“Modal adalah tenaga kerja mati yang, seperti vampir, hanya hidup dengan mengisap tenaga kerja yang hidup. Dan semakin hidup, semakin banyak tenaga kerja yang disedotnya.” (Karl Marx dalam Das Capital)

Dalam Manifesto Komunis—mahakarya dua sosialis terkemuka di abad ke-19, Karl Marx dan Friedrich Engels—dijelaskan kalau pada dasarnya keseluruhan sejarah manusia adalah sejarah tentang perjuangan kelas, di mana kelas yang “diisap” dan ditindas (proletar) akan selalu melawan dan mencoba melepaskan rantai yang membelenggunya dari kelas yang menindas dan "mengisap" mereka (borjuis).

Sebelum disederhanakan ke dalam dua kelas besar di era modern: proletar dan borjuis, pertentangan antar kelas ini memang sudah hadir dalam berbagai bentuk. 

Misalnya saja, di Romawi Kuno terdapat kaum plebejer dan kaum budak yang ditindas oleh kaum patrisir dan kesatria. Lalu, di Abad Pertengahan ada kaum feodal yang menjadi tuan tanah, yang memperkerjakan para kelas bawah seperti tukang-ahli, tukang-pembantu, hamba, dan banyak lagi.

Rupanya, perjuangan kelas ini tetap eksis sampai ke era modern, tidak hanya di dalam kehidupan nyata tetapi di dalam dunia fiksi pula. Siapa sangka kalau sosok kaum proletar dan borjuis juga digambarkan dalam dunia monster lewat sosok werewolf (manusia serigala) dan vampir. Namun, benarkah hal itu?

Vampire vs werewolf

Sosok vampir sendiri sudah banyak dijumpai dalam banyak karya fiksi seperti novel atau film. Dari berbagai tokoh ikoniknya, Count Drakula yang muncul dalam novel Bram Stoker menjadi yang paling populer; diikuti dengan vampir pertama di layar lebar, Nosferatu; dan vampir yang terkenal lewat novel hit Twilight, Edward Cullen. 

Berbeda dengan vampir, nampaknya sedikit sulit untuk mencari tokoh werewolf yang terkenal. Walau sama-sama dikenal sebagai “Son of the Night,” nyatanya vampir lebih terkenal jika dibandingkan dengan saudara berbulunya itu.

Seiring berjalannya waktu, manusia serigala pun menjadi sosok yang tak terpisahkan di dalam cerita-cerita vampir. Layaknya arch-enemy, terkadang mereka selalu ditakdirkan untuk bertarung sampai salah satu dari mereka—atau keduanya—mati.

Seperti yang terlihat, ada banyak perbedaan yang signifikan dari kedua makhluk ini. Vampir selalu tinggal di dalam sebuah kastil atau rumah mewah, berpakaian, berdandan, dan memiliki gaya hidup ala bangsawan. Jarang sekali ditemukan tokoh vampir yang berasal dari keluarga petani atau kelas bawah; karena vampir adalah simbol kaum aristokrat.

Belawanan dengan vampir, manusia serigala selalu digambarkan sebagai sosok yang urakan, lengkap dengan bewok dan rambut yang panjang. Alih-alih rumah mewah, mereka tinggal di dalam selokan, bawah tanah, hutan atau tempat yang kumuh.

Namun setidaknya ada satu hal yang bisa mereka banggakan dari makhluk pengisap darah itu, yaitu hidup di dalam masyarakat komunal. Tidak seperti manusia serigala yang suka hidup dengan klannya, para vampir memang cenderung individualistis dan lebih senang mengurung diri di dalam peti mati kesayangannya.

Lalu, sejak kapan gagasan vampir dan manusia serigala tidak pernah bisa akur muncul? Nyatanya, ada alasan ekologis mengapa vampir dan manusia serigala tidak bisa “bergaul.” Sederhananya, mereka terpaksa melakukannya untuk bertahan hidup. 

Dalam sistem 3 spesies di mana 2 di antaranya adalah predator—vampir dan manusia serigala—yang bersaing untuk memperebutkan 1 spesies yang menjadi mangsa, biasanya akan terjadi hambatan pertumbuhan populasi dan tumpang tindih perburuan di dalamnya.

Konflik di antara mereka juga terdengar rancu, karena sebelum akhir abad ke-19, orang-orang Yunani percaya kalau mayat manusia serigala tidak dihancurkan, mereka akan bangkit kembali sebagai vampir. Sedangkan dalam film Underworld, vampir dan manusia serigala pertama adalah saudara yang memiliki ayah yang sama. 

Lalu, jika mereka saling berkaitan, mengapa ada gagasan tentang perseteruan di antara mereka? Faktanya, budaya populer lah yang telah membuatnya seperti itu.

Vampir dan kaum bangsawan

Ada alasan tersendiri mengapa vampir lebih tenar dibanding dengan manusia serigala, di mana sejak tahun 40-an dan seterusnya konsumen budaya populer terbesar adalah kelas menengah ke atas.

Vampir adalah alegori bagi elit kaya. Dalam banyak penggambarannya, vampir adalah makhluk yang memiliki akses ke kekuatan dan kekuasaan—baik dalam pengertian konvensional maupun okultisme—yang hampir tidak terbatas.

Mereka bukan lah binatang buas seperti manusia serigala, yang hidup dalam ledakan kemarahan yang tak terkendali. Sebaliknya, mereka mampu memanipulasi, bahkan merayu mangsanya melalui daya tarik mereka.

Walau memiliki kekuatan yang beragam rupa, vampir harus membayar harga yang mahal untuknya. Sementara vampir mendapat kekuatan yang tak tertandingi, ia harus kehilangan jiwanya atau dalam hal ini adalah sisi kemanusiaannya. Ia pun terputus dari dunia luar—sinar matahari akan membunuhnya, hanya bisa mengonsumsi darah, dsb.

Tentu saja, dari segi estetika metafora kapitalis sangat cocok dengan vampir: mengambil kedok bangsawan, suka nongkrong di kastil dan mengenakan pakaian mewah, menjadi "pengisap" di lingkungannya. Namun korelasinya tidak berakhir di situ. 

Sudah menjadi rahasia umum kalau vampir membenci bawang putih, bahan makanan sederhana dari ladang, yang menjadi simbol dari kehidupan kaum petani. Mereka juga takut akan salib dan gereja—penopang abadi kelas pekerja—yang membuatnya masuk akal baik secara diegesis maupun metaforis. 

Manusia serigala dan kaum pekerja

Seperti yang telah diungkapkan dalam berbagai produk budaya populer, manusia serigala selalu menentang otoritas vampir. Oleh karena itu, mereka mewakili kelas tani, pekerja, atau kaum melarat yang selalu diinjak-injak oleh kaum aristokrat. 

Tidak seperti vampir, manusia serigala bukan lah "mayat hidup," melainkan sebuah bentuk penyempurnaan sifat hewan yang justru menjadikannya "lebih hidup." Menjadi seorang vampir adalah proses yang disengaja, yang menjaga kehendak bebas tetapi kehilangan jiwa.

Sedangkan menjadi werewolf adalah sebuah tindakan tanpa akal yang akan melucuti pikiran, tetapi mendapatkan kembali koneksi yang intim dengan alam.

Dalam konteks metafora ekonomi, seorang vampir adalah kelas borjuis dengan kekuatan seperti dewa. Sebaliknya, manusia serigala adalah peasant (petani, kelas bawah) yang rapuh dengan emosi sosial yang mudah meledak. 

Metafora "vampir" dalam Marxisme

Usut punya usut, ternyata Karl Marx dan Bram Stoker sama-sama pernah hidup di Inggris pada era Victoria. Tidak heran kalau karya-karya para pengikut Marx penuh dengan penyebutan vampir. Marx sendiri menggunakan metafora “vampir” setidaknya tiga kali di dalam Das Capital

Sebagai contoh, dalam salah satu kasus Marx menggambarkan industri Inggris sebagai "vampire-like" yang bisa hidup dengan mengisap darah. Kolega dan sponsor utama Marx, Frederick Engels, juga menggunakan banyak metafora vampir dalam karya-karya dan pidato-pidato publiknya. 

Dalam salah satu karyanya yang berjudul The Condition of the Working Class in England, Engels mengidentifikasi dan menyalahkan kelas pemilik properti “vampir” (vampire property-holding class) sebagai sumber dari semua masalah sosial.

Persepsi Marx dan Engels tentang vampir juga sangat sesuai dengan film Abraham Lincoln: Vampire Hunter yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov. Dalam film yang dirilis pada tahun 2012 ini, Presiden ke-16 Amerika Serikat itu memiliki kehidupan rahasia sebagai seorang pemburu vampir.

Vampir, dalam film itu, mendukung perdagangan budak dan bermaksud memulai Perang Sipil untuk menaklukkan Utara (Union) dan memperbudak semua penduduk Amerika.

Dalam buku harian rahasianya, Abraham Lincoln menulis bahwa vampir-vampir itu “hampir ada di mana saja” dan hidup di berbagai lapisan tertinggi masyarakat, atau singkatnya menjadi kaum borjuis yang dituduh oleh Marx dan Engels telah mengisap “darah” para kaum pekerja.

Dalam karya-karyanya, Marx memang menggambarkan kebiasaan para vampir—keserakahan dan keinginan mereka untuk mendapatkan darah—dengan begitu rinci sehingga dalam banyak kasus ia melintasi batas-batas metafora belaka. Dengan kata lain, pengetahuannya tentang vampir sangat lah aneh.

Dalam buku Engels, On Marx's Capital, ketika sedang menggambarkan petani Wallachia yang melakukan kerja paksa untuk para bangsawan, Marx merujuk pada satu “boyar” yang “mabuk oleh kemenangan,” yang mungkin merujuk pada sosok pangeran Wallachia, Vlad the Impaler, atau mungkin Count Dracula sendiri.

Hal ini sangat menarik, mengingat Dracula karya Bram Stoker baru terbit pada tahun 1897, 14 tahun setelah kematian Marx. Tentunya, seseorang dapat menempatkan metafora Marx dalam konteks yang lebih luas dari kesan gothic dan cerita horor abad ke-19 yang berlimpah ruah pada hari ini—di mana Marx adalah penggemar beratnya.

Orang-orang mungkin dapat berasumsi kalau beberapa legenda tentang vampir memang benar, di mana Marx dan orang-orang sezamannya menyadarinya. Mungkin juga karena dipengaruhi oleh ketertarikan Eropa dengan mitos vampir, Marx “banting setir” dan memasukkan vampir ke dalam tulisan-tulisannya sebelum akhir hayatnya. 

Namun vampir bukan hanya alat sastra yang mendalam baginya. Bagi Marx, itu adalah kunci untuk pemahamannya tentang kapitalisme: di mana darah buruh telah diisap oleh para pemilik modal.

Marx memang tidak pernah menggambarkan manusia serigala sebagai kaum proletar, tetapi dia benar-benar yakin saat menyebut para kapitalis sebagai vampir ekonomi. Menurutnya, vampir adalah sosok individualis: pemangsa, tidak manusiawi, anti-manusia, tanpa kewajiban moral kepada orang lain.

Satu-satunya cara untuk menghentikan vampir adalah dengan menusukkan pasak ke jantungnya, atau dalam kata lain Revolusi Sosialis untuk menghentikan para kapitalis agar berhenti mengisap keuntungan dari kaum proletar. Sayangnya, vampir (kapitalisme) sangat sulit untuk dibunuh.

Kita semua tahu kalau komunisme ikut runtuh bersama dengan Uni Soviet di tahun 1990-an. Sejak "raksasa komunis" itu runtuh, Rusia tidak pernah kembali seperti sedia kala, komunisme kalah telak oleh kapitalisme, dan Tiongkok—negara "komunis" terbesar saat ini—justru berkembang menjadi negara dengan salah satu industri perbankan paling tangguh di dunia yang menganut deliberative democracy.

Dalam konteks ini, komunisme seharusnya menjadi simbol pemberontakan kaum buruh, kebangkitan massa yang tertindas (manusia serigala) dan secara permanen merebut kekuasaan dari aristokrasi yang berkuasa (vampir). 

Namun setelah keruntuhan komunisme, manusia serigala menjadi arketipe tanpa metafora yang valid secara sosial: Revolusi Pekerjanya adalah kegagalan dan keruntuhan ekonomi yang selalu mereka agungkan mulai terdengar menggelikan. Ironisnya, mereka justru jatuh ke dalam jurang absurditas tanpa ujung.