Rakyat Thailand pada bulan Oktober lalu berduka atas meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej. Bhumibol dianggap sebagai raja yang sangat berwibawa dan mencintai rakyatnya sekaligus adalah raja terlama di dunia. Kecintaan rakyatnya hadir karena ia selalu menjadi penengah dalam setiap konflik politik ataupun masa krisis yang terjadi di Thailand.

Berbagai media di seluruh dunia berusaha untuk mendapatkan gambaran terkait kondisi masyarakat Thailand setelah kehilangan raja mereka. Yang kita dapat lihat dari media-media tersebut adalah bahwa masyarakat Thailand begitu kehilangan. Namun, apakah benar semua masyarakat merasakan hal yang sama atau itu hanyalah gambaran masyarakat di wilayah perkotaan?

Raja Bhumibol telah lama menjadi identitas politik Thailand. Namun apabila kita ingin melihat kembali dengan kritis, krisis politik yang melanda Thailand beberapa tahun belakangan ini justru banyak dianggap sebagai konflik politik identitas antara masyarakat Thailand.

Thaksin Shinawatra, tokoh kontroversial dalam politik Thailand dalam kurang lebih satu dekade terakhir, adalah figur yang selalu diangkat apabila berbicara mengenai konflik politik tersebut. Thaksin dianggap berusaha untuk menandingi kekuatan politik monarki Thailand.

Pandangan umum memperlihatkan terjadinya identitas pemisahan masyarakat Thailand menjadi kaos merah dan kaos kuning. Kaos kuning adalah mereka yang mendukung kekuasaan monarki di bawah raja. Sedangkan kaos merah aliansi yang mendukung kekuasaan sipil yang digerakkan oleh kekuatan Thaksin Shinawatra.

Meskipun sudah tidak berkuasa secara langsung, kekuatan Thaksin tetap bisa dirasakan dalam politik Thailand. Thaksin selalu berhasil menguasai parlemen Thailand lewat pemilu sejak dimulainya abad ke-21.

Menariknya adalah justru basis kekuasaan Shinawatra adalah masyarakat pedesaan di wilayah rural, yang mendominasi jumlah populasi Thailand. Sedangkan pada sisi yang lain masyarakat yang tergabung dalam barisan kaos kuning berasal dari wilayah perkotaan, atau kalangan kelas menengah ke atas, yang lebih mengidentifikasi diri mereka dengan para elite (Marshall, 2014:151).

Selain itu, monarki Thailand juga selalu berada pada posisi yang strategis. Kerajaan akan selalu berusaha menempatkan diri berada di belakang semua pihak baik itu militer, pengusaha, maupun partai politik. Pertanyaannya kemudian, apakah itu semua hanyalah sebuah persaingan identitas politik semata?

Fakta menarik menunjukkan bahwa almarhum Raja Bhumibol adalah raja terkaya di dunia. Crown Property Bureau yang menjadi alat kerajaan dalam mengontrol kekayaan mereka tidak pernah terganggu oleh krisis apapun yang melanda Thailand. Perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh aset kerajaan Thailand sendiri selalu berada di urutan teratas. CPB juga yang memiliki salah satu bank terbesar di Thailand, Siam Commercial Bank (SCB).

CPB dan banyak perusahaan royal lainnya termasuk dalam kategori “special business” dan mendapat dukungan dari negara (Hewison, 2008). Dengan demikian selain memiliki sumber daya manusia dan politik, monarki Thailand juga memiliki sumber daya ekonomi yang begitu besar.

Jaringan tersebutlah yang kemudian coba disaingi oleh Thaksin Shinawatra. Meski telah sepuluh tahun jatuh dari kursi perdana menteri, Thaksin tetap memiliki jaringan ekonomi dan politik yang kuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dibandingkan persaingan identitas politik, politik Thailand lebih diwarnai oleh persaingan memperebutkan sumber daya ekonomi antara jaringan oligarki kerajaan dan Thaksin Shinawatra.

Suksesor Bhumibol

Seluruh dunia menantikan pengganti Bhumibol selanjutnya. Raja yang dianggap memiliki karisma besar itu dirasa sulit untuk digantikan. Akhirnya Vajiralongkorn, putra dari Bhumibol, telah diangkat sebagai pengganti tahta Raja Thailand.

Tetapi putra dari Bhumibol tersebut dianggap tidak memiliki kapasitas dan juga tidak disukai oleh mayoritas penduduk Thailand. Gaya hidup yang dekat dengan gemerlapan dan foya-foya menjadi salah satu sisi negatif yang dilihat dari Vajiralongkorn.

Hal lain yang perlu dilihat dari sosok Vajiralongkorn adalah bahwa ia dan lingkarannya merupakan salah satu pendukung Thaksin pada saat sebelum kudeta tahun 2006 terjadi. Untuk bisa mengontrol ekonomi dan politik secara penuh, Thaksin memerlukan elit kerjaan.

Pada saat itu Thaksin banyak memberikan modal untuk gaya hidup boros dari Vajiralongkorn. Hal ini diinterpertasikan sebagai investasi Thaksin untuk jangka panjang karena raja tidak akan berkuasa selamanya (Marshall, 2014: 156).

Dengan naiknya Vajiralongkorn sebagai Raja Thailand maka akan menimbulkan perubahan peta kekuasaan elite di Thailand. Jaringan oligarki monarki yang selama ini dirajut oleh Bhumibol mendapat ancaman yang serius. Tidak ada lagi tokoh sentral yang mampu mempersatukan mereka.

Militer yang selama ini memanfaatkan kedekatan dengan pihak kerajaan pun akan kesulitan untuk bisa menguasai politik. Aliansi masyarakat yang mendukung demokrasi di Thailand memiliki potensi yang besar untuk bisa bangkit kembali.

Kudeta-kudeta militer yang selama ini terjadi di Thailand selalu melewati restu dari Raja. Selama masa kekuasaannya, Raja Bhumibol memang lebih condong untuk mendukung pemerintahan diktator militer ketimbang kekuasaan sipil yang terpilih lewat jalur yang demokratis (Ungpakorn, 2007:28). Akan tetapi sulit untuk melihat kondisi ini akan bertahan di bawah pemerintahan Vajiralongkorn.

Suksesor raja adalah isu yang sangat penting di tataran elite. Koalisi yang terbentuk antara pimpinan atas militer, kalangan kelas menengah Bangkok, dan dan birokrat sendiri dinilai oleh peneliti Andrew McGregor Marshall tidak hanya untuk menandingi Thaksin, tetapi juga sebagai ketakutan mereka akan suksesor Bhumibol, yaitu Vajilongkorn (2014:159). Tampaknya prediksi ini pun kan menjadi kenyataan saat ini.

Menarik kita simak ke depannya apa yang akan terjadi di politik Thailand. Hal ini juga berkaitan dengan gelombang demokrasi yang ada di Asia Tenggara. Myanmar telah melalui sebuah proses yang berat namun luar biasa. Kepergian Bhumibol jelas akan berdampak pada kekuatan politik kerajaan Thailand, yang akan berdampak langsung pada dukungan terhadap pemerintahan militer.

Perlu disimak apakah ini akan mengembalikan kekuatan politik dari kalangan bisnis besar seperti jaringan Thaksin Shinawatra atau justru membawa Thailand ke arah krisis politik yang semakin tidak menentu.