4 bulan lalu · 1521 view · 3 menit baca · Ekonomi 93434_36323.jpg

Usia Kertas Berapa Lama Lagi?

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.” 

Ungkapan Ali bin Abi Thalib menjadi rujukan beberapa sekolah di Indonesia untuk berganti platform. Seperti halnya yang dilakukan SMP Islam Al-Azhar Cairo Palembang. Sekolah ini menggagas pembelajaran digital berbasis iPad (iPad for Learning). Kabarnya sekolah ini pun menjadi SMP Islam pertama di dunia yang terdaftar di iTunes U. 

Sejak tahun 2015, penggunaan kertas di sekolah ini berkurang. Pembelajaran yang dulunya sangat bergantung pada cetakan buku tulis, kini beralih ke iPad.

Memang tak bisa dipungkiri kita hidup bukan di zaman yang menuntut keindahan tulisan tangan. Dunia yang dihadapi anak-anak kita nanti membutuhkan kecakapan dan penguasaan teknologi.

Selain itu, penggunaan gadget dianggap solusi mencegah kondisi melengkungnya tulang belakang ke samping secara tidak normal (skoliosis) pada anak-anak. Sebagai akibat dari beban berat yang mereka panggul setiap hari.

Bisa dibayangkan, mereka menerima sedikitnya empat mata pelajaran setiap hari. Artinya, jumlah buku yang harus mereka bawa per-harinya tak kurang 16 buah. Termasuk buku catatan, buku latihan, buku PR, dan buku siswa sebagai referensi pada setiap mata pelajaran.

Belum lagi bila dalam satu mata pelajaran memiliki tambahan referensi. Misalnya kamus, ensiklopedia, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan buku yang berisi soal-soal persiapan Ujian Nasional (UN). 

Ini hanya salah satu potret. Tidak sedikit sekolah di Indonesia yang telah beralih dari penggunaan buku cetak ke buku elektronik.


Kemendikbud pun kini menyediakan “Rumah Belajar” yang dapat diakses secara online melalui belajar.kemdikbud.go.id.  Di sana kita disuguhkan berbagai menu pilihan, di antaranya buku sekolah elektronik, bank soal, laboratorium maya, peta budaya, wahana jelajah angkasa, dan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Web Kemendikbud ini dilengkapi fitur, seperti pustaka bahasa dan sastra, serta materi pembelajaran dari para guru berprestasi. Di samping itu, materi pendukung dari komunitas pun turut melengkapi. Lebih membahagiakan lagi “Rumah Belajar”  dapat diakses secara gratis oleh semua orang. 

Tidak hanya dunia pendidikan, hampir semua lini telah berpindah ke ranah digital. Semula informasi hanya terdapat di media cetak, seperti majalah, buletin, tabloid, ataupun koran. Namun, kini kita dapat mengakses informasi lebih cepat melalui media online. Seperti saat ini yang teman-teman lakukan. 

Ketika kita tak mampu menyesuaikan kebutuhan di zaman sekarang, kita akan tergerus. Bahkan takkan mampu bertahan di tengah derasnya persaingan pasar. Dalam kurun singkat, kita akan terganti. Sebagai contoh, Banyak media cetak yang mati.

Meski telah belasan tahun beroperasi bila tidak segera menyesuaikan kebutuhan pembaca, media cetak pasti akan mati. Sebagian dari kematian media cetak diprediksi akibat wabah media online. Belum lagi iklan dan promosi yang menjadi ladang pertumbungan ekonomi industri media cetak kian menurun.


Teknologi seolah menjadi oase bagi para penjelajah yang haus rasa ingin tahu di tengah kesulitan mengakses informasi. Teknologi hadir menawarkan kemudahan. Media online kini tegak gagah, sedang media cetak terus mengalami pukulan dari berbagai arah. Bukan hal yang tidak mungkin kematian satu per satu media cetak akan terjadi.

Namun berbeda dengan nasib surat kabar Venezuela, El Nacional yang dilansir Serambinews (17/12/18) lalu. Perusahaan yang telah terbit selama 75 tahun harus terhenti merilis edisi cetak. Bukan karena tidak mampu menyesuaikan dengan keinginan pembaca, melainkan sulitnya memperoleh kertas. Realitas ini sepertinya berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. 

Kehadiran PT. OKI Pulp & Paper Mills membawa kabar baik bagi eksistensi surat kabar. Sejak 2013 hingga kini, Perusahaan yang merupakan bagian dari Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas telah menghasilkan pulp sebanyak 2 jt ton per tahun bahkan target tahun mendatang naik 500.000 ton dari target sebelumnya.

Beralihnya manusia ke media berbasis digital tak lantas menjadikan kebutuhan mereka terhadap kertas berkurang. Dengan tutupnya berbagai media cetak tidak menjadikan produksi kertas terhenti. 

Kertas tidak digunakan untuk bahan baku media cetak saja. Tentu banyak inovasi yang akan dilakukan untuk bertahan di usia yang tidak muda lagi.


APP Sinar Mas terus mengembangkan industri kertas melalui produk yang dibutuhkan manusia pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, produk kemasan khusus untuk makanan dan minuman yang degradeable, composable, environment friendly. Produk ini terbuat dari kertas karton yang dapat terurai secara alami.

“Produk Foopak Bio Natura yang diusung APP Sinar Mas belum lama ini mendapat penghargaan pada acara Sustainability Awards 2018 di Amerika Serikat sebagai satu produk yang ramah lingkungan,” jelas Sri Purwanto, Head of Internal Communication & Business Support Global Communication Division dalam sambutannya saat mengunjungi PT. OKI Pulp & Paper Mills bersama Quretans beberapa waktu lalu.

Keberadaan kertas tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, meski banyak orang yang berusaha meninggalkannya. Inovasi akan terus dilakukan agar usia kertas bertahan lebih lama. Jika demikian, pernyataan “usia kertas tidak akan lama lagi,” karenanya, kurang berdasar.

Artikel Terkait