67936_69994.jpg
https://www.deviantart.com/rcartworks/
Budaya · 5 menit baca

Venom dan Ilusi Negara Maju

Sebagai sebuah karya seni, Venom (2018) adalah film di level medioker. Banyak hal dari film ini terasa dipaksakan. Inkonsistensi di sejumlah hal juga membuat narasi yang ditawarkannya kurang bisa dipercaya. Kurang masuk akal, dengan kata lain. Wajar saja rating film garapan Ruben Fleischer ini di Rotten Tomatoes hanya 30%.

Tetapi tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut. Pembacaan atas Venom dalam tulisan ini lebih akan diarahkan pada hal-hal yang mungkin tersembunyi di balik apa-apa yang ditampilkannya di sepanjang film. Tujuannya: memperbaiki perspektif kita atas film ini.

Eksistensialisme vs Kapitalisme

Eddie Brock, seorang jurnalis investigatif, pada awalnya dicitrakan sebagai sosok autentik; dia menghidupi dirinya dengan melakukan apa yang disukainya, yang sesuai dengan kepribadiannya. Namun suatu kali keautentikannya ini malah membuatnya terlempar dari kehidupan yang dinikmatinya itu. Carlton Drake, seorang lelaki kaya raya yang punya ambisi membuat manusia bisa hidup di luar angkasa, membuatnya miskin semiskin-miskinnya.

Dilihat dari sudut pandang eksistensialisme, Brock bisa dibilang tidak bersalah. Dia hanya melakukan apa yang menurutnya benar, yakni mengungkapkan kebusukan Drake ke publik demi terungkapnya kebenaran; sesuatu yang selalu ia perjuangkan. Dan dia tidak sedang menjadi orang lain saat melakukannya.

Maka bahwa kemudian dia justru bernasib buruk, dan nasibnya ini tak juga membaik seiring waktu berlalu, menandakan bahwa kota di mana dia berada—San Fransisco—digerakkan oleh sistem yang tak sejalan dengan eksistensialisme. Dan sistem tersebut, tak lain dan tak bukan, adalah kapitalisme.

Itu telah terlihat di scene di mana Brock diminta atasannya untuk mewawancarai Drake. Brock, oleh atasannya, diminta membuat Drake merasa nyaman saat diwawancara, bahkan tersanjung, dan itu karena si atasan menyadari betul bahwa seseorang yang kaya rasa seperti Drake bisa menghancurkan perusahaan yang dipimpinnya dengan sangat mudah. Dengan sangat sangat mudah. Kapital, dengan kata lain, menjadi modal yang paling utama, juga kekuatan yang paling diperhitungkan.

Dan Drake dengan modal kapitalnya itu berhasil membuat Brock kehilangan jati dirinya, di mana dia semakin menjauh dari menuju dirinya yang autentik; dia bahkan menilai apa-apa yang dilakukannya dulu ketika masih menjadi jurnalis investigatif itu adalah omong kosong belaka. Brock menyerah. Dia membiarkan autentisitasnya terus terkikis.

Jika ada satu hal yang kemudian mendorongnya untuk menguatkan kembali autentisitasnya, itu adalah sesuatu yang sifatnya personal. Anne Weying, mantan tunangannya, mengatakan kepadanya bahwa yang membuatnya terpuruk bukanlah Drake, bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Perkataan menyakitkan Weying ini membuat Brock mempertanyakan (kembali) siapa dirinya, dan jalan hidup seperti apa yang semestinya ditempuhnya.

Kekuatan Ekonomi vs Kekuatan Militer

Pertemuan Brock dengan symbiote bernama Venom, yang menjadi titik balik lain dari perubahan nasibnya, bisa dilihat sebagai simbol dari dimilikinya kekuatan lain oleh Brock, sebuah kekuatan yang mampu menandingi bahkan melampaui kekuatan kapital/ekonomi, yakni kekuatan fisik/militer.

Setelah Brock dan Venom menjalin simbiosis mutualisme, Brock menjadi lebih kuat secara fisik: dia bisa mempertahankan diri dari serangan (fisik) orang-orang suruhan Drake dan bisa juga naik ke tempat-tempat tinggi atau berenang hingga sangat jauh. Dengan kekuatan fisik super ini, Brock seolah-olah tak lagi menjadi diri yang inferior. Bahkan sebaliknya, dia menyadari betul bahwa dia adalah sosok yang superior terhadap orang-orang tertentu—para polisi, misalnya.

Menarik sekali bahwa Drake pun kemudian memiliki kekuatan ini. Pada kasus Drake, kekuatan ekonomi dipadukan dengan kekuatan militer, dan ini seakan-akan dipasangkan dengan Riot, sosok symbiote di dalam diri Drake, yang level kekuatannya berada di atas Venom. Ketika sebuah negara memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang kuat, maka ia akan menjadi negara yang superior dan dominan. Seakan-akan, itulah yang berusaha dikemukakan hal-hal tersebut.

Pada akhirnya memang Brock (dengan Venom-nya) berhasil mengalahkan Drake (dengan Riot-nya). Apakah itu sesuatu yang dipaksakan? Saya kira iya. Tetapi jika ada yang berusaha diutarakan lewat kemenangan Brock tersebut, barangkali itu tergambar pada apa yang dikatakan Riot kepada Venom, bahwa inang Venom (Brock) secara fisik lebih kuat daripada inangnya sendiri (Drake).

Katakanlah pertarungan mereka itu adalah simbol dari situasi krisis seperti perang. Maka dalam situasi seperti itu, yang berpeluang menang, adalah pihak yang memiliki kekuatan militer yang baik yang didukung oleh fondasi militer yang juga baik. 

Tentu kita harus juga menambahkan heroisme sebagai variabel. Intinya adalah, kekuatan militer yang baik itu penting, sebab ia akan sangat berguna pada saat-saat krisis. Dan di saat-saat krisis, kekuatan militer yang baik itu jauh lebih krusial daripada apa pun.

Nuansa Seksis dan Ilusi Negara Maju 

Kiranya perlu dicermati bahwa para symbiote itu mencapai wujud terbaiknya dalam inang laki-laki, di mana yang satu kuat secara fisik dan yang satu lagi kuat secara kapital. Di saat yang sama, para perempuan, meskipun sempat dipilih para symbiote itu sebagai inang, selalu hanya untuk sementara waktu. Selain itu para perempuan, di film ini, nyaris selalu ditampilkan sebagai sosok yang tak berdaya, dan karenanya perlu dilindungi atau diselamatkan.

Melihatnya dari sudut pandang feminisme, bisa dikatakan: film Venom ini bernuansa seksis.

Dan nuansa seksis itu terasa juga dalam cara para tokoh perempuan di film ini memandang realitas. Brock, dicitrakan sebagai sosok yang mengejar autentisitas. Weying, sementara itu, sangat pragmatis, sangat tidak autentik. Tokoh perempuan lain seperti Dora Skirth pun seperti itu; lebih mementingkan terjaganya stabilitas ketimbang melakukan pemberontakan.

San Fransisco, kota yang menjadi latar film ini, adalah sebuah kawasan di negara maju. Kemajuan itu pun tentu merambah kota tersebut, dan itu salah satunya terlihat dari berdirinya gedung-gedung pencakar langit di sana. Namun di balik kemajuan itu, ternyata ada nuansa seksis yang cukup kuat. Padahal kemajuan, seyogianya, identik dengan hal-hal yang unggul atau (jauh) lebih baik.

Terkait hal inilah Venom seperti berusaha memberitahu kita—atau mengingatkan kita—bahwa predikat “negara maju” seringkali ilusif. Tidak selalu apa-apa yang ada di negara maju adalah yang (jauh) lebih baik.

Selain nuansa seksis barusan, terbangunnya iklim yang tidak sejalan dengan eksistensialisme tadi adalah hal lainnya. Di mata eksistensialisme, yang harus dilakukan seseorang adalah mengejar kebebasannya, atau paling tidak berusaha menjalani hidup sesuai dengan kepribadiannya. Namun kokohnya kapitalisme di negara maju kerap menghambat upaya tersebut. Kapitalisme sendiri, di mata eksistensialisme, adalah faktisitas; sesuatu yang harus coba dilawan sebisa mungkin.

Satu hal ilusif lainnya dari negara maju yang tergambarkan di film ini adalah betapa krusialnya kekuatan kapital (ekonomi) dan kekuatan fisik (militer). Padahal idealnya, jauh di atas kedua hal itu, adalah kemanusiaan dan akal sehat.

Dengan segala kekurangannya, dengan segala inkonsistensi yang membuatnya bernilai rendah sebagai sebuah karya seni, Venom secara subtil menawarkan sesuatu yang cukup penting untuk masyarakat dunia saat ini, yakni bahwa kemajuan sebuah negara—baik itu dalam perekonomian atau militer—tak menjamin segala sesuatu di dalam negara itu ada pada level yang (jauh) lebih baik.

Hanya saja memang, sayang sekali, kekurangan-kekurangannya itu terbilang mengganggu. 

Namun di sisi lain, munculnya rasa terganggu itu, justru sejalan dengan apa yang berusaha dikemukakan tulisan ini. Untuk sebuah film yang diproduksi di negara maju, Venom, tak pelak lagi, tidak berada pada level yang (jauh) lebih baik.