Dalam kegiatan penelitian salah satu teknik pengumpulan data dapat dilakukan oleh peneliti yakni melalui teknik survei. Teknik survei dapat dilakukan dengan cara survei lapangan dan survei digital.

Survei melalui digital bukan hal baru terutama di masa pandemic ini. Masa pandemic menuntut banyak aktifitas dilakukan melalui digital agar mengurangi kegiatan berkerumun dan kontak fisik antara peneliti dan responden dalam kegiatan survei. 

Dalam kegiatan survei digital peneliti dan responden berinteraksi melalui dunia maya. Survei melalui digital inipun sudah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang diantara lingkup kerjanya yakni  menghimpun dan mengolah data. Contohnya, pengunjung web BPS hari ini pasti disambut dengan kesediaan menjadi responden survei kepuasan pengguna website. 

Jika pengunjung bersedia menjadi responden, maka pengunjung cukup meng-klik gambar, secara otomatis akan terbuka lembar survei yang harus diisi oleh pengunjung (responden). Jika pengunjung tidak bersedia menjadi responden, maka pengunjung cukup meng-klik tanda silang di kanan atas gambar.

Data Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 yakni 270.203.917 jiwa. Jika 1 % saja dari penduduk Indonesia mengunjungi web Badan Pusat Statistik pada hari ini dan bersedia menjadi responden, maka dapat diperkirakan peneliti sudah mendapatkan 2.702.039 data responen.  Bukankah ini hal yang luar biasa?

Hanya dalam hitungan menit sudah terkumpul banyak data penelitian. Ini merupakan salah satu kelebihan pengunaan survei digital, yakni efisiensi waktu. Efisien waktu dalam penelitian dengan menggunakan survei digital bisa dilihat dari banyaknya jumlah responden yang didapat  dalam satu waktu. 

Berbeda dengan survei lapangan pasti membutuhkan waktu yang banyak untuk menyebarkan lembar angket dan mendapatkan data responden sebanyak 2 jutaan. Karena peneliti harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang pastinya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi dana yang digunakan untuk menggandakan lembar angketnya.

Setelah responden selesai mengisi dan mengirimkan/submit lembar survei, maka secara otomatis data akan terkirim dan terhimpun dalam satu file milik peneliti. Sehingga, peneliti tidak disibukkan dengan entri data responden.

Dalam hal ini kegiatan survei digital memudahkan peneliti dalam entri data. Bagaimana tidak, karena biasanya bila peneliti menggunakan survei lapangan peneliti akan disibukkan dengan kegiatan entri data. Hal ini tidak terjadi bilamana peneliti menggunakan  survei digital karena data pengisian responden langsung terkirim kepada peneliti. 

Data yang masuk ke dalam file peneliti bisa langsung diolah sesuai dengan tujuan penelitian. Sehingga proses penelitian bisa terlaksana lebih cepat. 

Ini adalah bentuk lain dari efisiensi waktu bila menggunakan survei digital.Bila dibandingkan dengan kegiatan entri data secara manual dalam kegiatan penelitian survei lapangan bisa menghabiskan banyak waktu dan tentu saja membutuhkan ketelitian.  

Jika salah entri data maka akan berakibat fatal pada validitas data yang telah diperoleh. Validitas data dalam kegiatan penelitian merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi.

Hasil penelitian yang didapat dari data yang tidak valid tentu saja tidak dapat dipercaya. Dan keputusan yang diambil dari data yang tidak valid tentu saja adalah keputusan yang beresiko, tidak solutif bahkan bisa menimbulkan permasalahan yang lebih besar. Karena penelitian dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah.

Terkait validitas data, dalam kegiatan survei lapangan peneliti dapat langsung mengkonfirmasi bila mana ada jawaban responden yang menurut peneliti kurang jelas. Sehingga data yang didapat sudah sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Bagaimana dengan survei digital, dapatkah peneliti meminimalisasi jawaban responden yang ambigu, atau mengantisipasi jawaban responden yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hal ini mungkin saja terjadi dalam kegiatan survei digital karena dalam ruang digital ini tidak terjadi interaksi antara peneliti dan responden secara langsung.

Dalam ruang digital seseorang bisa menjadi siapa saja yang dia inginkan karena ia bisa bersembunyi dibalik akun samaran.  Yang namanya samaran tentu saja bukan dirinya sendiri atau setidaknya ia menutupi identitasnya agar tidak diketahui oleh publik. 

Bila ada pengunjung web Badan Pusat Statistik hari ini dan bersedia menjadi responden dan menggunakan akun samaran atau menggunakan identitas yang tidak sebenarnya dapatkah peneliti mengantisipasinya.

Begitupun misalnya, taruhlah responden tidak menggunakan akun samaran, ia mengisi identitas sesuai keadaan yang sejujurnya dan mengisi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, namun ia mengisi lembar survei berkali-kali. Seolah-olah peneliti telah mendapatkan jumlah responden sesuai dengan kebutuhan penelitian. Ternyata yang didapat oleh peneliti hanyalah responden semu.

Peneliti seyogyanya telah mempertimbangkan kemungkinan keadaan seperti ini bila menggunakan survei digital. Hal ini dilakukan demi mendapatkan data penelitian yang valid. 

Dan pada akhirnya, hasil penelitian dapat digunakan sebagai data pendukung pengambilan keputusan suatu masalah. Sehingga keputusan yang diambil bersifat solutif bukan destruktif, dapat menyelesaikan masalah bukan menambah masalah.