Hingga usia Indonesia menginjak angka 74 tahun, situasi negeri ini tetap dinaungi oleh fabrikasi drama yang kontraproduktif. Di lapangan rumput yang panas, warga bersimbah peluh, tenggelam dalam euforia lomba makan kerupuk dan tarik tambang.

Namun, di Jagat Mayantara, publik tak bisa meredam emosi yang membara, seperti halnya jeriken etanol yang disiramkan pada kobaran api. Konflik kali ini berpusat pada sosok dai yang sudah tak asing lagi di mata pemira, yakni Ustaz Abdul Somad Batubara.

Pria Batak ini memantik sumbu prahara dengan menelurkan statement yang kontroversial:

"Apa sebabnya kata ibu itu, mirip macam gini. Saya terlalu terbayang salib, tampak salib. Jin kafir sedang masuk. Karena di salib itu ada jin kafir. Dari mana masuknya jin kafir? Karena ada patung. Makanya kita tidak boleh menyimpan patung. Jin kafir itulah yang mengajak. 

Kalau kau tak sanggup mengkafirkan dia waktu hidup, kafirkan dia menjelang kematiannya. Tak juga sanggup, antar dia ke makamnya pakai wiu wiu wiu … ambulance lambang kafir. Balik dari sini, beli piloks hapus itu ganti bulan sabit merah.”

Setidaknya ada dua poin penting yang bisa kita telisik dari senarai kata-kata yang diungkapkan Ustaz Somad itu. Pertama, tergugahnya individu pada simbol salib adalah hasil orkestra jin kafir, karena patung Jesus yang ditancapkan pada sebilah Salib menjadi tempat persemayaman Jin Kafir.

Poin kedua, mengingat simbol salib adalah simbol kafir, maka konsekuensinya segala jenis objek yang digambari dengan simbol salib dapat membawa umat Islam pada kekafiran. Maka seyogianya dihapus dan diganti dengan simbol yang lebih familiar dengan umat Islam, yakni Bulan Sabit.

Poin pertama sudah banyak dibahas oleh pelbagai pakar ternama. Islam adalah agama yang menolak segala jenis ikon semacam patung dan lukisan, sebagai konsekuensi kelahiran Islam selaku antitesis terhadap paganisme yang dianut warga Makkah.

Para penganut paganisme menggunakan patung sebagai media devosi mereka terhadap entitas gaib yang mereka sembah. Dalam Islam, segala entitas gaib lain Tuhan dan malaikat adalah jin atau setan.

Jika jin atau setan itu ikut dilibatkan dalam aktivitas ritual peribadatan menyembah selain Allah, maka sudah pasti jin atau setan itu kafir, logika sederhana. 

Tak hanya Dewa Pagan Arab yang bisa diberikan stempel 'Jin Kafir', Mahadev Sheev sesembahan orang Hindu India, Kirin yang patungnya sering kali dipasang di depan gerbang rumah orang-orang Cina kaya, bahkan patung Jesus dan Bunda Maria pun juga bisa mendapat cap serupa. Pokoknya patung itu pasti selubung material dari makhluk astral yang kafir.

Sebenarnya tidak hanya Islam, Kristen pun juga memiliki pemahaman yang agak paralel. Dalam diskusi di laman Kristenisasi Terselubung, para pemuda kristiani di sana kerap menyitir perkataan Santo Yohannes dari Damaskus, yang menyebut Allah sesembahan umat Islam tidak sama dengan Tuhan Bapa mereka, berbeda dengan klaim Islam.

Sebagai konsekuensi karena tidak turun ke bumi dalam wujud anakNYA untuk menebus dosa-dosa manusia, masih menurut Santo Yohannes dari Damaskus, maka Allah yang disembah oleh orang Islam sesungguhnya adalah entitas lain sejenis Dewa dan Makhluk Mitologi, seperti Thor Odinsson yang bersenjatakan Palu Mjølnir. Dalam perspektif Islam di atas, Dewa dan Mahluk Mitologi tentunya bisa dikategorikan sebagai sebangsa Jin Kafir.

Sesungguhnya wajar apabila ada pertumbukan antara teologi Kristen dan ajaran Islam.
Karenanya, jika poin pertama yang diucapkan oleh Ustaz Somad dianggap bermasalah, tak ada salahnya apabila minoritas Kristen ingin memerkarakan beliau ke Meja Hijau.

Pendapat Ustaz Somad yang lebih krusial adalah menyoal salib di mobil ambulans. Mungkin kita jarang memperhatikan, apakah ada lambang salib pada tubuh mobil ambulans? Ya, ada. Salib tersebut berwarna merah dengan latar belakang putih.

Sekilas mungkin terlihat mirip dengan bentuk salib pada bendera Yunani yang memiliki masing-masing garis simetris. Tetapi, perlu diketahui bahwa salib Yunani memiliki garis yang lebih panjang dari salib pada mobil ambulans.

Nah, sebenarnya apa lambang salib yang sering dipakai ini? Ya, lambang itu bersumber dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC), sebuah perhimpunan internasional yang anggotanya memberikan pertolongan secara sukarela kepada setiap manusia yang sedang menderita tanpa membeda-bedakan bangsa, golongan, agama, dan politik.

Palang Merah bermula dari pecahnya perang antara Kekaisaran Prancis dan Kerajaan Sardinia melawan Kekaisaran Austria. Pada tahun 1859, di Solferino (Italia Utara), Jean Henry Dunant yang seorang warga Swiss menyaksikan adu kekuatan militer antara Napoleon III & Vittorio Emanuelle di Savoia melawan Franz Joseph von Habsburg-Lothringen menelan banyak korban yang tidak mendapat pertolongan, sehingga timbul ide atau gagasan untuk membentuk lembaga yang memberi pertolongan kepada korban-korban perang. 

Kemunculan salib sebagai lambang Palang Merah berawal dari Konvensi Geneva pada tahun 1864. Dirancang dengan bentuk warna terbalik dari bendera Konfederasi Swiss, sehingga menunjukkan hubungan historis antara Palang Merah dengan Konfederasi Swiss yang menjadi tempat perhelatan Konvensi Geneva.

Salib yang digunakan pada bendera Konfederasi Swiss sendiri sebenarnya memiliki sejarah yang unik. Salib Putih berlatar belakang merah pertama kali digunakan oleh Kanton Schwyz, salah satu Kanton yang berperan dalam mendirikan Konfederasi Swiss. 

Karena loyalitas Schwyz terhadap Kaisar Romawi Suci, Friedrich Rudiger von Hohenstaufen yang saat itu tengah diekskomunikasi oleh Sri Paus, maka Kaisar memberikan status Reichsunnmittelbarkeit kepada Kanton Schwyz sekaligus hak untuk memakai simbol perisai merah dan salib putih.

Ketika Kanton Schwyz bersama Kanton-kanton lainnya di sekitar pegunungan Alpen yang merasa terganggu oleh ambisi Keluarga Habsburg, maka mereka bersatu mendirikan Konfederasi Swiss. Untuk lambang, mereka tak ingin sama dengan Keluarga Habsburg yang memakai lambang salib Santo George atau Keluarga Habsburg cabang Burgundi yang memakai salib Santo Andreas, maka lambang salib Kanton Schwyz pun dipilih sebagai simbol nasional.

Karenanya, memang benar bahwa simbol yang pada akhirnya menjadi lambang Palang Merah, jika ditelusuri, memiliki asal-usul sebagai lambang yang mengandung unsur Kristiani. Ustaz Somad tak sepenuhnya salah.

Tak sepenuhnya salah pula ketika Ustaz Somad meminta lambang Palang Merah diganti dengan lambang Bulan Sabit Merah. Karena lambang Bulan Sabit merah memang ada dan menjadi bagian dari ICRC. Lambang tersebut tersebut muncul ketika Palang Merah ingin mengulurkan tangan ketika Kekaisaran Ottoman terlibat peperangan melawan Aliansi Serbia-Rusia-Rumania-Montenegro-Finlandia.

Peperangan yang dimaksudkan untuk memulihkan kemerdekaan Bulgaria dari penjajahan Ottoman itu menelan berlaksa-laksa korban dari kedua belah pihak. Namun, penggunaan simbol Salib Merah dikhawatirkan akan menyinggung tentara Ottoman yang digilas oleh koalisi negara-negara Kristen, karenanya diciptakan simbol baru, yaitu Bulan Sabit Merah.

Karenanya, jika Ustaz Somad sepandangan dengan tentara Ottoman masa itu, permintaannya bukan suatu hal yang aneh. Cuma, seyogianya beliau ingat bahwa negara-negara berpenduduk mayoritas Kristen pernah menjadi hegemon yang menguasai sebagian bola bumi berkat penjajahan.

Termasuk Indonesia, di momen hari kemerdekaan kita, tentu kita ingat berapa lama kita dijajah Belanda. Konsekuensinya, tentu ada sebagian lapisan masyarakat yang mengikuti agama penjajah Belanda, yaitu Kristen, entah Denom Katolik Roma atau Protestan, baik Kalvinis maupun Lutheran.

Implikasinya, lihat saja kita libur di Hari Minggu, bukan Jumat sebagaimana negara-negara Timur Tengah yang beragama Islam. Sistem ketatanegaraan kita juga bukan Teokrasi berbumbu Syariat Islam, tetapi lebih mirip quasi-sekular dengan beberapa kompensasi terhadap umat Islam sebagai Primus Inter Pares.

Jadi, kemunculan simbol maupun elemen Kristen dalam ruang publik di Indonesia adalah bagian dari penghargaan terhadap liyan, terhadap saudara sebangsa yang kebetulan memeluk agama penjajah, dan terdapat konsensus bahwa kita menghargai pilihan mereka.

Tapi tak salah juga jika ada individu seperti Ustaz Somad yang ingin mengelevasi status dan harkat derajat umat Islam di Indonesia. Hanya, tak perlu teralu berapi-api. Skan lebih baik jika sedikit lebih bijak bestari.