Pria berkulit putih dengan seragam acak-acakannya berjalan terburu-buru menuju ruang XI IPS 2. Sekitar satu menit ia sudah berada di depan pintu ruangan yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat.

Tangannya memegang kenop pintu, dan ia arahkan kebawah lalu mendorongnya pelan. Pemuda itu menghembuskan nafas yang sedari tadi dia tahan. "syukurlah belum ada guru," batinnya. 

Kemudian ia berjalan ke arah meja dan kursi kosong di paling pojok. Setelah sampai, ia melepas tas berwarna hitam pekatnya dari kedua bahu nya dan meletakkannya di dalam loker meja tersebut. Lalu ia mulai duduk di kursi berbahan plastik. 

Ayres Urvilla, Panggil saja dia Ayres. Remaja yang baru saja menginjakan usia 17 tahun. Ayres hanya lelaki biasa, tidak buruk tapi tidak sebaik yang kita pikirkan. 

***

Waktu sudah bergerak selama satu jam lamanya semenjak ia masuk ke kelas XI IPS 2, tapi tidak ada tanda-tanda guru akan masuk mengajar. Sepertinya sedang rapat. 

Ayres sedari tadi memperhatikan jarum jam yang ada kelasnya. Temannya yang lain sibuk bermain sebuah permainan di ponsel masing-masing. Tidak seperti Ayres, hari ini ia lebih senang menyendiri daripada bermain dengan mereka.

Mungkin efek ia masih mengantuk, karena semalaman Ayres baru bisa tertidur sekitar jam dua malam. Entah mengapa Ayres semakin lama, semakin bosan di sini. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk memperbaiki seragamnya yang acak-acakan. Ayres bangkit dari tempat duduk. 

Setelah itu ia menuju ke pintu coklat dengan bertujuan ingin keluar dan pergi ke kkamar mandiri . Baru saja Ayres melangkahkan kakinya sebanyak lima kali. Dari kejauhan ia melihat ada guru kelasnya berjalan dengan—murid baru mungkin. 

Ayres tetap melakukan perjalanan menuju toilet, di dekat lorong ia bertemu dengan Arta—guru muda yang mengajar di XI IPS 2. "Kamu mau kemana?," tanya Arta saat berpapasan dengan muridnya. "mau ke kkamar mandi pak, perbaiki baju," jawab Ayres dengan matanya yang tertuju ke perempuan di samping Arta.

Perempuan itu terus menerus menduduki seperti ada yang dia sembunyikan. Di tambah perempuan di depan Ayres ini menggunakan tudung jaket berwarna hitam. 

***

Di kamar mandi pun Ayres masih terus bingung dan memikirkan perempuan tadi. Tidak biasa nya SMA Antariksa kedatangan murid baru di tengah-tengah semester, seperti saat ini. 

Kedua tangan Ayres sibuk merapikan seragam yang berkerut tak karuan. Sekarang ia sudah selesai merapikan seragam, walau masih sedikit kusut di bagian tertentu. 

Setelah itu ia membasuh wajahnya di wastafel dengan air, agar tidak mengantuk lagi. Ayres keluar dari kkamar mandi khusus pria. 

***

Ayres memasuki kembali ruang XI IPS 2, tapi tunggu. Seperti ada yang janggal. Ternyata yang janggal yaitu, perempuan yang Ayres temui tadi saat ia ingin pergi ke kamar mandi tersebut duduk tepat di samping Ayres. 

Ayres kembali ke tempat meja dan kursinya. Ia masih kebingungan kenapa perempuan itu masih menggunakan tudung jaketnya, bukan hanya itu saja. Perempuan tersebut masih menunduk, padahal Arta di depan sedang menjelaskan mata pelajaran Biologi yang terbilang tidak mudah. 

Ayres mendengarkan apa yang Arta jelaskan di depan papan tulis, sesekali juga ia melirik ke arah manusia yang menggunakan jaket hitam yang sama sekali tetap bergeming. 

Tak berapa lama, suara bel pertanda istirahat berbunyi nyaring di seantero sekolah SMA Antariksa. Arta langsung menutup pelajaran biologi di susul doa bersama sebelum keluar. Setelah doa, Arta keluar serta membawa beberapa buku miliknya. 

Penghuni XI IPS 2 keluar dengan buru-buru agar tidak kehabisan makanan di kantin. Di susul oleh perempuan bertudung jaket hitam. Sisa Ayres, tapi Ayres tidak diam di sana beberapa detik setelah ia melihat perempuan misterius tadi keluar.

Ia beranjak berdiri lalu menyusul perempuan itu diam-diam. Perempuan misterius itu ternyata tidak pergi ke kantin. Melainkan berjalan ke arah rooftop SMA Antariksa. 

Ayres mengerutkan kening beserta alis nya pertanda ia bingung. Setau Ayres, pintu menuju rooftop sangat jarang di ketahui oleh siswa siswi Antariksa. Tapi perempuan itu bahkan tau dimana letak pintu rooftop

Ayres masih mengamatinya dari jauh. Dan akhirnya ia memberanikan diri untuk berkenalan dengan perempuan tersebut. Sekitar jarak 1 meter di belakang perempuan misterius, Ayres berhenti melangkah karena sedikit ragu.

Perempuan itu sadar bahwa dari tadi ada yang mengamati dirinya dari kejauhan bahkan mengikutinya. "ngapain kamu mengikuti saya?" gadis itu angkat bicara dengan nada tidak suka, tanpa membalikkan badannya. 

Aura dingin seketika muncul di sekitar Ayres, padahal matahari tepat berada di atas nya. 

Ayres masih diam tak berkutik di karenakan ada aura yang aneh menghampiri dirinya. "Valetta ilis." ujar gadis itu tiba-tiba memberi tahu namanya.

Ayres sedikit paham, "Oh nama kamu Valetta?" tanyanya hanya sekedar memastikan. Gadis itu tersenyum miring dengan posisi masih sama yaitu, munundukan kepalanya dan tidak membalas pertanyaan lelaki itu. 

Jujur saja, Ayres makin di buat bingung. Sekarang giliran Ayres yang ingin memberi tahu namanya. Tapi, sebelum itu ia berjalan lalu mengahadap ke arah kiri Valetta. "Ayres Urvilla, panggil saja Ayres." ujar Ayres seraya menyerahkan tangannya. 

Valetta mengangkat wajahnya sehingga mata mereka saling bertemu. Ayres menutup matanya dan membuka kembali. Ayres sekarang menatap mata beriris biru, setelahnya ia terjebak di sebuah ruangan berwarna merah darah. Entah itu ruangan apa. 

Bersamaan dengan itu Valetta membalas tangan Ayres. Ayres merasakan tangan Valetta dingin. Sangat dingin, suhu badan Valetta bukan seperti manusia pada umumnya.

 ***

Sore ini Ayres baru sampai di kafe Retla. Setelah motor vespa hitamnya terparkir rapi di depan kafe, Ayres memasuki kafe tersebut. Di tangan Ayres terdapat benda yang pipih dan canggih.

Ayres mencari meja kosong untuk di singgahi. Dia langsung duduk setelah tiba di meja kosong yang tadi ia cari. Ayres menunggu kedatangan teman dekatnya di kafe ini.

Kurang lebih lima menit, orang yang di tunggu pun datang. Nama nya Marc aleron, biasa di panggil Marc. Marc merupakan siswa terpintar di SMA Antariksa, hebat nya ia tidak terlalu mendorong dirinya untuk belajar. Malahan Marc sedikit malas dalam  belajar. Sejujurnya, ia tidak tau kepintaran ini di dapat dari mana. Kedua orang tuanya bahkan tidak sepintar Marc. 

Marc menempatkan diri di kursi seberang. Mereka duduk saling berhadapan, hanya meja yang menjadi pembatas. Marc menyandarkan punggung ke sandaran kursi sambil menunggu apa yang hendak Ayres bicarakan. 

Sebelumnya, Ayres memanggil seorang barista dan memberi kode dari kejauhan. "mau pesen juga?" Ayres bertanya kepada Marc, "atau mau minum apa?" 

Marc menggeleng. "saya barusan habis minum susu coklat di rumah." 

Sesudah memesan minuman, Ayres kembali fokus ke Marc. "terus mau gimana?" Marc memulai obrolannya. Ayres memahami apa yang di maksud oleh Marc, "masalahnya ini baru pertama kali saya bertemu orang seperti itu." 

Ayres menghembuskan napas nya. Jujur saja ia bingung terhadap Valetta, teman barunya yang aneh dan—sedikit seram. 

Marc bertanya lagi sehingga membuyarkan lamunan Ayres. "waktu kamu berada di ruangan merah darah itu apa yang kamu rasain?" 

Ayres menjelaskan secara detail apa yang ia rasakan pada saat itu. "yang paling saya ingat saat itu, badan saya kaku dan saat Valetta menyentuh tangan saya rasanya dingin." 

Marc mendengarkan dengan cermat apa yang di rasakan Ayres saat itu. "sedingin apa tangan Valetta?" sebelum menjawab Ayres meminum pesanan yang barusan tiba. "seperti saat kita memegang es batu," ujar Ayres. 

Insting Marc mengatakan bahwa Valetta bukan manusia biasa. Ada yang berbeda dari Valetta. "Valetta bukan manusia biasa" Marc mengeluarkan pendapatnya. 

Ayres mengerutkan kening dan alis nya. Pertanda bingung, tapi ia sedikit setuju dengan kalimat Marc. Sebenarnya Ayres punya suatu kelebihan dari dalam dirinya, ia dapat melihat masa lalu orang yang buruk. Jujur saja, ini pertama kalinya ia melihat masa lalu orang lain yang hanya berwarna merah darah. 

***

Ayres menghampiri meja yang telah di singgahi oleh Marc sembari membawa mi ayam dan air mineral yang sempat ia beli tadi. 

Di sebrang sana ada Valetta sedang memakan es krim rasa vanilla dengan tatapan kosongnya. Tangan Valetta perlahan memegang sendok berisikan  es krim dan memasukkan ke dalam mulutnya. 

Tiga perempuan dari kelas XII IPS 1 mendatangi meja Valetta secara tiba-tiba. Satu di antaranya membawa  semangkuk bakso, biasa di panggil Ametta. Lalu Perempuan dengan tinggi 165 centimeter mengajak Valetta berbicara, "halo nama kamu siapa?" 

Tatapan mata Valetta yang awalnya kosong berubah menjadi tatapan sinis semenjak kehadiran tiga kakak kelasnya itu. Tidak ada respon dari Valetta dan itu membuat perempuan tadi sangat geram. "aku cuman mau main sama kamu kok" tutur perempuan itu, panggil saja ia Mawar. "tidak boleh temanan sama kamu ya?" lanjut Mawar. 

Hingga lima detik berlalu Valetta tidak ada respon sama sekali, sehingga Mawar cukup kesal. Di satu sisi teman Mawar dan Ametta yang bernama Alea ikut menggerutu. Mawar berdecak kemudian mengambil air mineral dari tangan Alea. Mawar menyiram wajah Valetta. 

Valetta beranjak berdiri dari bangku panjang milik kantin ia menatap tajam Mawar, membuat Mawar sedikit merinding saat memperhatikan kedua mata Valetta di tambah lagi aura dingin yang mencengkram. Mawar mundur dua langkah tapi Valetta semakin maju mendekatinya. 

Satu tangan Valetta terulur pertanda ia ingin berjabat tangan dengan Mawar. Mawar menerima tangan itu. Yang di rasakan Mawar sama seperti Ayres, sangat dingin. 

Valetta masih berjabat tangan dengan Mawar. Satu tangan Valetta yang kosong bergerak cepat ke arah mangkuk Ametta guna mengambil garpu besi. 

Dalam hitungan detik Valetta menancapkan garpu besi tersebut ke tangan kanan Mawar berkali-kali. Valetta tertawa sangat kencang tapi tidak dengan Mawar. 

Mawar menjerit kesakitan bersamaan darah yang keluar dari tangan kanannya. Tawa Valetta semakin besar. Semua pasang mata di penjuru kantin memperhatikan Mawar yang tersiksa. Tidak ada yang berani menolongnya sekalipun Ametta dan Alea. 

Ayres melongo melihat kejadian yang ada di depan matanya. Ia tidak habis pikir mengapa Valetta bisa seperti itu. Marc yang sadar situasi seperti ini segera menyadarkan Ayres untuk membantu Mawar. 

Ayres awalnya menolak tetapi ia kasihan juga kepada Mawar. Ayres melepas sendoknya kemudian melangkah ke tempat kejadian.