."

"Ah, tapi nyatanya kamu tidak hidup seperti itu. Kamu hanya memikirkan kematian. Kamu hanya memikirkan Valhalla (Surganya bangsa Vikings)."

"Dan kamu hanya memikirkan surga. Yang tampaknya sebuah tempat yang menggelikan, tempat di mana semua orang selalu bahagia.

"Valhalla lah yang menggelikan! Semua pejuang yang mati bangkit setiap pagi untuk kembali bertempur di aula Valhalla, dan saling membunuh lagi."

"Maka, Surga dan Valhalla sama-sama menggelikan," tutup Ragnar.

Berhari-hari setelah percakapan penuh persahabatan itu, Raja Ecbert harus menyerahkan tawanan sekaligus kawannya itu kepada Raja Alle untuk dieksekusi.

Secara diam-diam, Ecbert menyaksikan masa-masa akhir Ragnar menghadapi kematian. Ia disiksa oleh Raja Alle, besan Raja Ecbert. Ragnar dipaksa mengakui kebenaran Kristen. Siksaan demi siksaan Ragnar terima. Ecbert bahagia, pada akhirnya musuh terhebat sekaligus sahabatnya mati dalam keyakinan yang mantap: sebagai Viking sejati.

Berikutnya, Raja Ecbert yang kehilangan arah.

*Sumber: Film seri Vikings (2013-2020) musim 1-4.