2 bulan lalu · 307 view · 4 menit baca · Perempuan 37069_59000.jpg
https://celebrity.okezone.com/read/2018/06/10/33/1908945/unggah-bukti-transfer-dari-kekasih-netizen-sebut-vanessa-angel-norak

Vanessa Angel dan Kambing Hitam dari Kesucian Komunal

Indonesia digegerkan oleh kasus prostitusi yang menjadi headline di berbagai media. Kasus yang menimpa artis Vanessa Angel (selanjutnya akan ditulis dengan VA) memang dapat dikatakan menggemparkan Indonesia. Kasus yang menjerat VA tidak lain dan tidak bukan adalah kasus prostitusi online yang disinyalir banyak artis selain VA yang terlibat di dalam kasus tersebut.

Berbagai respon ditunjukkan oleh berbagai pihak. Respon yang hadir datang dari orang-orang dengan beragam latar belakang, mulai dari kriminolog hingga orang-orang yang menjadi baham meme dengan menjadikan kabar tentang tarif jasa prostitusi artis serta orang-orang yang sekilas terlihat suci tanpa noda.

Salah satu jenis pernyataan yang muncul menanggapi kasus VA tidak jauh dari hal-hal yang agamis. Akan tetapi sebagian besar dari pernyataan agamis yang muncul tidak membahas tentang bagaimana pelacuran dipandang secara holistik dengan perspektif agama. Pernyataan yang muncul hanya sebatas bahwa perbuatan yang dilakukan VA itu dosa. Selesai!

Hal yang lebih unik lagi ada yang berani menjengkali Tuhan dengan mengatakan bahwa itu adalah tanda kiamat. Meskipun pernyataan yang seperti itu bukan barang baru lagi di Indonesia, namun jenis pernyataan yang berbau agama terlihat seperti template yang akan dimunculkan ketika berkaitan dengan kasus yang berhubungan dengan nilai moral.

Kita sadari atau tidak kita pernah melakukan hal seperti yang saya jelaskan di atas. Kita merasa pantas untuk menjadi polisi moral untuk kehidupan seseorang. Kita sadari atau tidak sering kali menunjukkan bahwa kita merasa paling suci atau setidaknya lebih suci dari orang lain. Pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Apa dampaknya atau pengaruhnya untuk pola pikir kita?

Jika dilihat dari fenomena yang terjadi, saya melihatnya sebagai fenomena bahwa untuk memperlihatkan bahwa seorang individu atau sebuah komunitas membutuhkan korban. Korban yang dimaksud adalah bagaimana seorang yang jahat atau dianggap jahat menjadi penanda bahwa individu atau komunitas memiliki kewaspadaan dengan penurunan penerapan nilai moral.

Cara pandang masyarakat atau netizen tentang kasus VA yang terkesan agamis dan menggurui memiliki kecenderungan kemiripan dengan teori Rene Girard, seorang antropolog dan filsuf asal Prancis dengan teori scapegoat atau kambing hitam. Inti dari teori tersebut seperti yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya.

Girard dalam teori scapegoat mengangkat dari kisah-kisah Perjanjian Lama di Alkitab, salah satunya adalah kisah Ayub. Bagaimana di dalam teks Ayub terlihat bahwa teman-temannya menganggap kemalangan yang dialami Ayub adalah bagian dari dosa. Secara tersirat terlihat bahwa keberadaan Ayub dan keadaannya menjadi alasan untuk melegitimasi dosa dan kaitannya dengan kemalangan yang dia hadapi dapat berdampak bagi orang di sekitarnya.

Jika mengacu pada teori scapegoat¸kesimpulan yang dapat diambil bahwa dosa dan agama dipahami sebagai faktor yang mengurangi kesucian. Hal tersebut ditunjukkan dengan komunitas atau sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berhak menjadi polisi moral. Lalu mengesampingkan faktor lain yang mempengaruhi sebuah fenomena moral.

VA dianggap sebagai aib tunggal yang merusak tatanan moral masyarakat. Sindiran, candaan dan meme yang muncul di internet dan media sosial disadari atau tidak menjadi penanda adanya rasa terganggu di tengah pemberitaan kasus yang dihadapi oleh VA.

Perlakuan terhadap VA dan kasus yang dihadapinya dalam kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya saat ini hanya terbatas pada dia sebagai pendosa dan orang yang tidak bermoral. VA menjadi bulan-bulanan beberapa bagian masyarakat. Kasusnya menjadi santapan lezat bagi media untuk meraup untung. Adakah yang tertutupi dari semua itu?

Cara pandang yang melakukan simplifikasi dalam sebuah fenomena terkadang membuat berbagai keadaan yang menjadikan peristiwa tersebut tertutupi. Atau dapat dikatakan bahwa cara pandang yang menyempitkan pembahasan soal agama dan moral yang sifatnya kaku dapat menutupi cara pandang lain mengenai kasus prostitusi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Realita yang digambarkan dianggap sebagai kesimpulan tunggal. Akan tetapi realita yang dibangun dari cara pandang sempit terhadap moral dan agama akan melahirkan kemunafikan, yang tentu akan membawa dampak ke berbagai bidang kehidupan. Lalu dampak selanjutnya yang mungkin muncul adalah memandang fenomena secara hitam putih, yang dapat berujung pada diskriminasi.

Keadaan yang terjadi di dunia maya pasti akan membawa dampak bagi VA secara individu. Hal tersebutlah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai netizen atau konsumen berita. Jika mengacu pada proses hukum, status VA adalah saksi. Oleh karena itu asa praduga tak bersalah harus dijunjung.

            Fenomena lain yang perlu diperhatikan dalam kasus VA adalah bagaimana candaan seksis semakin berkembang. Fenomena seperti itu sering kali memojokkan kaum perempuan, dengan memberikan nilai-nilai yang bisa menjadi penanda adanya objektifikasi perempuan yang dikaitkan dengan pemberitaan mengenai jumlah tarif yang diberitakan media.

            Cara pandang yang masih hitam putih dengan didasari pemahaman agama yang sempit akan menjadi tanda gejala hypocrite citizen atau masyarakat yang munafik. Penghakiman diberikan kepada VA dan orang-orang yang terlibat kasus seperti VA, layaknya polisi moral yang suci tak bernoda.

            Seringkali kita lupa bahwa perbuatan yang dianggap melanggar moral tidak hadir begitu saja. Ada faktor yang mempengaruhi. Tidak mungkin adanya pelacuran yang marak tanpa adanya permintaan dari lelaki hidung belang. Perempuan tidak dapat disalahkan sepenuhnya dalam kasus VA ini.

            Layaknya narasi Yesus yang menghadapi perempuan yang tertangkap basah berzinah, Yesus menunjukkan posisi yang berbeda, yaitu untuk tidak menghakimi perempuan tersebut. Secara implisit Yesus hendak menunjukkan bahwa dalam menghadapi kasus yang berhubungan dengan moral, posisi merasa paling benar akan menutupi cara pandang dan faktor lain dalam sebuah fenomena moral.

            Cara beberapa pihak masyarakat yang terlihat di dunia maya menunjukkan bahwa adanya gejala kemunafikan berjamaah dalam menanggapi kasus VA. Ada perasaan mengenai sebuah keharusan untuk menjadi polisi moral. Bahkan ada yang berani menjengkali Tuhan untuk mengkategorikan kasus VA sebagai gejala kiamat yang semakin dekat.

            Pembahasan dalam tulisan ini saya sadari sepenuhnya tanpa melalui riset mendalam, hanya melihat gejala yang terjadi dalam tanggapan terhadap kasus ini. Akan tetapi kasus ini harus dipandang secara serius, tanpa kemunafikan dan melakukan simplifikasi atas mereka yang terlibat di kasus seperti yang dialami VA dan merasa diri paling suci sementara mereka hanya aib bagi masyarakat.