Utilitarianisme merupakan suatu gagasan mengenai tindakan yang mementingkan kemanfaatan serta kebahagiaan yang bisa dicapai. 

Suatu tindakan dapat dikatakan baik atau buruk tergantung pada apakah tindakan tersebut dapat membawa kebahagiaan atau tidak, dalam arti lain bersifat hedonistik.

Seorang penggagas utilitarianisme, Jeremy Bentham, mengatakan bahwa prinsip dasar utilitarianisme adalah memberikan manfaat atau kebahagiaan terbesar kepada orang banyak atau bisa dikatakan seseorang atau sesuatu dicap utilitarian apabila memilih sesuatu yang menghasilkan kebahagiaan terbesar dibandingkan pilihan alternatif lainnya.

Pada buku yang berjudul “Forms and Limits of Utilitarianism”, David Lyons menunjukkan bahwa baginya utilitarianisme terbagi atas dua bentuk, Simple Utilitarianism dan General Utilitarianism.

Untuk menjelaskan keduanya, Lyons menggunakan sebuah perumpamaan; katakanlah ada dua orang yang sedang melaju menggunakan mobil sedang melintasi sebuah pohon apel.

Orang pertama mengatakan kepada orang kedua bahwa ia menginginkan apel tersebut, namun orang kedua menolak dengan mengatakan bahwa jika ia mengambil apel tersebut maka semua orang akan melakukan hal yang sama.

Pemikiran yang ditunjukkan oleh orang kedua merupakan general utilitarian, alasannya adalah karena ia berpikir jika tindakan seseorang dibenarkan maka hal tersebut juga berlaku bagi orang lain.

General utilitarian menekankan pada tindakan yang dilakukan oleh kebanyakan orang, jadi baik atau buruknya suatu tindakan tergantung pada konsekuensi dari tindakan yang dilakukan oleh banyak orang.

Satu bentuk lain yang tidak jauh berbeda dengan general utilitarian disebut simple utilitarian atau lebih dikenal dengan act utilitarian. Jika sebelumnya general utilitarian berfokus pada tindakan oleh banyak orang, maka simple utilitarian hanya berfokus pada konsekuensi dari tindakan seseorang.

Jika berpegang pada simple utilitarian maka pertanyaan yang diajukan oleh orang kedua akan menjadi ”Apa yang akan terjadi bila aku mengambil apel tersebut?”

Namun bagi Lyons, sampai saat ini (atau sampai buku Forms and Limits of Utilitarianism selesai ditulis) gagasan tentang generalisasi dalam etika tidak sepenuhnya berkaitan dengan utilitas. Baginya generalisasi memiliki keterkaitan dengan dua hal; doktrin etika Kantian dan prinsip dasar generalitas.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, prinsip dasar generalitas berpusat pada tindakan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Ketika suatu tindakan bagi seseorang dibenarkan maka hal tersebut berlaku juga untuk orang lain.

Jika dilihat lebih dalam, prinsip generalitas tidak menjelaskan tindakan mana yang baik (atau buruk), juga mengapa suatu tindakan dapat dibenarkan sedangkan tindakan yang lain tidak. Prinsip generalitas hanya menjelaskan pertimbangan moral secara umum.

Di sisi lain, gagasan Kantian tentang generalisasi tidak sepenuhnya formal. teori Kantian sendiri secara langsung menyangkut penilaian atas persoalan moral. Hal tersebut menyangkut penerapan istilah moral tingkat pertama seperti ‘baik’, dan memungkinkan untuk dijadikan dasar untuk gagasan mereka.

Pada masanya, utilitarianisme pernah mendapatkan kritikan-kritikan atas persoalan ketidakjelasan distingsi antara simple utilitarian dan general utilitarian. Selain itu kritisisme terhadap utilitarianisme juga soal bahwa utilitas bukanlah satu-satunya penentu kebenaran.

Kritisisme pada saat itu memiliki dua aspek, pertama yakni mengenai act utilitarianism yang secara tidak langsung memperbolehkan kita untuk tidak melaksanakan kewajiban seperti membayar hutang, berkata jujur, ataupun menepati janji.

Karena dalam act utilitarianism tindakan yang baik adalah ketika konsekuensi dari tindakan tersebut lebih baik daripada alternatif lain. Contoh kasus yakni ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk berbohong demi kebaikan orang lain dan berkata jujur tapi justru menimbulkan kerugian.

Berdasarkan prinsip dasar act utilitarianism, kita diharuskan memilih untuk berbohong karena konsekuensi dari berkata jujur pun tidak akan lebih baik dari berbohong. Akan tetapi masalahnya justru ketika utilitarianisme menjauhkan kita dari melaksanakan kewajiban.

Aspek kedua dari kritisisme tadi adalah mengenai utilitarian yang tidak bisa menjelaskan dengan pasti unsur sangat baik dari penalaran moral.

Pada masa setelah perang, bersamanya muncul sebuah bentuk baru dari utilitarianisme yang dinamakan rule utilitarianism

Prinsip dasarnya terletak pada aturan yang berlaku, jadi baik atau buruknya tergantung pada seperangkat aturan tertentu seperti misalnya ketika kita berhenti saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.

Kembali pada utilitarian generalization, ketika kita membicarakan tentang generalisasi maka kita memfokuskan diri pada sejumlah tindakan yang sama. Perumpamaan seperti “apa yang akan terjadi ketika semua orang melakukan tindakan tertentu” akan membantu menjelaskan dasar dari generalisasi.

Ada dua term utama yang perlu diperhatikan di sini yakni ‘semua orang’ dan ‘tindakan tertentu’. 

Term ‘semua orang’ dapat memiliki beragam arti, semisal semua orang dalam arti universal, atau semua orang yang terlibat dalam suatu tindakan tertentu, atau semua orang yang memiliki kesempatan untuk melakukan suatu tindakan.

Begitu pula dengan term ‘tindakan tertentu’, sebagai contoh tindakan voting, atau voting untuk kandidat A, atau voting untuk kandidat A ketika sebagian yang lain voting untuk kandidat B’.

Lyons menjelaskannya demikian, term ‘semua orang’ dimaksudkan dengan suatu kelompok tertentu, atau setiap orang yang memiliki kesempatan untuk melakukan suatu tindakan. Setelah kita mengetahui tentang term ‘semua orang’ maka berlanjut pada penjelasan tentang term ‘suatu tindakan’

Bagi Lyons, yang dibutuhkan sekarang adalah penjelasan mengenai tindakan yang mana secara moral berhubungan dengan teori moral tertentu, yaitu general utilitarian

Dibutuhkannya sebuah ‘kriteria relevansi’ yang memungkinkan untuk memilih ciri-ciri tindakan yang bisa disertakan dalam keterangannya untuk tujuan penerapan general utilitarian.

Sehubungan dengan itu, ‘kriteria relevansi’ yang sesuai untuk general utilitarian adalah salah satu yang menurutnya hanya ciri tindakan ‘berkonsekuensi signifikan’ yang relevan untuk penerapan general utilitarian.

Ia mendefinisikan ciri tindakan ‘berkonsekuensi signifikan’ sebagai di mana suatu tindakan tersebut menghasilkan utilitas atau tidak. Menurutnya, seringkali deskripsi yang relevan dari suatu tindakan harus mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh orang lain.

Terakhir dan tidak terlepas dari pembahasan utilitarian generalization, Lyons juga memberikan hasil pemikirannya yang menyatakan bahwa sebenarnya general utilitarian dan simple utilitarian adalah setara.

Maksud yang ingin disampaikan oleh Lyons adalah bahwa general utilitarian merupakan sejumlah utilitas yang dihasilkan dari simple utilitarian

Jika kita melihat kembali pada perumpamaan di awal mengenai seseorang yang hendak mengambil apel, general utilitarian diartikan sebagai sejumlah orang yang hendak mengambil apel yang memiliki utilitas yang sama.

Daftar Pustaka

Lyons, David. 1965. Forms and Limits of Utilitarianism. New York: Oxford University Press Inc.