Sejak awal bulan maret tahun 2021 beberapa kampus di Indonesia melaksanakan vaksinasi corona (COVID-19) secara bertahap. Vaksinasi dibagi menjadi beberapa gelombang. Karena melihat jumlah dari banyaknya jumlah tenaga pendidik (dosen) disuatu kampus.

Sebagai data dari salah satu kampus terkemuka di Indonesia dirilis dari laman Universitas Indonesia selasa (16/3/2021)" telah memberikan vaksinasi bagi 5.400 tenaga pendidik (dosen), baik tetap maupun dosen tidak tetap yang dilakukan secara bertahap selama seminggu (15-20 Maret 2021)". 

Begitu juga dengan kampus-kampus lain mengadakan vaksinasi corona, sebagai kewajiban dan syarat untuk melakukan aktivitas belajar mengajar lainnya.

Di perkirakan vaksinasi akan berakhir bulan Juni 2021 secara serentak baik vaksinasi ke 1 maupun vakisniasi ke 2. Dosen diwajibkan di vaksinasi, karena ini menjadi salah satu persyaratan untuk pembelajaran tatap muka di pelajaran ganjil tahun 2021/2022 mendatang.

Walaupun belum semuanya mahasiswa/mahasiswi datang ke kampus untuk mengikuti pembelajaran tatap muka. Konsep tatap muka ini dengan kondisi terbatas yang akan dijadwalkan dengan keputusan oleh pihak kampus.

Strategi yang dilaksanakan tergantung pihak kampus yang mengaturnya, apakah akan tetap melanjutkan pembelajaran online, tatap muka, dan dibagi dua antara tatap muka dan online, sehingga lebih produktif baik dari manajemen kampus, Dosen maupun yang lainnya.

Sebagai tenaga pendidik berkomitmen juga mengikuti vaksinasi corona (COVID-19), selain persiapan pembelajaran tatap muka, vaksinasi juga untuk mengukur kesehatan secara pribadi agar imun tetap terjaga. 

Menjadi harapan seluruh tenaga pendidik, Mahasiswa/Mahasiswi, Manajemen kampus terselenggaranya pembelajaran tatap muka walaupun terbatas, karena akan menghadapi wajah baru pembelajaran tatap muka pasca pandemi Covid-19.

Pembelajaran tatap muka ini, berdasarkan apa yang disampaikan oleh Menteri Nadiem Makarim "bahwa bulan juli mendatang akan diberlakukan pembelajaran tatap muka. Namun tidak diwajibkan tapi tetap diperbolehkan sesuai keputusan pemerintah daerah dan manajemen kampus melalui strategi dan konsep protokol kesehatan".
***
Target kami hingga akhir Juni, vaksinasi Covid-19 bagi lima juta pendidik dan tenaga pendidik selesai, sehingga pada tahun ajaran baru 2021/2022 atau pada minggu kedua dan ketiga Juli pembelajaran tatap muka dapat dilakukan,” ujar Nadiem dalam diskusi daring, awal Maret 2021. 

Dalam Tempo.co (16/3/2021). Bila diperhatikan antara vaksinasi, pembelajaran tatap muka, dan data covid-19 tentu menjadi pertimbangan khusus dalam pemberlakukan pembelajaran tatap muka tersebut.

Sejauh ini, jika terlaksana pembelajaran tatap muka. Selain Dosen yang sudah di vaksinasi tetap mengikuti protokol kesehatan terutama dalam berinteraksi dengan mahasiswa/mahasiswi serta yang paling penting adalah pembagian wilayah atau cluster wilayah tertentu. 

Dengan demikian, keputusan ini tidak semata-mata bahwa vaksinasi sudah di perbolehkan dan di berlakukan pembelajaran tatap muka oleh pihak kampus, namun perlu berkomunikasi kepada pemerintah setempat.

Kesimpangsiuran pembelajaran tatap muka sangat membingungkan para akademisi baik pihak kampus maupun yang terlibat lainnya, belum ada secara tertulis. Karena kondisi seperti ini masih tentative dan perlu perhitungan yang sangat panjang, artinya masih tergantung penyebaran virus covid-19. 

Sebab berdasarkan data dari covid19.go.id, Senin (14/06/2021) "bahwa penyebaran virus corona masih sangat tinggi positif 1.919.547 orang positif, 1.751.234 orang sembuh, dan yang meninggal 53.116 orang.

Sedangkan data covid-19 berdasarkan laman detik.com hari Sabtu (23/05/2021) "terdapat 5 provinsi catatan kasus penyebaran covid-19 yang paling tertinggi.

Berikut provinsi yang dimaksud Jawa Timur = 466 kasus, DKI Jakarta = 115 kasus, Sulawesi Selatan = 59 kasus, Papua = 57 kasus, Jawa Tengah = 54 kasus, Jawa Barat = 43 kasus". Jadi, berdasarkan data kecil kemungkinan untuk pembelajaran tatap muka dilaksanakan terutama wilayah masih tinggi .

Bila dihubungkan antara vaksinasi dengan situasi covid-19. Bisa diambil kata kuncinya bila penyebaran covid-19 sudah menurun, maka pembelajaran tatap muka besar kemungkinan akan dibuka sesuai protokol kesehatan. 

Bagaimana dengan vaksinasi, pastinya tetap diwajibkan karena sudah keputusan dari pemerintah pusat bahwa vaksinasi diadakan sampai dengan pelosok nusantara. Kecuali umur "dibawah 18 tahun, usia diatas 60 tahun, kondisi ibu hamil dan menyusui, penyakit tertentu seperti pernapasan, asma, penyakit jantung dan lain sebagainya".

Faktor lain yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka adalah kekhawatiran terjadi pelanggaran protokol kesehatan, seperti yang paling menonjol terhadap kerumumanan kegiatan mahasiswa/masisiswi. 

Baik pembelajaran dikelas, sedang melaksanakan kerja kelompok, diskusi sesama teman mahasiswa/mahasiswi, melaksanakan makan dikantin yang terlihat bergerombol, dan lain sebagainya. Ini menjadi pertimbangan bahwa kampus belum diperbolehkan untuk belajar tatap muka.

Fenomena saat ini sesuai dengan keputusan menteri Sandiaga Uno pariwisata dan Ekonomi kreatif  "bahwa tempat wisata di Indonesia dibuka untuk publik umum namun harus mengikuti protokol kesehatan". 

Dan bila kita lihat juga ditempat-tempat pusat pembelanjaan sudah ramai di datangi pengunjung, artinya apa bedanya dengan kampus tempat belajar justru masih belum di buka?.

Analisanya bila tempat wisata dan tempat pusat belanja di buka, sudah seharusnya tempat belajar di kampus bisa belajar tatap muka. Hal ini tentunya menjadi kajian lebih dalam, sehingga pandangan masyarakat tidak ada yang berbeda dalam menerapkan protokol kesehatan.

Dari situasi diatas yang tidak menentu karena pandemi covid-19, tentu menjadi harapan semua tenaga pendidik (dosen), manajemen kampus, pihak terkait untuk pembelajaran tatap muka.

Selanjutnya mengulas dari uraian diatas, apakah akan tetap berlakukan pembelajaran tatap muka walaupun belum semuanya untuk datang ke kampus, karena kalau hanya materi disampaikan dan diterima oleh mahasiswa/mahasiswi melalaui online bisa saja terlaksana. 

Tapi kurang sentuhan dari sisi sikap, perilaku, dan kepribadian terhadap mahasiswa/mahasiswi tersebut. Pembelajaran online terkadang banyak mengalami kendala seperti terutama kouta, sinyal dan internet. 

Hal ini dialami oleh beberapa mahasiswa/mahasiwi dan termasuk tenaga pendidik juga. Semoga kedepan dunia pendidikan di Indonesia semakin terdepan, inovatif, dan modern untuk masa depan penerus bangsa.