“Hartini, maaf.”

Laat maar.”

Sepeda pancal merek Gazelle buatan tahun 1925 itu terpental. Dua siswa yang dimabuk asmara itu terpelanting. Roda depannya tiba-tiba dihantam balok kayu. Tega nian orang yang sengaja melemparinya. 

Harjo telah membuat Hartini anak wedana yang Indo-Belanda itu itu terluka. Kini meringis dan meniup lututnya yang berdarah-darah. Mereka berdua adalah pelajar Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya. Sekolah setingkat penggabungan SMP dan SMA di masa Hindia Belanda. Masa ajarnya lima tahun. Berisikan anak-anak cerdik pandai. Ada anak Belanda, peranakan Eropa dan tak ketinggalan anak-anak priyayi pribumi. 

Tak jauh dari mereka berdua yang tersungkur, sekelompok pelajar riuh bersorak dan tertawa. Rayakan kemenangan final balap sepeda pancal unik di sore itu. Syaratnya peserta harus berboncengan dengan kekasihnya masing-masing! Kemudian diadu kecepatannya. Sepeda pancal merek Batavus unggul. Sepeda itu dikayuh oleh Jansen berboncengan dengan Monika.

Lang leven AMS!”

“Rasakan inlander, mampus kau!”

Yel-yel perundungan yang primordial bergemuruh. Memantik rasa kebangsaan. Darah Merah Putih mendidih. Bercampur gelora asmara anak muda. Masing-masing pasangan ingin menunjukkan kesetiaannya. Jansen dan Monika adalah siswa sekolah AMS (Algemeene Middelbare School), setingkat SMA. Musuh bebuyutan sekolah HBS tempat pasangan Harjo dan Hartini bersekolah. Biasalah rivalitas anak muda.

“Curang!” teriak Harjo.

“Sudah, Jo, jangan dilayani!” rayu Hartini.

Harjo dan Hartini keduanya keturunan priyayi. Mereka berdua selalu berprestasi dan menjadi bayang-bayang menakutkan bagi sekolah AMS. Sedang Jansen dan Monika umurnya lebih tua dari mereka berdua. Sebab siswa AMS harus menambah setahun, khusus untuk kelas bahasa Belanda. Jadilah sore itu menjadi arena pertandingan adu otot yang beda umur di area sekolah HBS. 

Halaman sekolah itu tampak berpagar besi tinggi. Seolah menjadi penyekat antara penonton pribumi yang berjubel menikmati tontonan itu. Gedung sekolah HBS berdiri megah dan bermenara intai. Menjulang tinggi ke langit sore Surabaya yang mendung. 

Gedung itu adalah buah karya arsitek J. Gesber di tahun 1923. Menara intainya siap memuntahkan amunisi jika diperlukan. Tidak ada wilayah netral. Termasuk bagi lingkup pendidikan sekalipun. Sebuah militerisasi pendidikan khas kompeni.

Sore itu penontonnya sungguhlah kontras, bertelanjang kaki. Berdesak-desakan himpit pagar. Mereka tak lain adalah anak-anak Tweede Inlandsche School. Atau dikenal dengan Sekolah Ongko Loro. Sebuah jalur pendidikan dasar khusus pribumi. Masanya cuma tiga tahun. Sungguh tak adil. Bangkunya dari bambu dan buku tulisnya dari sabak. 

Penonton masih saja riuh bersorak. Memberi semangat di sisa-sisa pertandingan yang pincang. Akhirnya Pendukung sekolah AMS menggotong Jansen. Diarak keliling halaman bak tuan Daendels. Sedang Harjo terhuyung-huyung membopong Hartini ke pinggir halaman. Sore yang romatis sekaligus heroik.

Pagi yang cerah. Sebuah papan tulis besar hitam legam itu berdiri mengangkang di depan kelas. Baru saja gaduh oleh siswa yang berebut membersihkannya. Lonceng dipukul dan berdentang keras. Tanda pelajaran segera dimulai. Langkah kaki bersepatu lamat-lamat terdengar. Siswa semburat menduduki bangku kayunya masing-masing. Cukup mentereng, berbahan kayu jati hitam. Ada tempat botol tinta dan laci bukunya. 

Mr. Karol sang doktor pengampu pelajaran botani memasuki kelas. Beliau terkenal killer. Tiada ampun melihat ketidakdisiplinan. Apalagi kasus bolos. Siswa bisa dijemur berjam-jam di halaman sambil hormat bendera Belanda. 

Guru sekolah HBS saat itu ditekan Ratu Belanda Wilhelmina agar sekolah HBS Hindia Belanda setara dengan sekolah HBS yang ada di negara Kincir Angin itu. Sekolah HBS ibarat kelas-kelas percepatan. Belanda serius menggarap sekolah HBS. Pengajarnya tak tanggung-tanggung. Didatangkanlah para doktor, sungguh istimewa!

“Silahkan grup A presentasi!” perintah Mr. Karol.

Majulah Harjo bersama kelompoknya. Hari itu tidak bersama Hartini pujaan hatinya. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengannya. Mungkin sakit akibat terpelanting balap sepeda pancal kemarin sore.

“Riset botani kita tentang kebijakan Politik Etis, Trias Politica,” kata Harjo memulai presentasinya.

Volgende!”

“Seharusnya Politik Etis ditujukan untuk semua penduduk asli Hindia Belanda atau Inders, yang di dalamnya termasuk pula orang Eropa yang menetap atau blijvers,” jelas Harjo sambil diiringi tepuk tangan riuh siswa.

Trias politika sebagai aksi balas budi oleh Belanda terhadap tanah kolonial tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Irigasi, emigrasi dan edukasi nyatanya hanya untuk para Belanda saja.

“Untuk itu jika presentasi ini ditindaklanjuti, kami bersedia turun di sisa lahan tanam paksa untuk meneliti dan pengabdian di Sekolah Ongko Loro di sekitar lahan,” jelas si Harjo bersemangat.

Tampak Mr. Karol termenung. Jiwa pendidiknya keluar. Melewati batas-batas primordial dan sekat-sekat kebangsaan. Menyusup ke relung-relung kemanusiaan yang dalam.

Mee eens!” jawab Mr. Karol memecah kesunyian kelas. Bersoraklah siswa. Presentasi grup Harjo diterima. Namun Harjo tak mampu menutupi tanda tanya besar di kepalanya. Tentang Hartini yang tidak masuk sekolah hari ini. Ada apa dengannya?

“Kita hubungi si Rahman dari sekolah Taman Siswa,” ucap Harjo membuka rapat kelas.

“Melani Chen dari sekolah HSC juga harus kita undang juga!”

“Setuju!!!” serempak siswa beraklamasi.

Sekolah HSC atau Hollandsch-Chineesche School adalah sekolah khusus warga Tionghoa. Suasana rapat sore itu begitu patriotik. Sebuah tindak lanjut yang positif dari presentasi Harjo. Sepertinya semangat kebangsaan telah berada di titik kulminasi. 

Rencana kegiatan mereka juga akan menggandeng sekolah lain. Termasuk rivalnya, sekolah AMS. Namun sore itu juga Hartini tak datang rapat. Harjo makin kelimpungan. Begitu rindunya, hingga berkali-kali kalimat meluncur dari mulutnya di serunya rapat kelas, mana Hartini? Mana Hartini?

Hari ketiga si Harjo masih kehilangan kekasihnya. Sudah tiga hari Hartini tak masuk sekolah. Rencana untuk menjenguknya selalu gagal oleh ketakutannya. Bapak Hartini adalah seorang wedana yang galak dan penjilat Kompeni. Harjo benar-benar takut. Cintanya dipatahkan oleh seringai kolonialisme. Bisa saja sang wedana memperpanjang urusan. Hukum tak akan berpihak kepada pribumi, walaupun priyayi sekalipun.

Sebulan berlalu. Kini Harjo benar-benar kehilangan Hartini. Desas-desus Hartini pindah sekolah. Hari itu siswa sekolah HBS dan rekan sekolah lainnya sudah siap berangkat riset botani sebagai tindak lanjut presentasi sebulan yang lalu. 

Kegiatan mereka adalah pengabdian pendidikan di area yang terdampak tanam paksa. Gabungan sekolah-sekolah yang diundang dinamakan tim Merah Putih. Ada sekolah HBS, AMS, MULO, Taman Siswa, Perguruan Rakyat dan sekolah HSC. Akhirnya tim Merah Putih menuju Pasuruan. Sebuah kabupaten yang terdampak tanam paksa perkebunan tebu.

Dua hari sudah kegiatan penuh di wilayah Pasuruan itu. Mulai dari pendataan anak-anak yang belum masuk Sekolah Ongko Loro hingga mengajari ejaaan Van Ophuijsen yang mulai dipakai formal saat itu. Tim Merah Putih juga membawa buku-buku hadiah terbitan Kantoor voor de Volkslectuur yang kemudian dikenal dengan Balai Pustaka.  

“Hai inlander jangan sok ngatur!” Tak disangka Jansen seteru abadi masih saja seperti itu. Padahal dia ketua perwakilan sekolah AMS di kegiatan pengabdian itu. Harjo berharap ini tak berulang seperti kejadian balap sepeda kemarin, penikungan dan peliyanan. 

Dan yang paling mengejutkan bagi Harjo adalah Hartini telah bergabung di sekolahnya Jansen! Ternyata dia pindah sekolah ke AMS, rival sekolahnya. Hartini sengaja tak banyak menampakkan diri. Hingga pada pagi itu sekelebatan tertangkap mata Harjo. Sungguh pedih.

Pagi itu hari terakhir masa pengabdian mereka. Tampak beberapa siswa sibuk menyiapkan panggung hiburan sederhana untuk memberi apresiasi keseriusan adik-adik mereka mengikuti bimbingan ejaan Van Ophuijsen. 

Semua riang bergotong-royong. Kecuali si Jansen dan kroninya. Tampak janggal dengan kesibukan yang sepertinya sengaja ditutupi. Entah apa yang dilakukan mereka. Mungkin tak jauh dari cara licik seperti melempar balok kayu saat lomba sepeda tempo waktu.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Pertunjukan segera di mulai. Harjo cemas sambil sibuk mengatur buku-buku hadiah bagi adik-adik mereka yang berprestasi.

“Kok belum ada yang datang?” tanya Harjo ke Melani Chen, siswa sekolah HSC.

“Aku curiga si Jansen! Pasti buat ulah lagi!” jawabnya.

“Kemana dia?”

“Tadi bersama tiga temannya dan Hartini ke gerbang desa.”

Tanpa pikir panjang Harjo menuju gerbang desa. Diam-diam Melani Chen menyusulnya. Berbekal obor Harjo menembus gelap malam. Di gerbang desa dia terhenti. Ada selembar sepanduk yang tergantung di gapura. Dalam remang cahaya obor yang dipermainkan hembusan angin, Harjo berusaha membaca tulisan di spanduk itu.

Verboden voor honden en inlander
(Dilarang masuk anjing dan pribumi) 
Jansen-Hartini

Hancur sudah hati Harjo. Bersamaan dengan matinya obor yang kehabisan minyak. Melani Chen menuntunnya balik ke panggung acara yang tiada berpenonton.

“Sabar, besok masih ada asa dan cinta yang cerah,” bisik Melani Chen lembut. Selembut desir angin malam yang dingin itu.