Mahasiswa
3 bulan lalu · 1830 view · 5 menit baca · Budaya 14291_43301.jpg
https://www.instagram.com/p/BhndOTQAIu3/

Vanessa Angel dan Distingsi dalam Dunia Prostitusi

Di tengah hiruk pikuk pemberitaan terkait dengan politik praktis -terlebih menjelang pemilu 2019-, publik dikejutkan dengan terbongkarnya  jaringan prostitusi online yang melibatkan artis berinisial VA dan AF dan sejumlah individu lain yang salah satunya diyakini sebagai mucikari. 

Terbongkarnya jaringan prostitusi tersebut berlangung dramatis karena menurut sejumlah pemberitaan media polisi melakukan penggerebekan di sebuah hotel di wilayah Surabaya dan menagkap basah artis berinisial VA dan AF saat sedang “melayani” pelanggannya di kamar hotel yang terpisah (Tribunnews: 2018).

Tidak berselang lama pasca penggerebekan akhirnya terbongkar identitas kedua artis yang sebelumnya disebut dengan inisial tersebut. VA bernama lengkap Vanessa Angel, seorang artis yang namanya sempat menghiasi layar kaca dengan membintangi sejumlah sinetron dan juga sebagai presenter acara televisi. Sedangkan AF yang kemudian diralat menjadi AS bernama lengkap Avriellya Shaqila, seorang model majalah pria dewasa popular dan FHM (DetikHot: 2018).

Tidak hanya dikejutkan oleh nama kedua artis yang mungkin terdengar tidak asing, publik juga dikejutkan dengan informasi soal “tarif” sang artis yang diperkirakan mencapai 80 juta (Vanessa Angel) dan 25 juta (Avriellya Shaqila). Sebuah tarif yang terkesan fantastis bagi sebagian orang, walau mungkin bukan merupakan informasi yang mengejutkan di mata sebagian kalangan yang mendalami "dunia remang-remang" semacam ini misal sosok Moammar Emka.

Jujur pasca mendengar berita penangkapan dan kemunculan informasi tentang “tarif” sang artis yang mencapai 80 juta penulis menjadi teringat dengan wawancara sebuah media kepada sang penulis buku Jakarta Undercover tersebut. 

Dalam wawancara tersebut Moammar Emka ditanya tentang kasus prostitusi artis yang saat itu mencuat dengan mucikari RA dan sang artis berinisial AA. Sebagaimana kasus VA, diketahui bahwa “tarif” AA juga sekitar 80 juta. Dengan segera Emka menyatakan bahwa dengan tarif semacam itu menunjukkan bahwa AA bukanlah artis “kelas atas A” –dalam dunia prostitusi- melainkan artis “kelas menengah B” (Tribunnews: 2015).

Emka melanjutkan pemaparannya bahwa dalam kategori artis “kelas atas A” biasanya tarif mereka unlimited, alias jauh lebih besar dari kisaran 80-200 juta. Menurut Emka artis “papan atas A” memiliki daya tawar tersendiri kepada pelanggannya. Msial mereka minta dijadikan simpanan atau kawin kontrak (Tribunnews: 2015). 

Dengan kata lain berdasarkan infromasi Emka kalangan “papan atas” ini memiliki daya tawar yang lebih tinggi terhadap pelanggan. Bagi Emka mereka juga tidak akan mau untuk diajak “kencan” yang sifatnya short time (sekitar 30 menit) (Tribunnews: 2015).

Jika kita mengkomparasikan kasus AA dengan VA dan AS kita dapat memperkirakan bahwa VA merupakan artis yang masuk dalam kategori “kelas menengah B” dengan mengacu pada “tarif” 80 juta sebagaimana dilansir oleh sejumlah media. Entah dengan AS yang dikatakan “bertarif” 25 juta. Apakah ia tergolong kelas menengah B” atau di kelas di bawahnya lagi?

Satu hal yang pasti dengan terbongkarnya prostitusi artis semacam VA dan AS –dan sejumlah kasus prostitusi artis lainnya di masa lalu- kita bisa sedikit paham dengan dunia prostitusi itu sendiri. Ternyata ada berbagai lapisan kelas yang membagi-bagi dunia tersebut. Layaknya realitas yang jamak kita temui sehari hari misal soal penjual makanan yang juga terbagi dalam kelas-kelasnya tersendiri, mulai dari angkringan yang notabene “super murah” hingga kafe yang harganya “selangit”.

Realitas adanya kelas-kelas dalam dunia prostitusi sebenarnya jika ditinjau dalam perspektif Bourdieu semakin menegaskan tesisnya bahwa dunia manusia tidak bisa dilepaskan dari distingsi (pembedaan) bahkan dalam suatu hal yang dipandang sama sekalipun. 

Misal dalam dunia pecinta buku, mungkin di permukaan orang akan melihat bahwa dunia pecinta buku itu seragam. Ternyata jika diperhatikan secara seksama misalnya juga muncul kelas-kelas yang berbeda di dalamnya. Perbedaan itu muncul karena adanya upaya distingsi sejumlah individu untuk membedakan diri dari kelompok besar.

Misal sejumlah individu berupaya membedakan diri dengan kelompok besar pecinta buku, dimana mereka hanya akan mengkoleksi buku impor. Alasannya bukan semata karena informasi yang tidak didapatkan dalam buku berbahasa Indonesia atau karena terjemahannya yang buruk misalnya. Tetapi alasannya lebih karena mereka ingin beda, menonjol dari yang lain. 

Dengan mengkoleksi buku impor mereka ingin menegaskan bahwa mereka “lebih” dibanding yang lain misal soal kepemilikan uang mereka atau kemahiran mereka dalam berbahssa asing. Walau sebenarnya tidak pasti juga kalangan yang tidak mengkoleksi buku impor tidak bisa berbahasa asing misalnya. Tetapi yang terpenting adalah mereka dapat membedakan diri, membuat kelasnya tersendiri.

Kita dapat melihat gejala yang sama dalam dunia prostitusi. Baik pelanggan atau artis sangat mungkin berupaya melakukan distingsi. Misal sang artis dengan kapital simboliknya (ketenaran) akan semakin memungkinkannya membangun kelas yang berbeda. Jika merujuk pada Emka bahwa artis kelas “A” menginginkan harga yang fantastis yakni unlimited, maka hanya dengan kapital yang besar ia dapat mendesak pelanggan untuk “bertekuk lutut” pada kemauannya.

Keberhasilan kalangan artis di kelas “A” ini membangun kelasnya tersendiri misalnya bisa jadi merupakan satu kepuasan tersendiri yang bisa jadi lebih berharga dari capaian material yang ia dapatkan dari sang pelanggan. Perlu diingat bahwa dalam logika Bourdieu kapital simbolik yakni soal pengakuan adalah kenikmatan yang tertinggi yang ingin dicapai. Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam benak sejumlah artis yang terlibat dalam dunia “remang-remang” ini pengakuan bahwa dirinya menempati posisi atas merupakan kebanggan tersendiri.

Tidak hanya dari sisi artis, pelanggan juga sangat mungkin melakukan distingsi kelas. Tentu dibutuhkan kapital ekonomi yang semakin besar jika ia ingin “menikmati” artis “papan atas A” dibandingkan artis “kelas menengah” atau mungkin kelas di bawahnya. Semakin ia dapat naik tingkat (misal dari “penikmat” orang biasa ke level artis), ia tidak hanya memperoleh kenikmatan dari aktivitas seks semata tetapi juga pengakuan tersendiri bahwa ia dapat mencapai satu keadaan yang dalam benak banyak orang merupakan suatu “kemustahilan”. Ingat lagu Project pop mengenai kemustahilan orang biasa pada umumnya untuk memacari artis? Ketika ia berhasil “menembus batas” itu dapat dikatakan ia mendapatkan kepuasan tersendiri yang begitu besar.

Satu kesimpulan yang dapat diambil dari ramainya kasus prostitusi VA dan AS di tengah publik ialah kasus tersebut semakin membuktikan bahwa kelas-kelas sosial terjadi dalam berbagai lini kehidupan kita, termasuk dalam ranah yang dipandang sebagaian besar masyarakat sebagai ranah negatif. Ternyata dalam ranah semacam itu juga ada sistem kelas dan tentunya persaingan tersendiri di dalamnya.

Tidak murni hanya sekedar seks belaka. Bahkan bisa jadi keberadaan prostitusi artis semacam itu juga merupakan distingsi dari dunia keartisan itu sendiri, dimana ada kalangan artis yang tidak puas dengan “uniformitas” di dunia tersebut dan ingin “mencoba” dan “eksis” dunia yang berbeda (distingtif) tersebut. Jika ini yang terjadi bisa jadi uang, harta, atau seks itu sejatinya menjadi nomer kesekian dari hasrat yang lain dari diri manusia -yang mungkin selama ini malu untuk dikatakan di muka publik secara gamblang- yakni soal membedakan diri dari yang lain.