Belakangan ini, ada sebuah fenomena menarik yang muncul di layar kaca, dan juga di cuitan sosial media, sebuah kejadian barbar dan cukup memilukan. Yaitu, saling serang-menyerangnya Ustaz Maheer Ath-Thuwailibi dan Nikita Mirzani di panggung media, sehingga hal ini menyorot perhatian di berbagai kalangan, dan menghadirkan berbagai ragam bentuk komentar.

Pasalnya, si Nikita Mirzani mengolok-olok kepulangan sosok Habib Rizieq setelah bertahun-tahun di Arab Saudi. Ia mengatakan bahwa Rizieq adalah orang biasa dan hanya tukang jual obat. Dan dari sanalah peperangan narasi kejam bermula, ungkapan jelek terhadap Habib menimbulkan reaksi keji dari si Ustaz Maheer.

Reaksi yang dimunculkan bukan saja sekadar membela Habib Rizieq, namun ia balik menyerang si Nikita dengan ucapan kotor, keji, dan tak pantas diteladani. Jika Nikita yang mengolok, kita perlu mengangguk maklum, karena ia bukan siapa-siapa dan tak punya pemahaman agama.

Karena termaktub dalam kaidah, bahwa orang gila, orang ayan, orang kesurupan, baru boleh dihukumi jika ia sudah kembali berakal. Namun beda halnya jika omongan kasar itu berpusar di mulut Ustaz Maheer. Sebagai seorang mubalig dan penyebar dakwah islam, tentu hal ini sangat tidak relevan jika ia lakukan.

Jika Anda melihat ada pertengkaran antara adik dan kakak, siapa yang kerap disalah-salahkan orang tua? Jawabannya secara umum, pasti kakaknya, walaupun kakaknya sama sekali tidak bersalah. Loh kenapa? Sederhana, sebab adiknya belum tahu apa-apa, sedangkan kakaknya 'lebih tahu banyak dan lebih berpengalaman' tentunya.

Bayangkan jika seandainya yang disalahkan itu adiknya, akiid adiknya akan merasa terpojokkan dan segera menangis lebih keras. Di sini kebijaksanaan orang tua biasanya terlihat. Begitu juga halnya ini, Ustaz Maheer yang dikenal sebagai pendakwah, sudah pasti lebih tahu dan berpengalaman. 

Maka sungguh sangat tidak relevan, jika Ustaz Maheer membalas Nikita dengan kata-kata yang tidak sopan, atau malah dengan kalimat yang amat menjijikkan. Sangat mustahil jika berharap keadaan jadi tenang, yang ada keributan kusir dipertontonkan bebas di hadapan khalayak banyak orang.

Dari dulu saya diajarkan islam, sampai saat ini tidak ada satu pun titik yang memperbolehkan umat islam untuk mengolok, mengejek, caci maki, dan menghina orang lain. Siapa pun ia, jika belajar islam asli dari sumbernya. Saya yakin, dia akan mengamini bahwa menghina, berucap kata-kata kotor bukan bagian dari ajaran islam.

Satu pun tidak ada yang mengira bahwa dengan menghina merupakan cara, agar islam terlirik secara positif. Alih-alih terdengar mulia, yang ada orang akan menjadi pobia saat mendengar kata agama. Karena ikon dari agama itu sendirilah yang membuat reputasi ‘agama’ menjadi buruk dan dijauhi. Padahal sejatinya, apa yang ia ungkapkan atas dasar agama, malah bertolak-belakang dari apa yang sebenarnya agama ajarkan.

Tidak satu pun orang di muka bumi ini suka dengan kata-kata hina, kasar, dan menyerap unsur kebencian dan permusuhan. Jika merunut kepada fitrahnya, semua manusia pasti suka kepada ketenangan, ketenteraman, dan perdamaian. Karena sejatinya sudah begitu, makanya islam hadir di tengah-tengah kita semua untuk menyingkap titik kedamaian itu, dan membabat-habis semua unsur kejahatan dan kekejaman.

Itulah sebabnya, sering kita mendengar bahwa Rasulullah SAW diutus ke dunia ini sebagai rahmatan lil ‘alamin, sebagai utusan dari Tuhan yang bertugas untuk melimpahkan kasih sayang kepada sekalian alam. Bukan hanya kasih sayang kepada manusia, sayangnya juga ikut tertumpah pada hewan, tumbuhan, dan juga makhluk-makhluk lainnya.

Ulama itu pewaris Nabi, artinya Anda belum dikatakan sebagai ulama jika tidak mencerminkan akhlak seorang Nabi. Jika Anda melakukan hal yang dibenci Nabi dan berlagak hebat di depan orang, maka jangan heran jika warga netizen ikut nimbrung menuliskan cacian, ataupun mengamini bahwa Anda hanyalah sekedar ustad gadungan.

Dahulu, Allah perintahkan Musa untuk berdakwah ke raja Firaun dengan bahasa yang lembut (qoulan layyinan), agar dengan kelembutan itu, dakwah bisa masuk ke dalam relung hati yang paling dalam. 

Jika kita bandingkan sekarang, Firaun itu pembunuh, pezina, orang jahat, mengaku Tuhan, selalu berbuat kezaliman, tetapi tetap diperintah dengan dakwah lembut dan elegan. Lalu kenapa dia yang dosanya tidak sampai pada taraf dosa Firaun, Anda harus kasar dan menggunakan kata cacian?

Dakwah akan sangat mudah diterima, jika dengan cara yang lembut dan tidak menyakitkan hati. Jika Anda melihat ada yang berdosa, harusnya dinasihati, bukan malah disalah-salahi dan dicaci-maki. Mereka udah salah, malah dicerca sampai emosi. Kalau mereka sudah sakit hati, maka jangan harap mereka mau kembali. Alih-alih kembali, yang ada malah mereka akan ikutan mencaci sampai mati.

Sama sekali saya tidak menafikan bahwa ada dakwah yang mesti disampaikan secara tegas dan keras. cuman kita mesti pandai membedakan antara keras dan kejam. Jika pun dakwah harus disampaikan dengan cara yang keras, setidaknya jangan ungkapkan dengan kalimat kejam yang membuat orang lari ketakutan.

Jika Anda seorang ustad atau ulama, marilah berdakwah dengan kata-kata yang mampu menghunjam jiwa, berdakwah dengan kata-kata yang bisa meneteskan airmata, berdakwah dengan kata-kata yang mampu menyadarkan kita akan kesalahan dan dosa. Jangan sekalipun remehkan manusia yang berdosa, jangan hinakan mereka, jangan buat mereka merasa terpojok dan tak berharga.

Kita tidak pernah tahu seperti apa cerita akhir dari kehidupan. Bisa saja orang yang kita anggap hina, pendosa, atau tidak pernah ibadah, ia berubah menjadi lebih baik, bertaubat, mengakui kesalahan, serta kembali ke jalan Tuhan. Pertaubatan seseorang tidak bisa kita tebak, sebesar apapun dosa seseorang, selagi ia bertaubat, ia potensial jadi lebih baik daripada kita.

Menjadi seorang dai, memang bukan perihal yang gampang. Karena ia akan mewakili gambaran dasar tentang islam. Dikarenakan keruwetannya itu, berhati-hatilah, jadilah ikon islam yang menenangkan, menghadirkan kenyamanan, dan membuat citra islam melambung tinggi di hadapan orang. Eh bukan malah jadi ikon islam bengis, menyeramkan, apalagi memalukan.