Esais
1 bulan lalu · 313 view · 4 min baca menit baca · Politik 95308_94340.jpg

Usai Pilpres, Akankah Kita Tetap Berkelahi?

“Kalau Prabowo yang terpilih, entar TKW disuruh pulang semua. Gajinya kecil. UMR di Indo kecil”. Bisik seorang ibu TKW yang antre di depan saya. Sore itu, kami dan ratusan orang lainnya menunggu giliran nyoblos di salah satu TPS Taiwan.

Benar bahwa Prabowo pernah melontarkan ide untuk memulangkan tenaga kerja yang sekarang ada di luar negeri. Tetapi hal itu dalam nada yang menyenangkan. Bukan menakutkan semacam pulang paksa untuk hidup menderita di Indonesia.

Namun demikianlah realitasnya. Dan kalau mau jujur, berapa banyak di antara kita yang percaya hal-hal menakutkan semacam itu meski tak benar?

Misalnya begini. Kalau Jokowi menang, maka Islam akan surut, ulama akan dipersekusi, dan semua aset negara dijual sudah. Sebaliknya, kalau Prabowo yang menang, maka tahlilan dilarang, Indonesia menjadi Khilafah, dan akan ‘di-Suriahkan’.

Persoalannya, kabar menakutkan tersebutlah yang sudah menjebak kita di dalam perkelahian akar rumput. Perkelahian sesama kita.

Beberapa minggu lalu, markas salah satu ormas di Sleman diserang massa yang sedang pulang dari kampanye akbar salah satu Capres di Kulon Progo. Sebuah perkelahian yang banyak menimbulkan kerugian dan korban luka. Ini melengkapi bentrokan fisik dengan pola serupa beberapa bulan sebelumnya di Kota Jogja, tetangga Sleman.

Lainnya, mari sejenak surut ke belakang, sekitar November 2018, seorang warga di Sampang, Madura, tewas ditembus peluru Baretta karena dipicu percekcokan dukungan Capres di dunia maya. Postingan “siapa pendukung …  yang ingin merasakan tajamnya pedang ini” yang berbalas dengan komentar “saya pingin merasakan tajamnya pedang tersebut”, entah bagaimana-bagaimana kemudian, berakhir pada pembunuhan.


Hanya karena perbedaan dukungan capres, lalu di antara kita saling bunuh! Betapa keterlaluannya perkelahian sesama kita ini. Maka banyak yang bersyukur dengan bilang, “horee.. sebentar lagi pilpres selesai, percekcokan akan hilang dari dunia maya”.  

Logika orang-orang seperti ini amat sederhana. Ketika Pilpres usai, bahan konflik habis. Kalau sudah habis, maka apa lagi yang mau dipertengkarkan? Semua akan kembali tersenyum hidup dalam damai.

Tapi pertanyaannya kemudian, benarkah sesederhana itu? Benarkah setelah sekian lama kita-kita dijebak dalam perkelahian komunal, lalu semua akan reda secara otomatis saat kelingking diwarnai ungu? Adakah usainya Pilpres menyebabkan usai pula kabar menakutkan yang selama ini memaksa kita berkelahi sesama kita?

Anda-Anda boleh berdoa demikian, tapi saya punya alasan kuat kalau tuhan enggan mengabulkan ilusi itu.

Perkelahian di antara kita yang didorong oleh rasa takut tidak terjadi secara tiba-tiba. Ini adalah hasil dari kombinasi sifat khas medsos, pola hubungan kita dan para elite di negeri ini, dan kepentingan pragmatis elite itu sendiri.

Saya yakin kalau Anda-Anda sudah banyak yang tahu bagaimana khasnya sifat medsos. Masing-masing kita adalah pemilik sekaligus editor dan wartawan lapangan perusahaan media massa medsosnya.

Kita bebas menulis berita apa pun, mempublikasikannya, pasti langsung terbaca oleh pelanggan yang ada di list pertemanan bahkan viral, dan bisa berkomunikasi dua arah. Tak ada mekanisme moderasi atau penyaringan berita yang biasa dilakukan editor media massa (sungguhan). Pokoknya, merasa berita itu cakep, diposting sudah. Oh ya, satu lagi, ini semua tanpa biaya. Cukup beli paket data internet saja.

Jagat maya lalu menjadi pasar berita yang kacau. Berita yang benar-benar akurat bercampur dengan yang tendensius bahkan bohong. Si pembeli, tak lain ya kita-kita juga, bebas mencicipinya dengan harga murah, bahkan gratis, tanpa tahu mana yang berkualitas dan mana pula yang tidak. Yang penting berita itu terasa lezat di hati.

Yang kedua, ini lain lagi, medsos telah mengubah kepatuhan institusional menjadi kepatuhan individual.

Dulu, sebelum era medsos, mayoritas kita akan tunduk pada keputusan ormas dan parpol. Sekarang, seiring meningkatnya jumlah elite yang menggunakan medsos — FB, WA, Instagram, Twitter — kita lebih mendengarkan pemikiran dan arahan figur yang dikagumi ketimbang ormas tempat si figur bernaung. 

Itu karena frekuensi pesan yang dikirim dari seorang figur (elite) kepada pendukungnya meningkat. Makin banyak pesan yang dikirim, makin kuat ketundukan kita kepada tokoh tersebut.

Masalahnya, ormas memiliki mekanisme musyawarah yang dipenuhi perdebatan rasional dalam memperhitungkan akibat dari keputusan yang diambil, sedangkan elite personal tidak mesti demikian. Artinya, kepatuhan individual justru bisa merugikan kita karena arahan-arahan yang diikuti tidak selalu melalui pertimbangan yang matang. Tapi ini tidak disadari karena telanjur cinta pada sang elite.

Sementara itu, ini yang ketiga, dalam konteks Pilpres, sebagian besar elite kerap memanfaatkan rasa takut kita demi mendapatkan dukungan. Tampaknya mereka belajar banyak dari kemenangan Trump di US dan kelompok Pro Brexit di UK, di mana jualan rasa takut jauh lebih efektif dibanding jualan kesejahteraan.

Janji kesejahteraan hanya membuat kita tergerak untuk memberi dukungan. Sedangkan rasa takut memaksa kita menjadi militan dan agresif. Kita siap berkorban apa saja. Nyawa pun tak mengapa.

Tiga kondisi di atas yang sesungguhnya terjadi. Ada pasar berita yang kacau di mana kualitas berita tak dapat dipilah. Ada fenomena kepatuhan individual yang membuat kita berpotensi mengikuti pemikiran yang tidak matang. Dan ada pula pengeksploitasian rasa takut yang mengubah kita menjadi militan dan agresif.


Kita kemudian saling berkelahi sesama kita. Berdarah dan terbunuh.

Lalu ada yang bilang, “Pilpres selesai, bahan pertengkaran habis, dunia kembali nyaman.” Ah, ayolah. Kita harus lebih kritis lagi dalam melihat kepentingan elite.

Selesainya pemungutan suara telah disusul oleh perdebatan tentang perolehan suara. Antara quick count lembaga survei vs lainnya. Lalu akan ada yang menang dan ada pula yang kalah. Belum lagi penyusunan kabinet yang sering berisik.

Artinya, bahan sebagian elite untuk mendapatkan dukungan kita tetap ada demi memenangi kompetisi meraih kekuasaan di antara mereka. Dan oleh sebab itu pula, kemungkinan sebagian mereka untuk memanfaatkan rasa takut kita pastinya juga tetap ada.

Sehingga usainya Pilpres tidak berarti selesainya perkelahian di antara kita, perkelahian di akar rumput. Lha wong pasar informasi yang kacau masih tetap ada, serta relasi antara kita dan para elite tetap kuat. Apalagi setelah berbulan-bulan masa kampanye Pilpres, relasi tersebut kian kuat.

Maka ini saatnya untuk bersatu untuk mengakhiri ini semua. Pasif dengan menunggu kedamaian yang datang dengan sendirinya bukan pilihan. Kita harus aktif berjuang supaya lepas dari kondisi buruk ini.

Artikel Terkait