Rabu siang yang berawan 16 Desember 2020 kemarin, Presiden Joko Widodo memberikan satu pengumuman penting melalui sebuah video conference. Pengumuman yang membuat sebagian besar orang bernapas lega, karena membawa secercah harapan baru di tengah situasi pandemi. 

Presiden mengumumkan, bahwa vaksin gratis akan diberikan kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Bagi kalangan yang sudah dalam tahap putus asa dan menggantungkan hidupnya dengan menanti kehadiran vaksin, tentu ini adalah kabar gembira. Tetapi sebagian kalangan lain mungkin akan menanggapinya dengan skeptis. Apakah tidak terlalu terburu-buru Presiden mengumumkan vaksin gratis tersebut?

Jawabannya tentu tidak. Malah kalau bisa dibilang, mengumumkan vaksin gratis menjadi salah satu cara yang jitu untuk meraih kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. 

Apalagi, negara-negara lain sebelumnya sudah lantang mengumumkan hal serupa, yaitu menerapkan vaksin gratis bagi warganya, seperti Jepang, Prancis, Singapura, bahkan negara kecil seperti Bangladesh. 

Sebuah langkah preventif yang diambil pemerintah untuk mengumumkan vaksin gratis, sebelum gelombang protes dari masyarakat mulai merajalela.


Vaksin Gratis Perlemah Holding BUMN?

Keputusan pemerintah untuk membeli enam jenis vaksin dan mewajibkan seluruh masyarakat untuk disuntik vaksin sejak awal sudah menimbulkan polemik. Masyarakat sudah terlebih dahulu melayangkan protes, menganggap keberadaan vaksin tak ubahnya sebuah bisnis yang menguntungkan pengusaha dan perusahaan kapitalis. 

Ancaman penolakan vaksin tentu menjadi sinyal buruk bagi pemerintah yang harus segera diantisipasi.

Bukan tanpa alasan mengapa banyak pihak menentang vaksin yang dianggap dibumbui kepentingan komersil itu, tetapi karena beberapa artikel di media massa mulai menggoreng isu “bisnis vaksin” yang katanya akan memperkuat holding BUMN Farmasi. 

Isu itu mencuat dari sebuah halaman instagram yang membuat headline “Bisnis Vaksin Corona Bakal Semakin Menyehatkan Holding BUMN Farmasi.”

Mendengar kata bisnis, sudah barang tentu pikiran mengarah kepada permasalahan uang. Sungguh kejam rasanya bila dalam kondisi sama-sama berjuang melawan wabah, segelintir pihak justru memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan. 

Ditambah kondisi ekonomi yang menggelinding menuju resesi dan sulit untuk diselamatkan atau dikembalikan kepada keadaan semula.

Dalih penyelamatan ekonomi akhirnya dijadikan senjata akhir untuk tetap menerapkan harga vaksin meskipun banyak pihak yang menentang dan menyebut tindakan tersebut sebagai aksi biadab.

Tidak akan terlanjur tenggelam dalam penolakan masyarakat terhadap vaksin, Presiden Jokowi angkat suara. Tanpa memedulikan apa kata para kapitalis dan tanpa menghitung-hitung lagi untung rugi negara, Presiden mengumumkan akan menyalurkan vaksin secara gratis kepada seluruh masyarakat.

Dalam pengumumannya yang hanya berdurasi kurang dari lima menit saja, Presiden bahkan mengimbau kepada Kementerian Keuangan agar mengatur anggaran sedemikian rupa, agar dana yang ada dapat diarahkan terlebih dahulu kepada keperluan pembagian vaksin gratis.


Untung Rugi Kebijakan Vaksin Gratis

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, apakah pemerintah benar-benar siap menerima untung rugi kebijakan vaksin gratis? Atau pengumuman yang diucapkan Presiden hanyalah bentuk “obat penenang” sementara bagi masyarakat yang masih diliputi cemas dengan kondisi Covid-19 yang belum terkendali?

Bila disimak ke belakang, beberapa hari saja sebelum pengumuman vaksin gratis keluar, pemerintah sempat menyatakan siap mengkaji harga vaksin agar tidak memberatkan masyarakat. 

Juru Bicara Vaksinasi Covid 19, menyatakan program vaksin mandiri akan disesuaikan sedemikian rupa agar tidak terlalu mahal. Selain menyasar kebutuhan mandiri, program vaksin juga akan diluncurkan kepada perusahaan-perusahaan.

Wacana yang muncul adalah vaksin gratis hanya akan diberikan kepada sebagian kalangan dan tidak lebih dari 30 persen saja. Sementara kalangan masyarakat mampu atau perusahaan, dianggap mampu pula membayar vaksin. Tujuan vaksin berbayar tidak lain untuk kembali memperkuat kondisi ekonomi yang sedang morat-marit.

Kurang dari 48 jam, Presiden kemudian meralat pernyataan tersebut dan menegaskan vaksin akan digratiskan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Lantas, bagaimanakah untung rugi pemerintah menggelontorkan dana untuk membeli vaksin? 

Hitungan sederhana bila mengambil contoh dari harga vaksin Sinovac yang sudah dibeli sebanyak 1,2 juta dosis, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebut harganya berada di angka Rp211.282. 

Indonesia sendiri sudah berkomitmen memesan tiga juta vaksin Sinovac dari perusahaan asal Tiongkok tersebut.

Bila dijumlahkan, pemerintah mengeluarkan uang sekitar 633 miliar rupiah lebih untuk membeli Sinovac. Belum lagi dengan lima jenis vaksin lain yang dibeli pemerintah, di mana salah satunya diklaim sebagai vaksin termahal dengan tingkat akurasi sebanyak 94 persen, Moderna, yang dibanderol lebih dari 500 ribu rupiah per dosisnya dan merupakan vaksin termahal sejauh ini.


Presiden akan Suntik Vaksin Pertama Kali

Menggaet kepercayaan masyarakat adalah kunci. Prinsip itulah yang kini berusaha diperjuangkan pemerintah agar program vaksin dapat terlaksana dengan lancar dan pandemi segera berakhir. Soal harga sudah aman, kini masalah uji klinis yang masih dipertanyakan. 

Vaksin Sinovac sendiri yang sudah tiba di Jakarta sejak 6 Desember lalu masih menjalani uji tahap akhir walaupun diklaim sudah memiliki tingkat akurasi yang baik.

Presiden Joko Widodo, di momen yang sama saat mengumumkan vaksin gratis, mengabarkan bahwa ia akan menjadi orang pertama yang akan disuntik vaksin jenis Sinovac ini.

Sebenarnya tidak hanya Sinovac, ada lima vaksin lain yang dibeli oleh pemerintah dengan standar harga yang beragam. Mulai dari yang termurah, AstraZeneca dengan tingkat akurasi 70 persen, hingga Moderna.

Sementara untuk tingkat akurasi vaksin terbaik sejauh ini masih dipegang oleh Pfizer yaitu mencapai 95 persen. Kabarnya, pemerintah juga akan membeli vaksin ini tetapi harus ada beberapa hal yang diperhatikan, yaitu vaksin ini harus disimpan pada suhu minus 70 derajat celcius. Indonesia harus mempersiapkan diri agar tidak terjadi kerusakan apabila vaksin ini tiba di tanah air.

Melihat fakta-fakta vaksin di atas, apakah Anda sudah berminat untuk divaksin? (z)