Pernahkah mendengar judul artikel Sosiologi Munyuk? Artikel tersebut memiliki 4 part, jadi satu judul mewakili satu part. Artikel yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib tersebut dapat ditemukan di dalam buku kumpulan artikel berjudul Secangkir Kopi Jon Pakir

Sebenarnya, inti dari Sosiologi Munyuk menjelaskan bahwa manusia belum siap mempelajari dan menjalani pergaulan bebas, free sex.

Munyuk termasuk kosa kata dalam bahasa Jawa, sedangkan bahasa Indonesianya berarti kera. Ketika membaca artikel Sosiologi Munyuk, kita akan mendapati bahwa pergaulan seks kera antara betina dan jantan sangatlah bebas, mereka tidak mengenal hak kepemilikan.

Maksudnya adalah setiap jantan ataupun betina ketika melakukan seksya seks saja, setelah itu masing-masing dibebaskan mencari pasangan lain dalam lingkup sosial mereka untuk diajak seks lagi. Kera tidak memiliki kecemburuan, sedangkan manusia? Saya rasa kebanyakan dari mereka masih memilikinya. Bahkan, mungkin dewasa ini pun.

Lalu apa bukti jika dewasa ini pun manusia belum siap menjalankan laku seks sebebas seperti yang dipaparkan artikel di atas? Sebenarnya bukti yang akan dipaparkan termasuk ke dalam spekulasi yang berani, karena objeknya manusia secara umum dan bukan dalam lingkungan masyarakat atau budaya tertentu.

Padahal sistem moral mengenai seks pada kenyataannya bermacam-macam, sesuai kesepakatan masyarakat di dalam lingkungan kebudayaannya. Bahkan, terdapat realita di mana mayoritas masyarakat di lingkungannya menghormati norma kesusilaan, tetapi masih menolerir kebebasan seks karena terbentur oleh hak asasi manusia (meskipun terkadang masih mempergunjingkannya).

Sedikit unik memang tetapi kenyataannya ada. Sayangnya, dokumen mengenainya yang saya ketahui terhitung lawas, yaitu pada tahun 2000-an. Berlokasi di salah satu daerah yang termasuk ke dalam wilayah NKRI.

Dokumen tersebut berupa artikel berjudul Liku-liku Pelecehan Seksual Buruh Perkebunan Tembakau yang ditulis oleh Henny Sukartiningsih. Untuk mengetahuinya lebih lanjut, maka bacalah buku kumpulan artikel hasil reportase yang berjudul Sketsa Kesehatan Reproduksi Perempuan Desa.

Baiklah, mari kembali ke awal bahasan, yaitu bukti jika dewasa ini pun manusia belum siap menjalankan laku seks sebebas seperti yang dipaparkan artikel Sosiologi Munyuk.

Pertama, film, novel, dan lagu Romantis.

Siapa yang dapat menyangkal bahwa film, novel, dan lagu romantis adalah produk budaya yang populer, sekaligus didambakan oleh hampis semua manusia agar alur kehidupan percintaannya seromantis film, novel, ataupun lagu tersebut?

Kedua, bersimpati terhadap sahabat yang dicampakan oleh kekasihnya.

Siapa yang sanggup melihat kesedihan sahabat saat dicampakkan oleh kekasihnya? Memang benar bahwa terdapat sahabat menyebalkan yang menjadikan ketercampakan kita sebagai bahan gurauan, tetapi sejatinya mereka tetap bersimpati walaupun dengan cara lain.

Baiklah, hanya dua bukti yang mampu saya paparkan untuk membuktikan bahwa dewasa ini pun manusia belum siap menjalankan laku seks sebebas seperti yang dipaparkan artikel Sosiologi Munyuk.

Oleh karenanya dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia terlukai jika ia dicampakkan oleh kekasihnya. Dicampakkan saja sakitnya minta ampun, apalagi jika diselingkuhi? Sebagai pengantar, akan saya paparkan perbedaan antara dicampakkan dengan diselingkuhi.

Dicampakkan adalah ketika kita diputusin oleh kekasih atau diberi harapan palsu oleh gebetan. Sedangkan diselingkuhi adalah ketika kekasih kita memiliki kekasih lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan kita, padahal kita masih menjalin hubungan asmara dengannya baik berstatus pacaran atau menikah.

Berpegang pada golden rule, yaitu simple universal ethic yang berbunyi; “Jangan melukai orang lain jika tidak ingin dilukai,” saya menentang perselingkuhan. Untuk merealisasikannya – agar hati saya juga merasa lega dan senang – maka artikel ini dibuat.

Tujuan pokok dibuatnya artikel ini sebenarnya untuk memfasilitasi keresahan saya sebagai laki-laki sekaligus penikmat video porno (meskipun tidak sering, tetapi bohong). Jadi begini, saya takut kelak ketika menjalin hubungan asmara akan gampang merasa bosan terhadap sang kekasih, karena telah terbiasa melihat banyak pemeran perempuan berwajah cantik di dalam video porno.

Mungkin ada sebagian anggapan yang menyatakan keresahan saya adalah sesuatu yang berlebihan. Karena banyak diantara para lelaki yang sanggup setia meskipun terkadang melirik perempuan seksi atau berwajah cantik tanpa sengaja.

Namun, kasus di atas berbeda dengan menonton video porno. Biasanya para lelaki lebih menikmati menontonnya apabila berada di ruang privasinya, dan karenanya lebih intens. Berbeda halnya dengan sekadar melirik, karena sulit untuk melakukannya secara intens kecuali memang diniatkan.

Namun, terdapat kasus bahwa lelaki yang sekadar meilirik kecantikan perempuan dengan intens sekalipun mampu menjaga kesetiaannya terhadap kekasihnya. Karena melirik perempuan hanyalah hobi semata. Bahkan terdapat kasus bahwa lelaki penikmat video porno pun mampu menjaga kesetiaannya terhadap kekasihnya.

Jadi, menurut teori epistemologi Karl Popper, keresahan saya belum mampu bertahan melawan kritik oposisi. Kemudian, karena tidak mampu bertahan, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai penyebab utama.

Lagi pula selama ini banyak manusia mencekoki dirinya sendiri atau dicekoki dengan berbagai nilai dan wawasan yang mampu membuatnya tidak tertebak dalam memutuskan sebuah pilihan. Begitu pula pilihan untuk berselingkuh atau tidak.

Namun menurut ajaran agama saya yaitu Islam, manusia diperintahkan menjaga pandangan matanya dan kemaluannya, mengapa demikian? Kata menjaga identik dengan memastikan keamanan dan keselamatan. Selain itu, memastikan keamanan dan keselamatan dalam kurun waktu tertentu dapat menggunakan cara pemeliharaan. 

Asumsi saya ialah Islam memerintahkan untuk menjaga pandangan dan kemaluan sebagai alternatif pemeliharaan terhadap hasrat seks yang dimiliki setiap manusia. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa keresahan saya bisa saja terjadi, meskipun dalam skala kemungkinan terkecil sekalipun.

Catatan: dalam ajaran Islam, pemeluknya diperintahkan untuk menghormati aturan; “Tidak ada paksaan dalam beragama.”