Apa rasanya menjadi ustadz bujangan di pesantren putri? Apa rasanya berada di tengah santri-santri putri yang rata-rata masih berusia sekolah menengah itu? Bagaimana bersikap dan bertingkah laku di antara hasrat dan norma? Bagaimana ustadz bujangan melalui semua itu?

Ustadz Kamil, Ustadz Hadi dan Ustadz Faisal (semuanya nama samaran) adalah para pengajar sekaligus pengurus sebuah pondok pesantren putri. Hingga saat ini ketiganya bujangan dan menghabiskan waktu sehari-hari mengajar, mendidik, bergaul dan bercengkerama dengan santri-santri putri.

Saya cukup beruntung bisa berbincang-bincang dengan mereka di sela-sela kegiatan mereka yang sangat padat.

Awalnya Ustadz Kamil bertugas di pesantren putra, tapi sejak tahun 2013 ia direkrut oleh Kyai pesantren putri. Sang Kyai mengganggapnya orang yang tepat untuk membantunya mengurusi pesantren, meski tahu dirinya masih muda dan belum menikah. Kebetulan waktu itu pesantren putri memerlukan orang tambahan untuk mengurusi mesjid dan kegiatan-kegiatan ibadah santri putri.

Kombinasi antara kebutuhan pesantren putri terhadap pegawai dan kepercayaan Kyai adalah modal besar bagi Ustadz Kamil bergabung. Tidak tanggung-tanggung, Kyai sendiri yang berbicara langsung untuk merekrutnya, setelah meminta pertimbangan beberapa Ustadz lain.

Tahun 2017 pesantren putri lagi-lagi memerlukan pengurus mesjid karena sebagiannya tidak lagi bertugas di situ. Ustadz Hadi datang sebagai rekrutan baru. Ketika itu ia baru lulus mondok dari pesantren putra dan kebetulan ia dekat dengan Kepala Pengasuhan Santriwati yang membawahi pengurus mesjid pesantren. Adanya promotor menjadi pintu masuk bagi Ustadz Hadi untuk mengabdikan dirinya buat pesantren putri.

Sementara itu, Ustadz Faisal adalah salah satu pegawai rekrutan terbaru pesantren putri di tahun 2019-2020 ini. Ia dulunya seorang lulusan pesantren putra dan baru saja lulus kuliah S1 dan sedang mencari pekerjaan. Ia pun mengajukan lamaran sebagai guru Tahfizh al-Qur`an dan pesantren putri segera menerimanya karena memang sedang membangun program pendidikan yang sedang digandrungi itu.

Saat dipastikan akan bertugas di pesantren putri Ustadz Kamil merasa cukup senang dan bangga mendapat kepercayaan Kyai. Meski begitu, baginya bergaul dengan banyak perempuan adalah hal biasa karena ia mengaku memiliki pergaulan yang luas ketika masih sekolah di SMP dulu sebelum masuk pesantren. Karena itu, tidak sulit baginya untuk menyesuaikan diri berada di tengah-tengah santri-santri putri. Gak gugup-gugup amat!

Beda dengan Ustadz Hadi yang sempat merasa keki berhadapan dengan santri-santri putri. Tapi ia merasa bahagia dirinya dipercaya dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu dengan menjaga sikap dan perilaku terhadap santri-santri putri. Begitu pula dengan Ustadz Faisal yang mengaku gugup berada di kampung perempuan. Tapi karena sebelumnya ia pernah kuliah dan juga sering bergaul dengan mahasiswi, menghadapi santri-santri putri tidak terasa sulit.

Sampai saat ini ketiga Ustadz itu bertugas dalam bidang ibadah, posisi yang memancing ketertarikan santri-santri putri yang membayangkan sosok pria yang relijius dan saleh. Terlebih, Ustadz-Ustadz kita ini ganteng-ganteng, setidaknya begitu dalam pandangan para santriwati yang terisolasi dari pergaulan luas.

Ustadz Kamil menemukan perilaku itu di kalangan santri putri. Karena ia sudah bertugas di pesantren putri selama 6 tahun, ia banyak mengalami kejadian yang menunjukkan bahwa santri-santri putri tertarik kepadanya..

Seorang santri putri, misalnya, pernah menuliskan perasaannya kepada Ustadz Kamil dalam sebuah buku catatan dan buku tersebut dinformasikan oleh teman si santri putri kepadanya. Sebagai seorang guru ia tahu diri dan merespon dengan menegur yang bersangkutan agar lebih fokus dalam belajar. Bahkan, ada santri putri yang dengan jujur menyatakan rasa cintanya kepada Ustadz Kamil tapi pernyataan itu terungkap setelah si santri putri sudah lulus mondok.

Santri-santri putri juga punya cara lain untuk menyatakan cinta pada Ustadz Hadi, yakni melalui surat. Ia pernah menerima surat-surat itu yang biasanya ditemukannya di kantong motor matic-nya. Isinya beragam, ada yang hanya menyatakan kekaguman atau ingin mengenal sang Ustadz lebih dekat, ada pula yang secara gamblang menyatakan cintanya. Selain itu, Ustadz Hadi juga pernah menerima hadiah dari santri putri sebagai bentuk perhatian kepada Ustadz idola.

Tidak sedikit pula santri putri yang menyukai Ustadz Faisal sebagai lelaki, padahal ia baru mulai bekerja beberapa bulan ini. Sebagian santri putri itu seringkali terlihat malu-malu ketika bertemu dengannya dan sebagian diketahui dari informasi dari teman-temannya yang disampaikan kepada Ustadz Faisal. Ia juga pernah menerima surat cinta dari seorang santri putri yang diselipkan di ban motor miliknya.

Meskipun perilaku santri-santri putri itu disikapi ketiga Ustadz dengan bijak demi menjaga nama baik dan marwah sebagai guru, mereka tidak memungkiri bahwa diri mereka sendiri tertarik kepada santri-santri putri tertentu.

Karena telah bertugas di pesantren putri selama bertahun-tahun dan menyadari dirinya masih bujangan dan memiliki hasrat terhadap perempuan, Ustadz Kamil mengaku naksir beberapa santri putri. Namun ia juga sadar harus tetap menahan diri menyimpan perasaan itu dan sedapat mungkin tidak menunjukkannya, baik kepada si santri putri maupun kepada rekan-rekan kerja.

Ustadz Hadi juga menyukai seorang santri putri dan yang dimaksud saat ini masih berstatus sebagai santri, tapi ia mengaku serius soal ini. Ustadz Hadi merasa mantap dengan si santri putri dan ia berniat akan menikahinya selepas lulus belajar di pesantren.

Sedangkan Ustadz Faisal yang baru beberapa bulan ini bertugas di pesantren putri dengan tegas menyatakan tidak tertarik dengan santri putri manapun, ....setidaknya hingga saat ini.

Begitulah yang dialami para Ustadz bujangan dalam interaksi mereka dengan santri-santri putri. Bagaimana hubungan Ustadz-Ustadz bujangan itu dengan para Ustadzah muda yang juga belum menikah dan memiliki kedudukan yang relatif setara dan akses pergaulan yang lebih intens dengan Ustadz-Ustadz itu dibanding santri-santri putri?

Seperti halnya santri-santri putri, Ustadz Kamil juga menemukan sinyal-sinyal cinta dari Ustadzah-Ustadzah itu. Mungkin karena tidak ingin melanggar norma-norma Ustadzah-Ustadzah tidak dapat mengekspresikan ketertarikan pada sang Ustadz, meski kadang tanpa disadari perasaan itu tergambar dari tingkah laku mereka. Ustadz Kamil merespon sikap-sikap Ustadzah itu dengan dingin dan cuek, sebab ia takut Ustadzah-Ustadzah itu malah akan menaruh harapan.

Seiring masa tugasnya di pesantren putri yang telah berjalan beberapa tahun, Ustadz Kamil juga dengan jujur mengaku menyukai beberapa Ustadzah dan berupaya ingin mengenal mereka satu-persatu lebih jauh. Tapi pengenalan itu selalu tidak berlangsung lebih jauh, sebab: “seandainya ada yang cocok saya pasti sudah menikah,” ujar Ustadz Kamil.

Ustadz Hadi bahkan pernah “ditembak” oleh salah satu Ustadzah bujangan, tapi ia merasa belum siap untuk menjalin hubungan percintaan, sehingga proposal itu ia tolak dengan baik-baik. Selain itu, hati Ustadz Hadi sepertinya sudah terpaut dengan gadis yang lain.

Sementara Ustadz Faisal juga menangkap kode-kode suka dari Ustadzah-Ustadzah muda dan sebagai Ustadz baru ia mengaku belum menemukan Ustadzah yang memikat hatinya. “Mungkin suatu saat ada aja,” katanya.

Setelah melalui sekian banyak pengalaman bergaul dengan santri-santri putri dan Ustadzah-Ustadzah, dalam waktu dekat Ustadz Kamil berencana akan menikah dengan seorang gadis yang berhasil merampas hatinya. Gadis itu rupanya alumni pesantren putri tempatnya bekerja.

Ustadz Hadi masih sangat muda dan masih menjalani hari-hari dengan sabar sembari menunggu hari proklamasi tiba. Adapun bagi Ustadz Faisal.... tahun-tahun berikutnya akan menjadi masa-masa penuh tantangan.