5 bulan lalu · 272 view · 3 menit baca · Media 90127_44286.jpg
entertainment.kompas.com

Vanessa Menari-nari dalam Pikiran

Vanessa adalah topik yang tersaji dalam banyak media minggu ini. Bentuknya beragam, dari berita, opini, hingga pembelaan dan hinaan bertubi-tubi. 

Berbagai hal dialamatkan padanya. Seakan Vanessa dituntut menjawab dan merespons semua tanya agar hasrat kepenasaranan publik terjawab. Jujur saja, pikiran-pikiran tentang Vanessa di media sosial menari-nari dalam pikiran saya, dan itu sungguh menggelikan!

Jadi begini, saya melihat ada kecenderungan yang sama dimiliki oleh lelaki pemesan Vanessa dan publik. Sama-sama ingin terpuaskan! Satunya ingin terpuaskan secara biologis, satunya lagi secara mental. Namun, saya tidak akan membahas hasrat masing-masing, karena itu hak mereka melampiaskannya!

Di sini, saya hanya ingin mengulas perspektif yang melatari pikiran-pikiran publik, antara kubu pro dan kontra. Hal ini penting, cara pandang dan pikiran-pikirannya mesti didudukkan dalam ruangnya masing-masing secara proporsional. Kenapa? Agar orang lain yang tidak tahu apa-apa, tidak ikut mem-Vanessa-kan keduanya. 

Maksudnya, agar pikiran dari kedua kelompok ini tidak mendapat kecaman dari kacamata publik yang berbeda. Saya berharap, publik melihat dan memahaminya dari sudut pandang masing-masing kubu. Dengan demikian, akan tercipta narasi nalar yang produktif. Atau bisa juga, publik memberi perspektif berbeda tanpa harus menjatuhkan cara pandang orang lain.


Kesimpulan atas adanya kubu pro dan kontra ini berangkat dari sebuah pembacaan pada beragamnya informasi di media sosial akhir-akhir ini, khususnya beberapa artikel-artikel di Qureta yang membahas si Vanessa ini. Namun, saya tidak akan sampai pada kesimpulan membenarkan atau menyalahkan kedua pikiran tersebut. Ini sekadar refleksi atas perseteruan perspektif kedua belah pihak. Bukan perseturan TKN dan BPN, ya. 

Pikiran Pro Vanessa

Setelah membaca berulang kali, semoga tidak gagal paham! Argumentasi dari pikiran-pikiran yang melatari ke-pro-an pada Vanessa bisa kita tinjau menggunakan perspektif humanisme. Hanya ajaran ini yang paling bisa mengakomodir pikiran-pikiran demikian. Aliran filsafat ini memandang bahwa manusia bisa menentukan nasibnya sendiri, manusia bebas berpikir dan bertindak berdasarkan aspek rasionalitas dengan segala otoritasnya.  

Pada posisi itu, publik membela Vanessa karena menganggap menjual diri adalah hak individu dan tidak seorangpun berhak mengendalikan tubuh manusia selain pemiliknya sendiri. Hak atas eksistensi diri adalah ciri yang melekat pada humanisme, dan dalil ini yang digunakan publik untuk berpihak membela Vanessa.

Pada konteks lain, bagi publik, Vanessa tentu berhak berpikir pragmatis. Bahkan, berhak menerima tubuhnya dibeli 80 juta rupiah demi mewujudkan eksistensi dirinya sebagai artis mahal dan kelasnya di papan atas. Tentu publik dengan kacamata berbeda akan menganggap pikiran tersebut sesat! 

Pikiran Kontra Vanessa

Beberapa juga kontra dengan jalan yang ditempuh Vanessa. Ini kebutuhan perut atau kebutuhan gaya hidup? Saya juga sempat berpikir demikian. Namun bagaimanapun pikiran harus jernih melihat persoalan ini. 

Mereka kontra karena menganggap Vanessa mengambil jalan pintas dalam mencari rezeki. Prostitusi jelas diharamkan oleh agama manapun di dunia, meskipun statusnya sebagai profesi tertua dimuka bumi. Banyak dari mereka mengutip dalil-dalil agama untuk menerangkan kasus yang dialami Vanessa. 

Pada posisi tersebut, berdasarkan dalil yang mereka ucapkan, pikiran-pikiran kontra ini berhak melarang dan bahkan menyalahkan Vanessa. Mungkin dengan membaca persepsi publik, Vanessa merasakan sesal sekaligus sesak di dada atas jalan yang telah dipilihnya.


Berangkat dari ketegangan dua kubu pikiran tersebut, Vanessa ternyata lebih menyerap dan merenungkan ucapan-ucapan kubu kontra. Hal itu ia buktikan dengan pernyataan maafnya atas kegaduhan yang diperbuat. Sungguh memang gaduh! 

Opini Terlanjur Terbentuk!

Apa daya, opini telah membesar, melebar kemana-mana dengan tafsir yang macam-macam. Pikiran publik telah terseret dalam diskursus benar salahnya Vanessa dalam kasus ini. Dan itu sungguh berlebihan!

Pikiran ini, sebenarnya tidak adil untuk Vanessa. Dengan membelanya, kita hanya akan mengarahkan pikiran Vanessa menjadi lebih buruk. Kenapa? Dia bisa saja membenturkan prinsip-prinsip keyakinannya dengan dukungan yang kalian berikan. Begitupun sebaliknya, dengan menyalahkannya terus-menerus, dia mungkin saja akan terjerambab dalam kerapuhan emosi yang berkepanjangan. Jadi, berhentilah!

Mestinya, pikiran publik harus diarahkan agar membaca jejak jahat dibalik peristiwa tersebut. Yang harus dibasmi bukan pikiran dan eksistensi Vanessa sebagai artis tetapi, kelompok-kelompok yang mengendalikan jaringan perdagangan wanita dan prostitusi online tersebut. Merekalah yang menciptakan tradisi itu dengan iming-iming menggiurkan. 

Bila harus membela, belalah mereka yang dijebak dan dipaksa masuk dalam dunia lendir itu. Bila harus menyalahkan, salahkan jejaring najis itu. Opini ini yang seharusnya dibangun bersama. 

Pemain di belakang layar adalah aktor sesungguhnya. Mereka menciptakan pasarnya sendiri, mereka tahu betul pangsa pasar birahi sangat tinggi. Posisinya sebagai kebutuhan dasar manusia, sama seperti makan dan minum. Tentu mengolahnya sangat mudah dan sungguh instan, lebih instan dari indomie siram.

Pikiran-pikiran kedua kubu di atas tentu boleh berbeda. Namun, mereka harus sepakat bahwa perdagangan wanita melalui jaringan prostitusi online harus dihapuskan dari muka bumi ini. Pihak berwenang juga harus bergerak cepat. Jaringan ini harus dipotong sampai ke akar-akarnya!


Artikel Terkait