Pernah kamu lihat awan hitam yang berlapis perak di pinggirannya? Kalau kita fokus pada pekatnya, seakan menyiratkan kesuraman dan ketidaknyamanan. Tetapi ada juga orang yang justru fokus pada pinggiran peraknya. Usai awan hitam bergerak pulang, yang terlihat pasti sinar terang. Seperti gambaran harapan, suka cinta, dan hidup yang gembira.

Simak lagu Chet Baker ini:

Look for the silver lining
Whenever a cloud appears in the blue
Remember, somewhere the sun is shining
And so the right thing to do is make it shine for you

A heart full of joy and gladness
Will always banish sadness and strife
So always look for the silver lining
And try to find the sunny side of life

Iramanya jazz sambil diiringi piano Russ Freeman. Lagu dengan lirik sederhana. Fokuslah pada garis peraknya, bukan pada masalahnya. Every cloud has a silver lining. Ini mungkin kondisi kita saat ini. Di saat virus merajalela di inang-inang baru tubuh manusia yang berkeliaran di jalan, kita punya pilihan untuk bertahan.

Kita mengenang semua standar kebebasan yang kita ciptakan kemarin. Berlari bebas di stadiun, ngopi santai sambil bekerja di cafe, membunuh waktu dan mengempeskan kantong uang di mall-mall yang membuat kita disorientasi menuju jalan keluar.

Baju bagus dan dompet tebalmu tak punya tempat lagi saat ini. Mall tutup, sekolah terkunci, tempat kerja tak boleh diinjak lagi, bioskop hanya gelap, gereja dan masjid tertutup rapat. Pelan tapi pasti, virus memukulmu mundur hingga ke garis pertahanan terakhirmu; rumah. Selamat memenjarakan diri dengan nyaman. Sambil memuliakan daster. Simpan rapat-rapat alas bedak dan pemerah pipimu.

Kita bersorak. Tak perlu berkejaran dengan matahari pagi lagi. Kemarin, kita keluar rumah menatap gelap dan pulang pun diiringi pekat. Kau jumpai matahari hanya lewat pantulan jendela, karena gedungmu pun tertutup rapat. 

Sehari dua hari kau bersorak. Lebih dari seminggu kamu pasti sudah rindu pada standar hidup yang kamu ciptakan dulu. Lalu teringat pada cleaning service dan office boy yang gajinya dihitung harian. Pada ojek yang sepi dari orderan.

Saat kamu iseng membuat lukisan dari meses di atas roti tawarmu untuk membunuh waktu, mereka menghitung beras untuk bisa bertahan hingga esok hari. Ini kelam. Kembali kita pada standar yang paling dasar; bertahan hidup. Kau dibunuh lapar atau mati diterkam virus. Itu pilihanmu.

Di sini kita bertahan hidup dengan dua cara; menjadi yang paling malas atau sebaliknya. Tidak ada yang melarang untuk dasteran sambil bengong dari hari ke hari di halaman rumah. Tak ada. 

Tapi kalau mau move on, mandi, berdandan, memakai baju terbaik dan tetap terhubung dengan banyak orang melalui berbagai aplikasi, itu sah saja. Banyak sekolah gratis saat ini--dan bermutu. Tak perlu menggelontorkan dana triliunan untuk  kursus yang bisa kita dapat secara gratis di internet. Modal kuota saja; kamu bisa keliling dunia, mendapatkan ilmu dan teman baru.

Buat aku, ini golden period. Dengan jatah waktu dan situasi yang sama, cara kita menyikapi akan menghasilkan output berbeda.

Kebiasaan yang Berubah

Kamu tahu, kan, aku suka memeluk dan cipika-cipiki saat jumpa? Kebiasaan hangat ini harus kutekan erat-erat bahkan di titik nol. Pandemi membuat kita merasa sentuhan keakraban berpotensi menularkan penyakit, meskipun nanti korona telah berlalu. Tak bertemu dengan banyak orang saja sudah menyiksa, apalagi tidak menyapa dengan pelukan hangat.

Tak bisa memeluk dan cipika-cipiki membuatku rajin menyapa banyak teman di media sosial atau di nomor teleponnya. Bukan sekadar menyapa. Aku ingin memastikan mereka sehat dan masih ada. Aku takut kehilangan teman-teman. 

Berita berguguran dokter dan para medis serta teman-teman dekat kami membuatku trauma. Berita duka hampir setiap hari ada. Aku takut tak bisa merasakan duka lagi dengan kepergian yang beruntun dengan cepatnya.

Kadang kami janjian ngopi bersama. Di rumah masing-masing dan dandan dengan kebaya. Tak lama, hanya 40 menit saja sudah mengobati rindu kami lewat aplikasi yang ada. Menertawakan rambut memutih yang tak sempat disemir lagi.

Oh ya, aku juga berkabar dengan ibuku.

“Uti, aku lebaran rasanya tidak bisa pulang. Kasihan Uti-Kakung kalau aku pulang. Jakarta zona merah,” kabarku pada Uti bulan Maret lalu. Angka positif Covid-19 menanjak drastis. Dari 100 orang per hari hingga mencapai 400 orang di hari-hari berikutnya. Ini mengkhawatirkan.

Padahal biasanya sebelum Ramadan datang kami selalu jumpa. Belanja kebutuhan rumah dan untuk jualan Ibu. Saat lebaran, aku sudah di Yogya beberapa hari sebelumnya, beres-beres rumah kalau nanti ada yang datang bertandang. Tak pernah absen untuk selalu pulang ke rumah Ibu. Apalah artinya lebaran di ibu kota tanpa opor yang dipanasi untuk dimakan lagi di lebaran hari kedua.

Bulan puasa ini, Uti tetap jualan meski tak seramai hari-hari biasanya. Bertemu dengan banyak orang lengkap dengan maskernya. Sudah aku bilang, untuk berhenti dan istirahat sejenak, tapi ia menolak.

Pandemi mengajarkan aku untuk pasrah. Hidup mati Tuhan yang punya, kita hanya bisa berusaha. “Gantian kita yang mendoakan Uti Kakung ya, Le,” ujarku pada anakku. Aku berharap, doa menguatkan mereka.

Lalu apakah aku berkutat dengan daster dan pantat terikat erat di kursiku? Tidak. Kursi jadi penopangku untuk duduk tegak belajar ini dan itu di Zoom, Google Meet atau Teams. Internet aku paksa kerja keras daripada hanya untuk nonton YouTube saja. 

Selama 1.5 bulan sudah puluhan kelas aku ikuti. Dan kini pada fase berpikir, mau jadi apa selepas pandemi nanti. Ibarat kepompong yang sedang berpuasa, benakku selalu bertanya akan jadi kupu-kupu cantik macam apa aku nantinya.

Akhir tahun lalu aku mengurung diri sebulan lamanya di suatu tempat. Sejak subuh hingga mendekati tengah malam diisi dengan kelas-kelas dan diskusi. Ini semacam detox untuk berani melihat ke kedalaman diri sendiri. Belajar untuk mendengar apa sih yang Tuhan ingin katakan dalam hidupku. 

Setelah sepanjang hayat doaku isinya hanya permintaan saja. Dan setelah itu, aku merasa seperti orang lahir baru. Hidup lebih sumeleh dan membalik fokusku. Kemarin aku sibuk mengejar dunia dan lupa pada penciptanya. Mungkin, hanya mungkin, sekarang aku fokus pada pencipta dan bukan pada egoku saja.

Tak tahu kapan pandemi berakhir, tetapi aku ingin seringan kupu-kupu. Mungkin bisa membantu menerbangkan serbuk bunga, membuat mata orang menjadi indah karena perjumpaan dengan kita atau hal remeh yang kelihatannya tak pernah berharga.

Di masa ini, aku ingin selesai dengan egoku.

Batas itu Bukan Tembok

Beberapa kali sempat keluar rumah di masa pandemi ini. Aku terheran ketika penyiar radio siaran dari rumah. Mereka tetap kompak meski siaran dari rumah masing-masing. Kualitas suara tak berbeda dengan siaran dari studio. Pun dengan alur iklan dan informasi yang mengalir seperti biasa. 

Ini sangat tidak mungkin dilakukan pada saat aku menjadi penyiar di akhir 90-an di Yogya dulu. Kalau bisa, enak sekali. Aku tak perlu menerobos jalan raya Yogya-Solo, beradu cepat dengan bis dan truk keluar kota yang asapnya sering membuat asmaku kambuh.

Teknologi memudahkan kita. Lihatlah acara Kick Andi di televisi. Meski tak di studio, acara tetap berjalan dengan bantuan teknologi di rumah masing-masing. Dari puluhan kelas online yang aku ikuti selama hampir dua bulan ini, ada 3 konser sempat aku nikmati, di antaranya Andrea Bocelli.

Pun Didi Kempot yang mengajak bergoyang sadboys dan sadgirls tanpa terkendala jarak. Konser dari rumah ini, selain menghibur, juga berhasil menggalang donasi lebih dari 7 miliar. Sumbangan berarti dari generasi berani patah hati. Jauh lebih berarti dibandingkan kita yang hanya melontarkan kritik dan cela pada pemerintah.

Terbukti. Batas gerak itu bukan tembok. Tapi nyala semangat yang berkobar. Tak ada bisa yang memenjarakan pikiranmu, juga hatimu. Kecuali kamu sendiri yang sudah mengunci dan lupa di mana menaruh gembok. Tanpa semangat untuk berdamai dengan keadaan lalu berkarya, kamu sudah mati sebelum pandemi.

Kalau ada pertanyaan mau jadi apa selepas pandemi nanti? Aku akan jawab; selesai dengan diriku, selesai dengan egoku, lalu terbang tinggi. Virus kecil ini membantu kita menjadi manusia baru.

Ingat, hidup adalah pesta. Harus dirayakan.