Student
1 tahun lalu · 3002 view · 3 menit baca · Filsafat 76100_24600.jpg
Ilustrasi: YouTube

Ustaz Khalid dan Persepsinya tentang Filsafat

Saya bukan mahasiswa jurusan filsafat dan juga bukan orang yang mengerti betul seluk-beluk filsafat, apalagi istiqomah berfilsafat. Tetapi, saat saya main-main ke laman YouTube dan menemukan ceramah ganjil seorang ustaz tentang filsafat, ternyata saya gemas juga.

Bagaimana tidak gemas, sebab sang ustaz, dalam rangka menjawab pertanyaan hadirin yang bertanya tentang hukum filsafat, berkata: “Filosof-filosof ini mengakui adanya dewa-dewa. Mereka tidak akui adanya Tuhan, tapi mereka akui ada dewa. Ada dewa ini, dewa itu.

Saya haqul yakin kalau filosof Yunani kuno Xenophanes atau filosof modern Nietzsche bisa bangkit dari kuburnya, mereka akan menyanyikan “Lah, ustaz ngapa yak?” dan mengajaknya untuk ngopi apa ngopi!

Masih dalam video yang sama, ustaz tersebut juga mengungkapkan bahwa filsafat akan menjadikan seseorang mempertanyakan sebab segala sesuatu. Jika ada seorang anak yang selalu bertanya mengapa ini, mengapa itu kepada orangtuanya, pertanyaan tersebut akan memunculkan perasaan tidak nyaman dan sulit bagi orangtua untuk menjawabnya. Apalagi jika mempertanyakan kepada Tuhan, misalnya, mengapa ada pergantian siang dan malam.

Agak ganjil – dan konyol rasanya pernyataan ustad ini. Di saat para pendidik di lembaga formal tengah berjuang mati-matian untuk menumbuhkan rasa ingin tahu anak dengan berbagai strategi, pendidik umat yang satu ini justru menginginkan sebaliknya. Bisa dibayangkan dampaknya jika mayoritas pendengar ceramah tentang filsafat ini adalah para orangtua.

Di samping itu, ada fenomena hijrah yang kini menjadi trend di kalangan milenial muslim Indonesia. Tentu sah-sah saja jika seseorang ingin hijrah – yang dalam hal ini dapat diartikan sebagai upaya memperbaiki diri.

Hijrah yang saya temui di antara teman-teman saya umumnya ditandai dengan sering mengunggah potongan ayat suci, hadis, video ceramah ataupun quote bijak dari tokoh muslim panutan mereka di media sosial. Nah, salah satu tokoh yang sering muncul dalam unggahan teman-teman saya adalah ustaz yang tadi saya bicarakan.

FYI saja, filsafat, bagi sebagian teman-teman saya dan mungkin beberapa orang masih menjadi hal yang untouchable, tidak tersentuh karena memang tidak ingin menyentuhnya. Filsafat belum dipahami dengan benar sebagaimana isme-isme yang kerap disalahpahami.

Saya husnudzon saja, barangkali ini sebentuk upaya mempertahankan iman. Lebih baik menjaga diri tetap naif daripada iman habis terkikis karena terlalu sering berpikir.

Mungkin dikiranya Tuhan akan gentar jika para hambaNya banyak bertanya. Atau mungkin dikiranya Tuhan akan lebih senang jika bekal akal yang diberikan tidak digunakan oleh manusia. Tetapi, katanya mubazir itu salah satu sifat setan. Eh.

Mendengar ceramah sang ustaz, alih-alih tercerahkan, justru membuat saya jadi ingin mengumpat. Tetapi, saya takut kualat.

Mungkin ustaz sedang khilaf, atau hanya iseng ingin bikin eksperimen sosial via youtube. Soalnya, kacau sekali kalau memang benar ustaz itu melarang anak menjadi kritis hanya karena tidak mampu memberi jawaban yang semestinya.

Tetapi, bagaimana dengan teman-teman yang ingin berhijrah tadi? Bisa-bisa itikad baik untuk memperbaiki diri justru membuat mereka menjadi sosok cupet dan pandai menebar persepsi ngawur karena hijrahnya tidak diiringi dengan sikap kritis.

Meski saya juga kurang paham mengapa dari sekian banyak ustaz yang ada, ada saja pemuda hijrah yang memilihnya menjadi panutan. Tentu bukan masalah siapa pun yang dipilih menjadi panutan, asalkan tidak menyampaikan kekeliruan terlebih dengan jumawa pula.

Kasihan. Sejujurnya itu yang ada di dalam benak saya kepada orang-orang yang menonton ceramah sang ustaz lalu menelannya mentah-mentah. Kendati yang menyampaikannya seorang ustaz, kan tidak ada larangan untuk mengkritisi apa yang ia sampaikan. Justru Tuhan memerintahkan kita untuk selalu tabayyun, bukan?

Namun, rasanya sulit juga kalau sudah terpatri di benak bahwa seorang ustaz tidak boleh dikritik, sebab ia hendak menyelamatkan umat manusia menuju surga. Yang memegang tiket menuju surga tidak boleh dikritik, oke? Dengkulmu.

Beruntunglah, tidak semua tokoh muslim akan sembarangan memberikan ceramah seperti ustaz yang saya ceritakan. Masih banyak yang akan menawarkan pencerahan nan menenangkan tanpa menyalahi fakta demi memperjuangkan agama.

Sebuah tulisan dari Haidar Bagir dalam bukunya yang berjudul Buku Saku Filsafat Islam sangat cocok dengan keadaan semrawut ini.

Kita cenderung melakukan simplifikasi. Terkadang kita pakai kacamata kuda, pada saat yang lain, kita mengidap miopi. Bukan itu saja. Yang lebih parah lagi, batas-batas yang kita paksakan atas persoalan yang sejatinya kompleks itu merupakan wujud sikap-sikap egoistik dan egoistik kita.

Oleh karena itu, selain berisiko menghasilkan rumusan pemecahan masalah yang keliru, kita pun cenderung bersikap fanatik-mati-matian membela pendapat kita tanpa menyadari bahwa pendapat kita itu berpeluang salah. Ada semacam spirit religiusitas dalam makna negatif di dalamnya.

Omong-omong, siapa sebenarnya ustaz tersebut? Namanya ada dalam judul tulisan ini. Iya, Khalid yang itu.

Artikel Terkait