Masyarakat kita sampai sekarang masih berada dalam cengkraman kepanikan akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Namun, di tengah kepanikan kita bersama, pemerintah hadir untuk memberikan semacam obat penenang, kabar gembira yaitu vaksin sudah ada dan semua masyarakat akan divaksin. 

Apalagi kita sudah mendengarkan pengakuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan, bahwa Vaksin Covid-19 buatan Sinovac sangat halal dan suci (lih. KOMPAS, 2021). Bukankah ini adalah kabar gembira bagi kita semua yang telah sekian lama menantikan vaksin Covid-19?   

Kabar gembira ini tidak berhenti sampai di situ. Yang paling menggembirakan adalah vaksin akan diberikan secara gratis kepada semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Maka dari itu, adanya Vaksin Covid-19 memberikan harapan besar kepada seluruh masyarakat untuk segera keluar dari lingkaran kepanikan akibat pandemi ini. 

Menurut harian KOMPAS, bahwa aktivitas vaksinasi massal akan dimulai pada Rabu, 13 Januari 2020 ini. Upaya ini adalah suatu cara untuk mengendalikan penyebaran pandemi Covid-19. Dan Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang divaksin (lih. KOMPAS, 2021). 

Tidak dapat dimungkiri, kalau saja kabar kedatangan vaksin Covid-19 di Indonesia pertama kali hingga sampai pada pendistribusiannya nanti adalah kabar gembira dan bahagia bagi segenap masyarakat Tanah Air. Kegembiraan dan kebahagian itu bukanlah tanpa sebab. Kegembiraan dan kebahagiaan muncul karena dalam waktu yang dekat masyarakat kita akan segera bebas dari bayang-bayang ketakutan yang disebabkan penyakit tak kasat mata ini. Basis masyarakat adalah vaksin Covid-19 sudah ada. 

Saya menduga, bahwa dalam benak masyarakat kita sekarang ini vaksin adalah segalanya. Artinya bahwa dengan sudah divaksin, masyarakat akan kembali menjalankan aktivitas mereka seperti sedia kala. Tidak pakai masker, tidak mencuci tangan, dan mengabaikan menjaga jarak. Persis di sinilah yang menjadi problem kita bersama. 

Dalam hemat saya, bahwa kabar gembira datangnya vaksin Covid-19 hingga sampai pada vaksinasi massal adalah bak pisau bermata dua. Di satu sisi, kabar itu membuat masyarakat sedikit tenang karena vaksin penangkal pandemi sudah ada. Namun di sisi lain, adanya vaksin Covid-19 bisa meninabobokan masyarakat. Masyarakat lantas mengabaikan semua protokol kesehatan yang  menjadi senjata kita selama ini dalam memerangi Covid-19. 

Problem kemudian semakin kompleks ketika masyarakat menganggap vaksin Covid-19 adalah obat yang dapat menyembuhkan. Masyarakat lantas tidak mematuhi semua peraturan protokol kesehatan. Jaga jarak dilanggar. Keluar rumah tidak memakai masker. Tidak mencuci tangan setelah pulang jalan-jalan, dll. Basis utama masyarakat adalah vaksin Covid-19 sudah  datang. Kita akan divaksin semua. Kita boleh kembali beraktivitas seperti biasa lagi. 

Kadang saya berpikir: bukankah sikap masyarakat yang melanggar protokol kesehatan sungguh memprihatinkan? Saya teringat ucapan seorang bapak di sebuah pasar informal di Jakarta (Pasar Klender). “Sekarang saya tidak khawatir lagi dengan pandemi Covid-19, toh obat vaksin sudah ada di Indonesia.”

Perspektif yang keliru tersebut setidaknya mewakili pikiran sebagian masyarakat kita yang memandang Vaksin Covid-19 sebagai obat yang menyembuhkan. Hemat saya, pikiran seperti itu tidak hanya ada di kepala bapak tadi tapi mungkin terlintas juga di kepala sebagian masyarakat kita. 

Tulisan sederhana ini berusaha untuk memberikan cakrawala berpikir bagi masyarakat bahwa obat Covid-19 yang sebenarnya adalah sikap kita sendiri. Sikap yang bagaimana? Tentunya sikap konsisten dalam mematuhi protokol kesehatan.  

Vaksin bukan obat

Pemerintah melalui Satgas Covid-19 menghimbau bahwa vaksin tidak bisa disebut sebagai obat. Vaksin hanya bersifat preventif atau pencegahan. Dia tidak bisa disebut sebagai obat suatu penyakit. Vaksin Covid-19 berguna untuk mendorong pembentukan kekebalan tubuh  agar setidaknya bisa terhindar dari penularan Covid-19 (CNN indonesia, 2020). 

Himbauan yang disampaikan oleh pemerintah bukanlah himbauan tanpa dasar. Pemerintah setidaknya melihat sikap masyarakat kita yang sekarang semakin “bajingan” dengan protokol kesehatan. Hampir di setiap daerah terjadi kasus pelanggaran protokol kesehatan. 

Tentunya kita masih ingat acara Maulid Nabi dan Pesta Pernikahan Putri Rizieq Shihab yang melibatkan kerumunan massa. Pun dalam kerumunan itu, protokol kesehatan dilanggar. Jaga jarak pasti tidak dilakukan. Pakai masker tidak menutup mulut dan hidung. Apalagi mencuci tangan, pasti tidak terpikirkan di kepala. Inilah contoh sikap masyarakat kita yang tidak patut untuk dijadikan contoh.

Kedua kasus tersebut tidak sendiri. Masih sangat banyak kasus-kasus yang menunjukkan sikap acuh tak acuh masyarakat kita terhadap protokol kesehatan. Apalagi sekarang ini vaksin Covid-19 sudah ada di Indonesia dan akan diberikan kepada setiap lapisan masyarakat, pasti menjadi basis dasar masyarakat untuk melanggar protokol kesehatan. Dengan itu, seruan untuk menyadari masyarakat bahwa vaksin Covid-19 bukanlah obat menjadi sangat urgen. 

Mengapa 3M masih sangat penting?

Hemat saya, bahwa 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker) tetap menjadi senjata kita bersama dalam memerangi penyebaran pandemi Covid-19 ini. Selain menjaga daya tahan tubuh agar tetap stabil dan kuat, 3M juga merupakan cara kita untuk tetap bertahan dari musuh tak kasat mata ini (Covid-19). Dengan kita disiplin mengaplikasikan 3M ini, yakinlah kita pasti bisa menang berperang melawan penyebaran pandemi Covid-19 tak kunjung berakhir ini.

Dalam seminar online yang diadakan oleh Dit Promkes pada Rabu, 30 September 2020 mendiskusikan perihal pentingnya disiplin protokol kesehatan. Mengapa penting? Alasan utamanya adalah  karena di Indonesia sendiri kasus Covid-19 melonjak naik setiap harinya. Hal ini tentunya disebabkan satu faktor utama adalah sikap masyarakat kita yang melanggar protokol kesehatan. 

Memang harus kita akui bersama bahwa melakukan sesuatu yang bukan habitus kita misalnya 3M tentu sangat melelahkan. Yang dulunya tidak pernah memakai masker diwajibkan untuk memakai masker. Dulunya punya kebiasaan jabat tangan dan berpelukan saat berjumpa dengan kerabat atau keluarga, sekarang tidak lagi karena harus menjaga jarak. 

Apalagi sampai sekarang ini penyebaran pandemi Covid-19 belum berakhir. Itu semua tentunya membuat kita semua menjadi lelah, bosan, dan sudah muak dengan penerapan 3M.

Selain itu, alasan utama masyarakat kita melanggar protol kesehatan adalah faktor ekonomi. Seperti ungkapan seorang ibu yang pernah saya dengar “Lebih baik mati karena Covid-19 daripada mati karena kelaparan.” Sehingga dalam satu keluarga, setidaknya ada yang harus keluar rumah untuk mencari makan buat anggota keluarga. Entah pulang bahwa virus atau tidak, bukanlah menjadi persoalan. Yang penting keluarga bisa makan. Ini adalah dilema kita bersama. 

Dengan demikian, hemat saya bahwa menerapkan protokol kesehatan adalah obat paling nomor satu dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dengan sama-sama mengaplikasikan gerakan 3M dengan disiplin, yakinlah kita akan segera keluar dari bayang-bayang ketakutan akibat pandemi Covid-19. 

Memang vaksin sangat membantu untuk mencegah penyebaran pandemi ini, tapi itu bukanlah obat. Protokol kesehatan tetaplah menjadi pegangan utama kita. Dalam bekerja dan beraktivitas harus menjaga jarak. Ketika keluar rumah harus memakai masker. Dan kalau sudah pulang rumah harus mencuci tangan.