“Mas, tahlilan itu bid’ah lho.” Celetuk salah  sorang di warung kopi. Mendengar itu, orang-orang yang sedang menikmati kopi dan rokok lantas menoleh ke arahnya. Orang yang asal celetuk itu tidak tahu kalau orang-orang yang ada di sekitarnya itu adalah alumni pesantren. Lalu salah satu dari mereka dengan santai sambil menikmati rokoknya,  menanggapi celutukannya barusan, “Mas, dari mana dapat statemen seperti itu?” tanyanya.

“Saya pernah baca di internet seperti itu, mas,” katanya dengan santai, dan   merasa benar atas apa yang ia katakan. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya dibuat geleng-geleng kepala. Karena, selama mondok bertahun-tahun, mereka baru dengar kalau tahlilan untuk orang yang telah meninggal dunia itu haram.

Dialog di atas hanyalah sebatas ilustrasi yang merepresentasi fenomena keagamaan di tengah masyarakat kita kini. Pesatnya perkembangan internet sangat menguntungkan banyak orang. Dengannya, tak perlu lagi repot-repot buka-buka buku atau bertanya kepada orang yang lebih kompeten darinya akan sesuatu yang tidak ia ketahui.

Tentu masih banyak lagi manfaat yang bisa kita ambil dari internet. Meski begitu, kadang internet juga disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu demi kepentingan pribadi. Artinya, positif atau negatif efek dari ineternet bergantung pada penggunanya.

Pesatnya perkembangan internet juga tak luput dari perhatian sebagian orang yang mencoba menjadi “ustad dadakan”. Umunya, seseorang untuk bisa menjadi ustad ia harus rela belajar di pesantren selama bertahun-tahun. Di sana ia menempa diri untuk mempelajari dan mendalami  ilmu agama sekaligus menyucikan diri dari kotoran dosa. Setelah semua itu sudah ia lewati,  barulah ia disebuat ustad atau kyiai di tengah lingkungannya, meskipun untuk menjadi ustad dan kyiai  sejati  tak semudah itu.

Ustad dadakan yang saya sebut tadi, semakin marak di sekitar kita. mereka bersikap layaknya ustad, memberikan ceramah-ceramah yang dibumbui dengan penggalan-pengglan ayat al-Quran  dan hadis, yang ia ambil dari internet yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Korbannya adalah orang-orang awam yang sekali mendengar langsung ia telan mentah-mentah. Hal ini bukan saja membuat bodoh korbannya, tapi yang perlu dikawatirkan ialah sangat berpotensi merusak ajaran Islam yang benar.

Di tangan mereka, (ustad dadakan) ajaran Islam yang sesungguhnya justru semakin kabur dan hilang. Yang ada, ajaran-ajaran anehlah yang sampai pada diri pendengarnya. Seperti dialog diatas, misal melakukan tahlil itu bid’ah, dan masih banyak lagi. Apa-apa yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul dibidahkan. Dan tak sedikit orang yang mempercayai doktrin ini.  

Saya tidak tahu, apakah mereka itu dibayar atau tidak, yang jelas tindakan mereka akan sangat merusak dan menghilangkan ajaran-ajaran Islam yang suci. Boleh jadi, merekalah agen  pemecahbelah umat Islam. Entahlah.