Ketika kamu membaca tulisan ini, saya memprediksikan bahwa saat ini adalah tanggal 14 Februari. Ini berarti Valentine’s Day. Saya mengucapkan selamat hari kasih sayang bagi kamu yang turut mengeksperikan cinta di hari ini, bagi yang tidak, juga tidak masalah. Merayakan dan tidak merayakan valentine itu adalah pilihan masing-masing.

Namun ada tradisi yang tidak hilang ketika menyambut valentine ini ialah selalu saja muncul dua kubu yang saling kontra. Terdapat kelompok yang dapat menerima dan bahkan ikut menikmati hari kasih sayang yang diistimewakannya itu. Sebagian yang lain menolak dengan berbagai alasan. Salah satu alasan yang paling mendasar dalam penolakan itu adalah karena keterkaitan peristiwa ini dengan kematian Santo.

Ritual memuliakan kematian Santo sebagai alasan perayaan valentine menjadi dalih dan tertanam dalam di pikiran orang-orang yang menolaknya. Mungkin saja hal ini benar-benar terjadi sewaktu “launching brand valentine”. Namun pada abad ini, model perayaan valentine seperti itu sudah ditinggalkan seiring peleburannya dengan makna-makna kultural di dunia sosial.

Perayaan valentine di minggu kedua Februari ini telah menubuh dalam euforia yang memiliki pesona tersendiri. Perayaan yang diusung dengan tanpa klasifikasi apapun. Semua orang dan umur dapat ikut merayakannya. Bagi mereka yang ambil peran dalam perayaan ini, mereka tujukan bukan untuk pembenaran, pengakuan atau penghambaan pada duka-cita kematian sang Santo. Karena pemaknaan terhadap praktik perayaan valentine sudah jauh dari mitos itu.

Seremoni valentine sejauh ini telah bertransformasi dan berasimilasi hingga membentuk makna baru dalam opini masyarakat. Banyak orang yang merayakan valentine namun tidak seorangpun mendedikasikannya sebagai penghormatan terhadap kematian Santo. Apalagi dalam praktiknya, tak ada sama sekali ritual khusus yang terkesan gaib dalam perayaan sekali setahun ini.

Apa yang tidak luntur dari valentine ialah kata cinta. Jika saja kita mau memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih fresh minded, maka momen kali ini bisa dimanfaatkan untuk mengkonstruksi nilai-nilai cinta dengan cara pandang yang lebih elegan. Di sini valentine menjadi bermanfaat.

Konsep cinta yang diusung dalam parade valentine dewasa ini sudah selayaknya dimaknai dengan pemahaman yang semakin matang. Dalam momen yang istimewa ini mari kita berkelana sedikit lebih jauh tentang konsep cinta yang sebenarnya tak pernah sesederhana yang kita pikirkan. Jika saja kita mau menyelami konsep cinta lebih dalam, segera kita akan mengetahui makna cinta itu sendiri lebih dari sekedar pemaknaan picisan ala muda mudi yang dimabuk cinta.

Bagi saya pribadi, cinta yang termanifestasi dalam perayaan valentine mengajarkan seseorang untuk berpikiran membebaskan. Karena hal itu sudah semakin sulit didapati di zaman modern ini. Menghargai kebebasan seseorang sudah cukup mengindikasikan bahwa kamu memahami cinta dengan benar.

Oleh sebab itu, terjun dalam perayaan valentine bersama jutaan manusia di seantero sudut bumi ini adalah hak mutlak setiap orang. Sebagai seseorang yang hidup dibawah jaminan HAM, maka tidak ada yang salah, baik perempuan maupun lelaki bahkan tua renta, menentukan sikapnya sendiri. Dalam arti ikut bergabung atau malah menarik diri dari merayakan valentine, itu adalah pilihan mereka.

Justru mereka yang melarangan seseorang merayakan hari kasih sayang itu layak dipertanyakan. Sebaliknya, mereka yang mengajak atau memaksa orang lain untuk merayakan valentine juga tak bisa diabaikan. Karena kedua hal ini menyangkut kebebasan seseorang. Sejatinya pemaksaan opini dan kehendak, baik berupa larangan atau ajakan, sudah pasti merongrong hakikat cinta dan kebebasan  itu sendiri.

Maka, dalam anniversary valentine untuk keseribu kali ini, alangkah baiknya kita memberikan kebebasan kepada mereka-–mengikuti atau tidaknya. Bukankah suatu kebijaksanaan jika kita menghargai kebebasan seseorang dalam berpendapat atau bertindak.

Jadi kita tidak perlu ikut-ikutan, tentukan pilihan sendiri. Menurut saya termasuk kelompok ekstrem bagi mereka suka memaksakan pemikiran. Ini bukan saja kepada yang melarang termasuk di dalamnya mereka yang bersorak dan menyeru orang-orang untuk ikut begadang dalam euforia valentine.

Sekali lagi semua orang bebas menentukan pilihan, toh cara orang mengekspresikan cintanya juga berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada permasalahan jika kita ingin mengungkapkan rasa cinta, kasih, dan sayang kepada pacar, orang tua, guru atau idola. Hal itu dapat dilakukan kapan saja, tidak hanya pada tanggal 14  Februari, 14 Maret atau bulan-bulan lainnya.

Nah, jika hakikat valentine itu adalah cinta maka menurut saya cinta itu membebaskan. Oleh karena itu ia juga membebaskan orang-orang untuk memilih apakah ia ingin ikut atau menolak merayakan valentine. Bertepatan pada pertengahan Februari ini mari mulai berbenah baik diri, asumsi serta pikiran sehingga kita memaknai cinta dan mempraktikkannya dengan benar. Siapkah kita mencintai kebebasan?