Ignatius Yohanes, nama seorang ustaz yang beberapa hari terakhir kembali menghibur di dunia maya dengan lawakan yang kurang lebih modusnya sama dengan seorang lain yang beberapa bulan lalu mengaku mantan pastor (imam Katolik) lulusan S3 Vatikan, yakni Ustaz Bangun Samudra.

Kedua nama ini sama-sama melejit dengan modus serupa, yakni mantan pemuka agama Kristen yang mualaf, tapi yang terakhir sudah mencapai tingkat kardinal (gawat).

Ustaz mualaf bernama Ignatius Yohanes ini, dalam sebuah ceramah di hadapan jemaah banyak, mengaku sebagai anak kardinal dan lulusan Injil Vatican School [yang entah di mana], di Roma, Italia. Pria ini menerangkan asal-usul keluarganya begini,

“Saya terlahir sebagai anak tunggal, anak semata wayang dari pasangan rumah tangga bahagia dan sempurna, yaitu ayah kandung tercinta adalah Prof. Dr. Ignatius Sastrawardaya, M.Th. Bapak saya untuk tahun ini menjabat sebagai seorang kardinal dan sekaligus guru besar ilmu teologi di Indonesia. Ibu kandung saya seorang penginjil atau evangelis di gereja, yaitu Ir. Maria Laura, M.Th," seperti dikutip Suara.com. 

Kita lupakan soal ayah dan ibu orang ini. Kita fokus kepada ustaz Yohanes sendiri. Dari pernyataan tersebut kita bisa menengarai bahwa Kristen yang dimaksud sang ustaz mungkin Katolik. Tetapi anehnya, dalam video yang sama, beliau juga mengaku ketua misionaris Kristen Indonesia.

Di sini agak membingungkan apakah dia Kristen Protestan atau Katolik sebab ia menyinggung soal Kardinal (pejabat gereja Katolik—selibat—yang bertugas membantu Paus). Pada level ini sangat banyak informasi yang tidak saling terkait yang memberi kesan aneh pada isi ceramah tersebut.

Teror Kebencian 

Umumnya orang Katolik akan membiarkan hal seperti ini sebagai terlalu sepele untuk ditanggapi, kurang canggih, murahan, dan biasanya tidak membuat tersinggung.

Atau paling sedikit mereka akan memberi tanggapan untuk meluruskan beberapa hal yang masih simpang siur seperti informasi dalam video tersebut, misalnya persoalan sederhana mengenai perbedaan Katolik dengan Kristen, apa itu kardinal, mengapa kardinal tidak menikah dan dengan demikian tidak mungkin memiliki anak, dan bahwa di dunia ini tidak ditemukan Injil Vatican School sebagaimana disebut oleh beliau itu, dll.

Sampai di sini tampaknya ruang kebencian itu susah dibentuk. Akan tetapi, tentu saja sikap santai dalam merespons hal seperti itu tidak selalu membantu. Sebagian orang mungkin akan jatuh dalam sikap cuek dan tidak peduli. Dan bila itu terjadi, kita dalam bahaya.

Dalam video ceramah ustaz Yohanes tersebut, beberapa bagian menurut saya cukup serius dan sensitif. Di sana beberapa kali dengan penekanan yang cukup kuat bahwa, sebagai mantan Misionaris Kristen Indonesia (hal ini juga masih sangsi), ia dulu bertugas untuk “menghancurkan” Islam.

Berikutnya, ia lebih spesifik mengatakan bahwa bentuk penghancuran tersebut ialah dengan membuat generasi muda Islam membenci agamanya sendiri. Pernyataan ini tentu, berisiko baik bagi ustaz Yohanes sendiri (karena sepi bukti) tetapi terlebih bagi hubungan antarumat Kristen dan Islam.

Di sini jelas ada permainan kotor untuk menebar kebencian, yakni dengan menyebar teror agar keberadaan orang Kristen dilihat sebagai benda tajam yang mengancam kaum Muslim.

Bila dibiarkan, informasi ini akan bertumbuh dan menguat lalu disusul konflik antarumat beragama yang tidak kita inginkan. Maka itu, kontranarasi sangat penting. Demikian, hal seperti ini bisa kita pakai sebagai ajang dialog, saling mengonfirmasi, tanya jawab, dll. untuk saling mengenal sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang merusak relasi antarumat beragama.

Kristen (Katolik) bukan Ancaman, Tidak perlu takut

Mengenai “anak seorang kardinal”, saya tidak urus terlalu banyak. Anda yang mengerti hierarki Gereja Katolik pasti tertawa. Sebagai bekal saja, dalam Gereja Katolik, hierarki terdiri atas uskup (tahbisan episkopat), Imam (tahbisan presbiterat), dan diakon (tahbisan diakonat).

Untuk menjadi seorang imam dalam Gereja Katolik, seorang laki-laki mesti menempuh (normal) paling sedikit 12 tahun pendidikan setelah Sekolah Menengah Atas (SMA) jika ia non-seminari (tempat pendidikan calon imam setingkat SMP-SMA dengan keunggulan pelajaran Bahasa Latin dan latihan rohani).

Para calon imam ini menempuh tahun rohani sekitar 1-2 tahun akan  menempuh pendidikan filsafat selama 4 tahun (S-1) lalu dilanjutkan dengan pendidikan teologi (S-2) selama 2 tahun. Selanjutnya, mereka akan menempuh tahap selanjutnya, yakni diakonat dan akhirnya ditahbiskan imam.

Sebagai imam, mereka berjanji untuk hidup selibat (tidak menikah). Setelah menjadi imam, ada yang langsung ditugaskan di Gereja, tetapi tidak sedikit pula yang diutus untuk menempuh studi lanjut bahkan hingga gelar doktoral dengan spesialisasi di berbagai bidang, termasuk non-teologi semisal filsafat, ekonomi, dll.

Dari beberapa imam itu, ada yang dipilih oleh Paus menjadi uskup untuk memimpin satu keuskupan, semisal Keuskupan Agung Jakarta dengan uskup Prof. Dr. Ignatius Kardinal Suharyo. Nah, dari para uskup itu dipilih beberapa orang untuk menjadi Kardinal yang membantu Paus.

Jadi kardinal juga tidak menikah, maka ia tidak mungkin memiliki anak. Tapi sudahlah.

Hal lebih penting yang ingin saya katakan di sini ialah bahwa penginjilan atau penyebaran kabar gembira Injil dalam Kekristenan tidak semenjijikan seperti gambaran ustaz Yohanes tersebut, yakni dengan menghancurkan agama lain.

Dalam Gereja Katolik, paling sedikit, seseorang yang ingin menjadi Katolik menempuh proses yang tidak sebentar. Jadi tidak mudah seperti Anda mengganti baju. Seseorang mesti melewati beberapa tahap sebelum dibaptis menjadi anggota Gereja Katolik.

Tahapan tersebut ialah tahap simpatisan (jadi siapa saja yang tertarik disebut simpatisan), mereka yang dari rasa ‘tertarik’ ingin mempelajari lebih dalam akan menempuh pendidikan dasar yang disebut katekumen, lalu kemudian baru dibaptis.

Masa katekumenat itu bervariasi, tapi paling cepat biasanya satu tahun dan paling lama bisa sampai 4 tahun (di Afrika misalnya). Yang lulus pelajaran katekumen pun belum tentu dibaptis sebab Gereja Katolik menekankan kesiapan, bukan saja pengetahuan apalagi jika hanya gejolak sesaat yang menggebu-gebu.

Jadi seseorang yang dibaptis mesti mantap betul untuk menjadi seorang Katolik. Gereja Katolik terkenal dengan semboyan non multa sed multum (bukan jumlah tapi mutu). Karena itu juga, seseorang yang tidak lagi cocok dengan iman Katolik tidak pernah dilarang untuk berpindah agama.

Gereja sangat menghargai pilihan seseorang untuk masuk ataupun meninggalkan Gereja. Maka itu, tidak perlu takut bahwa Gereja akan menghancurkan siapa pun dan agama mana pun.