Via dolorosa, dari taman Getsemani sampai puncak Golgota, drama keji penuh derita. Luka, dara, cemoohan, sindiran dan lecutan cambuk di punggungMu menjadi hiburan bagi manusia berdosa.

Ciuman Yudas Iskariot sang sahabat yang berubah menjadi pengkhianat hanya demi uang 30 dinar, menjadi titik awal drama keji via dolorosa. 30 keping dinar harga yang ditawarkan Yudas kepada kaum Farisi dan Ahli Taurat, serendah itukah harga untuk sang penyelamat manusia dan dunia ini.

Taman Getsemani, awal penderitaan dimulai. Pukulan cambuk bertubih-tubih, diseret seperti penjahat, diludahi, dirantai dan digiring dengan kasar menuju istana para penguasa, Kayafas, Herodes dan Pilatus.

Tidak ada saksi dan pengacara yang membela, para pengikutnya lari ketakutan, bersembunyi dalam kerumunan massa. Orang banyak yang sering mendengarkan pengajaranNya dan makan roti dan ikan hasil mukjizat yang dibuatNya kini berbalik menjadi musuh-musuhNya. Sunggu tragis.

Pilatus wali negri sang penguasa pun mencuci tangannya merasa tidak bersalah “aku tidak bersalah atas dara orang ini”, kata Pilatus. Langsung disambut oleh suara gemuruh massa yang berteriak “biarlah dara orang ini ditanggung oleh kami dan anak cucu kami, salibkan dia, salibkan dia, salibkan dia”. Akhirnya hukuman salib dijatuhkan atas dirinya sang penyelamat alam semesta.

Salib berat di pundaknya, mahkota duri melingkari kepalanya, lecutan cambuk para serdadu dan olokan orang banyak mengiringi perjalananNya menuju puncak Golgota. Tiga kali terjatuh tertimpa salib berat, namun demi ketaantanNya kepada Bapa dan cintaNya kepada manusai Ia terus melanjtkan perjalanan penuh derita itu.

Golgota masih jauh, darah dan keringat tercampur menjadi satu jatuh ke tanah kering dan kersang membawa kedamaian, kebahagian dan keselamatan. Para serdadu tanpa lelah merobekan kulit punggungMu dengan cambuk, orang banyak menyaksikan pengorbananMu dengan amarah yang menyala sambil terus berteriak “salibkan dia, salibkan dia, salibkan dia”.

Maria ibuMu, Maria Magdalena perempuan yang Kau ampuni dosanya dan Yohanes rasul kesayanganMu, hanya mampu memandang dari jauh dengan hati yang hancur. IbuMu sungguh wanita yang luar biasa, mampu menemani dan menguatkan diriMu dalam jalan pengorbananMu meskipun hanya lewat tatapan mata.

Adakah perempuan saat ini yang seperti ibuMu, mampu menyimpan semua perkara dalam hatinya.

Dalam menapaki jalan yang penuh derita, saat raga dan tenagaMu telah lelah Simon Kirene datang memberikan pundaknya untuk memikul salibMu. Apakah saat ini masih ada manusia seperti Simon Kirene ini yang datang dan memberikan dirinya untuk orang yang membutuhkan.

Di tengah kerumunan orang banyak yang menyaksikan jalan derita yang sedang Kau jalani ini, dengan keberanian dan cinta yang tulus Maria Veronika menerobosi kerumunan banyak orang, datang memberi air kepadaMu dan mengusap keringat dan darah di wajahMu, Kau memberikan gambaran wajahMu yang tercetak pada kain kepadanya sebagai hadiah.

Apakah saat ini masih ada manusia seperti perempuan ini yang berani datang memberikan kesegaran kepada sesama yang menderita?

Di puncak Golgota, Kau ditelanjangi, tangan dan kakiMu ditembusi paku, di salib penghinaan kau tergantung bersama para penjahat.

Semua drama keji itu belum berakhir, para serdadu menikam lambungMu dengan tombak. Dari lambung kudusMu itu air dan darah mengalir, melahirkan kebahagian dan keselamatan bagi manusia.

Via dolorosa, dari taman Getsemani sampai Golgota, luka dan dara, cambuk dan salib menjadi bukti ketaatanMu kepada kehendak Bapa dan demi cintaMu bagi manusia.Tuhan, apakah kami mampu belajar berkorban dalam hidup kami seperti yang telah Kau tunjukan dalam Via Dolorosa.

Minggu Pagi, Biara Karmel St. Theresia, Jogjakarta

 22, Maret 2020 


Corona

(Peringatan Atau Ujian)

Tuhan apakah wabah virus Corona ini adalah kutukan yang Kau berikan bagi kami makhluk ciptaanMu, manusia lemah dan berdosa. Ah...Tuhan jika memang ini kutukan kenapa banyak manusia yang hidupnya baik dan benar mengalami musibah ini. Kenapa seperti ini, Tuhan?

Apakah ini satu peringatan bagi manusia berdosa untuk khilaf dan bertobat. Atau ini adalah ujian bagi manusia yang hidupnya baik dan benar, sehingga mereka tetap beriman seperti kisah Ayub orang benar yang mendarita.

Jika memang demikian, maka kami tidak bisa mengajukan protes kepadaMu Tuhan sebab kami tidak mampu menyelami kebijaksanaanMu.

Kami menyadari Tuhan, bahwa kekuasaanMu tidak dapat dimengerti dan merupakan misteri yang tidak mampu dipahami oleh manusia dengan segala kemampuan dan kepandaiannya.

Tuhan, dalam situasi takut dan cemas yang kami alami saat ini akibat wabah Corona atau Covid-19 ini, kami hanya minta satu hal saja padaMu untuk menguatkan Iman dan kepercayaan kami kepadaMu. Biarlah kami tetap beriman kepadaMu meskipun wabah ini terus mengintai dan merenggut diri kami.

Tuhan dalam penderitaan karena ketakutan dan kecemasan ini ijinkan kami untuk tetap berseru kepadaMu seperti Ayub yang dengan yakin berseru “Hidup dan kasih setia Kau karunikan kepadaku, dan pemeliharaanMu menjaga nyawaku”.   Itu saja yang kami harapkan Tuhan, sedangkan yang lainnya itu adalah kehendakMu.

Tuhan, semoga dengan wabah Virus Corona ini kami menyadari bahwa Engkau mengijinkan segala sesuatu terjadi pada manusia bahkan penderitaan sekalipun.

Dengan demikian manusia mampu mengakui ketakberdayaan dan kerapuhannya, bahwa tanpa pertolonganMu, Tuhan manusia tidak ada apa-apanya.

Kamar No 18, Biara St. Theresia Jogja, 26 Mar 2020