Mahasiswi
6 bulan lalu · 309 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 33901_78481.jpg

Vanessa Bebas Jual Diri? Kebebasan yang Memaksa

Akhir-akhir ini netizen dikejutkan dengan adanya sebuah artikel yang menyudutkan kebebasan akan hak seseorang, khususnya dalam kasus yang dialami oleh Vanessa Angel dengan prostitusi yang menjadi perbincangan masyarakat, utamanya dalam ranah hukum. Pasalnya, sampai saat ini, kasus tersebut ternyata melibatkan sejumlah artis yang menjadi pelaku pekerjaan haram tersebut.

Secara sepintas, negara Indonesia adalah negara yang menjamin hak dan kebebasan seseorang, utamanya dalam menjalani hidupnya. Dalam kasus ini, Vanessa berhak menjual diri lantaran ia melakukan; bukan karena paksaan orang lain, akan tetapi atas dasar keinginannya sendiri. 

Namun kita perlu paham bahwa negara kita berlandaskan hukum yang sudah tertera dalam pasal 1 ayat 3 dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945, mengimpilkasikan bahwa segala ketentuan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri sudah diatur dalam undang-undang yang menjadi pedoman bangsa Indonesia.

Dalam kitab undang-undang hukum pidana, ketentuan pasal 296 yakni: barang siapa mengadakan yang mata pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.


Meski dalam kitab undang-undang tersebut tidak dijelaskan bahwa penyedia jasa PSK atau pelaku PSK tersebut. Apabila pengguna jasa PSK sudah memiliki hubungan sah dengan perempuan (red: keluarga), maka hal ini bisa dijerat hukum perzinahan pasal 284 KUHP.

Pelaku PSK bebas menjual dirinya kepada siapa pun. Akan tetapi ini berkaitan dengan hukum moral yang tidak bisa dipaksakan untuk memberikan predikat baik terhadap kebebasan itu sendiri. Kebebasan yang dimandatkan kepada pelaku penjual diri sama halnya dengan kebebasan yang dimiliki oleh seseorang menjual sabu kepada orang lain.

Dalam konteks ini, bukan siapa yang membeli sabu, orang kaya, miskin, pengangguran atau siapa, tetapi barang yang dijual tersebut justru merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Sama halnya dengan menjual diri. Pemakai PSK bukan perihal dia sudah berkeluarga atau belum, akan tetapi, dalam konteks moral, ini sudah melanggar etika, ketentuan, adat yang berkembang di masyarakat. Belum lagi berbicara persoalan agama yang justru sudah mutlak keharamannya.

Kita berbicara konteks sosial yang dianut oleh masyarakat. Karena Indonesia adalah pedomannya hukum, baik hukum adat, moral ataupun yang lain, bukan kebebasan yang dianut oleh negara Barat yang justru bertentangan dengan kebudayaan kita saat ini.

Belum lagi dalam sudut pandang kedokteran. Ini akan menimbulkan berbagai permasalahan dalam kesehatan bagi pelaku PSK ataupun pemakai PSK itu sendiri.

Kalau misalkan negara Indonesia melindungi PSK serta memberdayakan dengan membentuk undang-undang perlindungan kebebasan bagi PSK, apa bedanya Indonesia dengan kaum sodom Nabi Luth AS yang dilaknat oleh Allah perihal perbuatan buruknya tersebut? Padahal sudah jelas bahwa perbuatan seks di luar adalah perbuatan yang buruk.

Apalagi ketika berbicara moral. Immanuel Kant, seorang filosof yang tidak bisa kita lupakan dari sepak terjang peradaban filsafat, setuju dengan kasus demikian. Pasalnya, Kant sangat menjunjung moralitas. Moral yang dimaksud bukan diajarkan oleh agama, bukan dipaksa oleh negara, bukan diatur oleh pemerintah, akan tetapi moral muncul dalam dirinya sendiri tanpa dipaksa berbuat baik.


Dalam kasus menjual diri yang dilakukan oleh Vanessa Angel, Kant juga mengajarkan bahwa manusia tidak boleh memperalat manusia lainnya, menjalin hubungan cinta atas dasar kerja sama dan kesatuan keinginan kontrak serta nafsu yang saling memperalat. Menjual diri adalah memperalat diri, dan memperalat orang lain serta diperalat orang lain. Ini bertentangan dengan moral yang diusung Kant.

Nilai moral seseorang ada 3 tingkatan, di antaranya: blame wortthy, acceptable, peaise worthy. Tiga tingkatan tersebut dimulai dari tingkatan terburuk, menengah, dan perbuatan baik yang patut diapresiasi kebaikannya.

Blame worthy adalah nilai moral buruk dengan melakukan tindak kejahatan yang ditentang oleh moral, agama, serta masyarakat. Sedang acceptable merupakan perbuatan yang dilakukan adalah kebaikan akan tetapi tidak didasari oleh niat baik.

Misalnya, seseorang yang menyembunyikan helm temannya agar tidak masuk kuliah, ternyata pada saat itu kuliah diliburkan gara-gara dosen berhalangan hadir. Sekilas perbuatan tersebut seperti pahlawan, akan tetapi esensi dari perbuatan tersebut bukan merupakan kebaikan murni melainkan acceptable

Selanjutnya, yaitu peaise worthy. Ini merupakan perbuatan yang jelas-jelas kebaikan atas dasarnya.

Dalam kasus Vanessa Angel, meskipun dasar perbuatan tersebut untuk mencari nafkah keluarga, ini bukan merupakan acceptable apalagi peaise worthy, karena perbuatan yang dilakukan adalah bentuk memperalat diri serta merugikan diri sendiri. Perbuatan tersebut tetap masuk di blame worthy. Kebebasan yang didengungkan oleh seseorang dalam kasus tersebut adalah kebebasan yang memaksa.

Paksaan tersebut mengacu terhadap kebebasan hak asasi manusia yang dimiliki oleh seorang Vanessa Angel. Akan tetapi, hal tersebut dimaknai kebebasan yang sifatnya tidak logis serta menyimpang dari moral yang berlaku.


Artikel Terkait